Tanah Warisan 148

07 Jan 2002,  Mereka memerlukan waktu yang cukup lama untuk menunggu anak itu mampu berdiri dan berjalan sambil bersandar kepada kawannya. Dengan susah payah mereka berjalan menyusur sungai, naik ke bendungan yang tidak
setinggi tebing, kemudian dari bendungan mereka merayap perlahan-lahan ke atas
tanggul.  Temunggul menarik nafas ketika mereka berdiri di atas tanggul sungai
itu. Kemudian dengan lantang ia berkata, “Sekarang kita langsung ke Kademangan,”
“Kenapa?”

“Biarlah setiap orang Kademangan melihat sendiri luka-luka ditubuhmu.
Biarlah mereka melihat darah itu. Dengan demikian maka hati mereka akan
segera terbakar daripada mereka melihat kau kelak, apabila kau sudah
sembuh.”

“Tetapi punggungku sakit sekali.”

“Justru karena itu.”

Anak muda yang terluka itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia
berkata, “Baik. Baiklah. Aku sependapat.”

Maka mereka itu pun kemudian berjalan perlahan-lahan menuju ke
Kademangan. Disepanjang jalan mereka telah bersepakat untuk membuat ceritera
palsu tentang Bramanti. Apapun yang mereka lakukan namun mereka ingin
mendapat kesempatan untuk melepaskan dendam mereka kepada Bramanti.

Ternyata usaha mereka sebagian terbesar dapat berhasil. Orang-orang
yang kebetulan melihat Temunggul memapah seorang kawannya segera bertanya,
apakah sebabnya kawannya itu terluka.

“Kami akan mengatakannya di Kademangan,” jawab Temunggul.

“Kenapa mesti di Kademangan?” bertanya orang itu.

Temunggul menggelengkan kepalanya, “Ada sesuatu yang kami anggap
penting.”

Orang itu tidak bertanya lagi. Tetapi ia bergumam di dalam hatinya.
“Seandainya aku tidak mempunyai keperluan lain, aku akan memerlukan pergi
ke Kademangan.”

Namun demikian, ada juga satu dua orang yang memerlukan pergi untuk
sekadar mendengar sebab dari luka-luka itu.

Di Kademangan, Ki Demang segera memanggil orang-orang terdekat.
Termasuk Ki Jagabaya atas permintaan Temunggul. Beberapa orang pengawal dan
anak-anak muda yang lain.

“Katakan Temunggul,” berkata Ki Demang kemudian. “Kami ingin segera
mengetahui, apakah yang telah terjadi. Kalau hal ini tidak kau anggap
penting, aku kira anak ini tidak akan kau bawa kemari selagi ia masih
menyeringai kesakitan.”

“Ya Ki Demang, justru ia masih dalam keadaannya, ia aku bawa kemari,
supaya Ki Demang, Ki Jagabaya dan orang-orang yang lain melihat apa yang
telah terjadi.”

“Ya, katakanlah.”

“Ki Demang, Ki Jagabaya dan kawan-kawan,” berkata Temunggul, yang
meskipun agak gemetar, namun kemudian ia dapat berbicara dengan lancar juga.
“Ternyata Bramanti telah mulai.”

“Apa maksudmu?”

“Seperti yang kita duga semula. Ia telah mulai melakukan balas dendam.
Yang pertama-tama menjadi sasaran adalah anak ini. Bramanti menyangka
bahwa ayahnya ikut serta melakukan pembunuhan kira-kira sepuluh tahun
yang lalu.”

Dada Ki Demang berdesir. Apalagi Ki Jagabaya. Wajahnya segera menjadi
merah padam. “Kenapa anak itu?” bertanya Ki Jagabaya.

“Ia terperosok ke dalam pereng sungai di gerojokan,” jawab Temunggul.

“Ya, kenapa?”

“Itulah yang akan kami katakan. Bramantilah yang mendorongnya. Selagi
anak itu berdiri di tanggul, tanpa diketahuinya Bramanti mendekatinya.
Tiba-tiba ia didorong masuk. Untunglah, bahwa ia masih menyadari
keadaannya, sehingga ia mampu menempatkan dirinya. Meskipun demikian, inilah
keadaannya.”

“Setan alas,” Ki Jagabaya menggeram. “Bukankah ia sudah berjanji, bahwa
ia tidak akan melepaskan dendamnya itu?”

“Tetapi sekarang Ki Jagabaya melihatnya sendiri.”

Wajah Ki Jagabaya menjadi seakan-akan terbakar. Hampir saja ia langsung
meloncat ke rumah Bramanti, seandainya Temunggul tidak berkata, “Nah,
marilah kita bicarakan, apakah yang sebaiknya kita lakukan.”
(Bersambung)-o

Leave a Reply