Tanah Warisan 150
Tue. December 4, 2007Categories: Tanah warisan
09 Jan 2002, “Beberapa hari yang lalu, Ratri juga tergelincir di pereng sungai itu,”
tiba-tiba saja Panjang berdesis.“Tetapi itu adalah salahnya sendiri. Ia berlari-lari dan bekejaran di
sepanjang tanggul. Kemudian ia tergelincir. Untung bahwa tebing itu
tidak sedalam tebing digerojogan.”
Panjang mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kepalanya yang
terangguk-angguk itu telah dipenuhi oleh bermacam-macam persoalan dan
pertimbangan.
Apalagi apabila ia menghubungkan Bramanti dengan dugaannya selama ini,
maka apa yang terjadi itu sama sekali tidak masuk di akalnya.
Meskipun demikian Panjang berjalan saja di dalam iring-iringan kecil
itu menuju ke rumah Bramanti.
Sementara itu Bramanti dengan nafas terengah-engah masuk ke dalam
kandangnya. Segera ia menghempaskan dirinya sambil memijit-mijit kakinya.
Meloncat sedemikian tingginya, terasa juga kakinya agak menjadi sakit.
“Hem,” ia kemudian berdesah. “Aku kira pasti masih akan ada akibat dari
permainan ini,” desisnya.
Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya diluar sadarnya. Namun ia
menjadi bimbang. Apakah yang sebaiknya dilakukan, apabila sesuatu akan
terjadi?
Tanpa dikehendakinya, Bramanti menengadahkan wajahnya. Meskipun ia
tidak melihat sesuatu, namun ia tahu benar, bahwa di atas belandar itu ia
menyimpan sebuah pedang pendek.
Bramanti terkejut ketika ia mendengar langkah seseorang mendekati
kandangnya. Kemudian sebuah kepala tersembul dari balik pintu.
“Oh,” Bramanti pun berdiri sambil mempersilakan. “Apa paman akan masuk
ke dalam kandang ini?”
Ki Tambi tersenyum. Jawabnya, “Apa salahnya, bukankah aku sudah sering
masuk dan duduk di dalam kandang ini.”
Bramanti pun mencoba tersenyum pula, meskipun senyumnya terasa hambar.
“Apakah paman akan bertemu ibu?”
“Tidak, kali ini tidak. Aku hanya sekadar mampir,” Ki Tambi berhenti
sejenak. Tatapan matanya tiba-tiba hinggap pada pakaian Bramanti yang
agak tidak wajar. Meskipun ia mamakai kain, tetapi kain itu telah menjadi
basah.
“Paman melihat pakaianku yang basah?”
“Ya. Apakah kau terperosok ke dalam parit?”
Bramanti menggeleng, “Tidak paman. Tidak hanya sekadar parit. Tetapi
aku telah terjerumus ke dalam suatu kesulitan.”
Ki Tambi mengerutkan keningnya. “Apakah yang telah terjadi?”
Bramanti menarik nafas. Kemudian diceriterakannya apa yang telah
terjadi atasnya, dan apa yang telah dilakukannya.
Ki Tambi mengerutkan keningnya. Hampir saja ia berteriak kegirangan.
Dengan demikian ia mendapat bukti bahwa Bramanti memang bukan orang
kebanyakan meskipun caranya berceritera terlampau sederhana.
“Tetapi perhitungannya yang tepat, dan kemampuannya meloncat dari
tebing tanpa mengalami gangguan apapun adalah suatu pertanda bahwa ia memang
luar biasa,” desis Ki Tambi di dalam hatinya.
(Bersambung)
Ok, what is the deal with so many comments being completely off topic? Is this an ADHD Forum?