Tanah Warisan 149

08 Jan 2002,  “Kenapa ia memilih anak itu?” bertanya Ki Demang.
“Agaknya Bramanti tidak memilih. Adalah suatu kebetulan ia melihatnya berdiri di atas tanggul. Diam-diam ia mendekatinya dan mendorongnya jatuh. Kalau anak itu mati, maka rahasia itu tidak akan diketahui oleh orang lain.”

“Bodoh,” potong Ki Jagabaya. “Kelincipun tidak akan mati. Paling parah,
adalah karena goresan-goresan batu-batu padas itu.”

“Bramanti memang anak licik yang bodoh. Ia menginginkan anak itu mati
seketika. Orang akan menganggapnya sebagai suatu kecelakaan saja.
Demikian ia akan mencari kesempatan berturut-turut.”

“Aku akan menangkapnya,” geram Ki Jagabaya.

“Tidak perlu Ki Jagabaya. Aku akan dapat melakukannya. Aku adalah
pemimpin pengawal Kademangan ini. Aku akan mengajarinya agar ia tidak
melakukan untuk lain kali.”

Ki Jagabaya mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia menggeram, “Akulah
yang bertanggung jawab.”

“Tetapi masalah anak-anak serahkanlah kepada anak-anak. Aku akan
menyelesaikannya,” Temunggul berhenti sejenak. “Sebenarnya aku akan segera
menyelesaikannya. Tetapi aku memerlukan datang kemari untuk meminta
dukungan atas tindakanku. Sekadar untuk diketahui dan dibenarkan.”

Ki Jagabaya mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berpaling kepada
Ki Demang.

“Biarlah anak-anak menyelesaikannya,” desis Ki Demang. “Tetapi jangan
kita biarkan mereka pergi sendiri. Kadang-kadang aku bercuriga, apakah
Bramanti itu bukan sekadar seseorang yang dipergunakan oleh orang lain
di Kademangan ini.”

“Ya. Aku pun mencurigainya,” sahut Ki Jagabaya. “Bahkan mungkin ia
adalah seseorang yang sengaja ditanam oleh Panembahan Sekar Jagat, karena
kebetulan ia orang Kademangan ini.”

Ki Demang menggeleng. Tetapi ia tidak berkata apapun juga tentang itu.
Bahkan kemudian ia berkata, “Marilah, aku, Ki Jagabaya dan beberapa
orang akan melihatnya.”

“Terima kasih Ki Demang. Aku akan minta ijin dan kesempatan untuk
memberinya peringatan dengan caraku.”

Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. “Baiklah. Tetapi kami yang
tua-tua tidak akan melepaskan kalian.”

“Aku akan mengambilnya di rumahnya.”

“Terserah.”

Sebelum mereka berangkat, seorang naik ke pendapa Kademangan, lalu
duduk di antara para pengawal. Sejenak ia berdiam diri, namun kemudian
sambil berbisik ia bertanya kepada seseorang yang terdekat. “Apakah yang
telah terjadi?”

Maka diceriterakannya apa yang dikatakan oleh Temunggul, sehingga anak
muda itu, Panjang, terperanjat.

“Aku melihatnya ketika ia pergi ke sungai,” Panjang menjadi ragu-ragu.
“Tetapi apakah betul Bramanti melakukannya?”

Dalam keragu-raguan itu ia pun kemudian berdiri karena beberapa orang
yang lainpun berdiri juga.

“Kemana kita akan pergi?” bertanya Panjang kepada orang disebelahnya.

“Mengambil Bramanti,” jawab orang itu.

Panjang mengerutkan keningnya. Tetapi ia kemudian diam saja. Meskipun
demikian, ia tidak begitu yakin, bahwa sebenarnya demikianlah yang telah
terjadi. Tetapi ia tidak akan dapat mengatakannya.

“Begitu besar perhatian orang-orang Kademangan ini sehingga Ki Demang
dan Ki Jagabaya memerlukan pergi,” Panjang bergumam di dalam hatinya.
“Kenapa Ki demang tidak memerintahkan saja salah seorang pergi untuk
mengambil Bramanti?”

Namun sebelum ia menyatakan keheranannya itu, orang disebelahnya telah
mendahului. “Ki Demang dan Ki Jagabaya bercuriga. Apakah tidak ada
kekuatan lain dibelakang Bramanti.”

Panjang mengangguk-anggukkan kepalanya. Pertanyaan itulah agaknya yang
telah menarik perhatian para pemimpin dan bebahu Kademangan ini.

Maka sejenak kemudian sebuah iring-iringan kecil telah keluar dari
halaman Kademangan, berjalan dengan tergesa-gesa ke rumah Bramanti. Anak
muda yang terluka itu pun ikut serta, meskipun ia masih harus dipapah
oleh orang lain.

Leave a Reply