Tanah Warisan 147

06 Jan 2002,  Dengan demikian, maka tidak seorang pun yang dapat menahan Bramanti. Ia berlari menyusur sungai.

Meloncat dari batu yang satu ke batu yang lain, dan kemudian menyeberangi arus yang tidak terlampau deras. Semakin lama semakin jauh. Ketika Bramanti kemudian memanjat tebing diseberang dan naik ke bendungan, maka Temunggul pun baru menyadari seluruh keadaan.

“Anak setan,” ia menggeram. “Marilah kita tolong anak itu.”

Temunggul dan kawan-kawannya kemudian menuruni tebing yang agak curam.
Dengan dada yang berdebar-debar mereka mendekati kawannya yang hampir
menjadi pingsan. Beberapa bagian tubuhnya terluka oleh goresan batu-batu
padas yang menjorok di tebing.

“Bagaimana hal ini dapat terjadi?” bertanya Temunggul.

Kawannya yang terluka itu menggelengkan kepalanya. “Entahlah,”
jawabnya.

“Kau kurang hati-hati,” sahut yang lain.

“Tidak,” potong Temunggul. “Memang Bramanti adalah seorang yang sangat
licik. Kali ini ia berhasil melepaskan diri dari tanganku. Tetapi tidak
lain kali.”

“Aku telah dilukainya,” desis orang yang terluka itu. “Aku harus
membalasnya. Aku tidak akan dapat menunggu terlampau lama. Apabila aku sudah
baik, aku akan segera mencarinya. Kemana saja. Kalau perlu aku akan
datang ke rumahnya.”

Temunggul mengerutkan keningnya. Dan seorang kawannya yang lain berkata
pula. “Aku sependapat. Kalau perlu kita datangi rumahnya. Anak itu
kita ambil saja dan kita bawa kemana kita inginkan. Tetapi hati-hati.
Ternyata ia memang sangat licik.”

Anak-anak muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan tiba-tiba saja
Temunggul berkata, “Kita pergi ke Kademangan. Mereka akan melihat kau
terluka. Kita dapat mengatakan apa saja. Misalnya kita dapat mengatakan,
bahwa Bramanti telah mulai dengan usaha pembalasan dendamnya, dengan
mendorong kau ke dalam jurang ini. Dengan demikian maka pembalasan kita
kepadanya akan sepengetahuan Ki Demang dan Ki Jagabaya. Sebab apabila
kita bertindak sendiri, mungkin oleh Ki Jagabaya kita dianggap bersalah.”

Kawan-kawannya berpikir sejenak. Salah seorang dari mereka berkata,
“Tetapi Bramanti bukan seorang anak yang bisu. Ia dapat mengatakan yang
lain. Ia dapat mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.”

“Tidak mengapa. Aku yakin bahwa mereka akan lebih mempercayai kita
daripada Bramanti.” sahut Temunggul. “Nah, bagaimana? Kita tidak perlu
membalasnya dengan bersembunyi-sembunyi. Akulah yang akan melakukannya
dihadapan Ki Demang, Ki Jagabaya dan dihadapan orang-orang Kademangan Candi
Sari. Biarlah mereka melihat, bahwa kita memang tidak menganiayanya.
Nah, aku kira Bramanti akan benar-benar menjadi jera dan tidak akan
berani berbuat lagi.”

“Kalau saja Ki Demang dan Ki Jagabaya mempercayai kita,” gumam salah
seorang kawannya.

“Aku yakin,” sahut Temunggul, kemudian kepada kawannya yang terluka ia
bertanya, “Bagaimana pendapatmu?”

“Baik. Aku sependapat.” anak muda itu berhenti sejenak lalu. “Tetapi
bagaimana dengan aku sekarang? Luka-lukaku terasa terlampau pedih.
Mungkin tangan kiriku terkilir pula. Aku sama sekali tidak tahu bahwa
Bramanti mempunyai akal yang begitu licik dan licin.”

“Oh,” Temunggul berjongkok di samping kawannya itu, “Marilah aku
bersihkan luka-lukamu dengan air sungai. Kemudian kita pulang bersama-sama
untuk mencari obat.”

Anak muda itu tidak menjawab. Tetapi ketika Temunggul dan
kawan-kawannya mencoba mengangkatnya, ia menyeringai menahan sakit.

“Tahankan,” desis Temunggul. “Sebentar lagi kau akan mendapat
kesempatan untuk membalas.”

“Aku akan membuatnya cacad seumur hidupnya.”

Temunggul pun kemudian memapah orang itu pergi ke air yang mengalir
gemericik di sela-sela batu. Kemudian meletakkannya duduk di atas sebuah
batu. Seperti memandikan anak-anak. Temunggul membersihkan anak muda
itu. Menghilangkan pasir dan lumpur dari tubuhnya, mencuci luka-lukanya
yang berdarah dan memijit-mijit punggungnya yang serasa patah
perlahan-lahan.

Leave a Reply