Tanah Warisan 161
20 Jan 2002, “Temunggul,” terdengar suara Bramanti yang berat. “Cepat, lakukanlah supaya kau mendapat kepuasan.
Tidak usah dengan perkelahian dan segala macam alasan tentang seorang laki-laki.
Bukankah kau sudah mendapat kepastian bahwa aku tidak akan dapat melawanmu.
Kau sudah melihat beberapa kali, aku tidak dapat melawan siapapun
di Kademangan ini. Bahkan terhadap Suwela pun aku tidak dapat berbuat apa-apa
ketika ia mencambuk aku di arena. Apalagi kini kau sendiri yang akan melakukannya.
Bukankah itu tidak akan berarti apa-apa? Apakah kau sekadar ingin mendapat
julukan bahwa kau berbuat dengan jujur sebagai seorang laki-laki tanpa
mempergunakan pengaruh kekuasaanmu?”
Pertanyaan itu bertubi-tubi memukul dada Temunggul,
sehingga Bramanti masih saja mengucapkan kata-kata itu,
Temunggul berteriak, “Diam, diam kau.”
“Kenapa Temunggul,” bertanya Bramanti. “Kenapa kau tidak berani mendengarkannya?
Sudah tentu bahwa kau tidak akan berbuat demikian.
Sudah tentu kau tidak hanya akan sekadar memanfaatkan kemantapan anggapanmu
bahwa aku pasti tidak akan mampu melawan. Apakah memang kau hanya berani
berbuat demikian terhadap aku dan orang-orang yang tidak berdaya lainnya?”
“Diam.”
“Kalau tidak, maka kau pasti akan mengambil jalan lain yang lebih mudah bagimu.
Mengikat aku, kemudian memukuli sepuasmu.
Tidak usah dengan sebuah barisan seperti hendak pergi ke peperangan,
karena kau tidak memerlukan orang yang akan melihat pameran kemenanganmu.
Tapi sayang, kemenangan atas seseorang yang memang sudah diketahui tidak berdaya.”
“Diam kau, diam!” Temunggul tidak dapat menahan diri lagi.
Dengan tangkasnya ia meloncat dan menampar mulut Bramanti sekuat-kuat tenaganya.
Bramanti terdorong selangkah surut. Tetapi kemudian ia berdiri tegak.
Kedua kakinya yang renggang seakan-akan jauh terhujam ke dalam tanah.
Meskipun demikian Bramanti tidak bersikap untuk melawan. Bahkan ia masih berkata,
“Lakukanlah sepuasmu. Aku tidak akan melawan.
Kejantanan yang kau sebut-sebut sudah tidak berarti lagi.
Setidak-tidaknya bagiku, bagimu sendiri dan bagi anak yang terluka itu,
karena mereka mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Tetapi biarlah orang-orang yang dapat kau kelabuhi itu memuji di dalam hatinya,
bahwa pimpinan pengawal Kademangan Candi Sari adalah seorang laki-laki.
Temunggul menjadi gemetar. Tetapi justru ia mematung ditempatnya.
Tambi yang menahan nafas melihat pukulan pertama Temunggul,
menjadi semakin berdebar-debar. Ketika ia melihat sikap Bramanti,
maka ia pun menarik nafas dalam-dalam. Orang tua itu berdesis didalam hatinya,
“Anak itu bukan saja anak yang luar biasa.
Pukulan Temunggul sekuat-kuat tenaganya itu seolah-olah sama sekali tidak terasa.
Tetapi anak itu adalah juga anak yang bijaksana.
Ia mampu bersikap jantan tanpa mengadakan perlawanan. Ia mampu menahan diri
dalam sikapnya, sampai suatu batas tertentu. Bukan main. Aku tidak akan
mampu berpikir sejauh itu dan menempuh kebijaksanaan sedemikian.”
Di tempat lain Panjang mengerutkan keningnya. Ia melihat sesuatu yang
aneh telah terjadi. Meskipun Bramanti sama sekali tidak melawan,
tetapi justru ia melihat kemenangan terpancar di wajahnya.
Dan justru Temunggullah yang menjadi gelisah dan kebingungan,
sehingga ia masih saja berdiri gemetar ditempatnya.
Ki Demang dan Ki Jagabaya mengikuti perkembangan keadaan itu dengan seksama.
Sejenak mereka mengerutkan keningnya, namun sejenak kemudian terasa sesuatu
bergetar di dalam dada.
Ki Jagabaya yang tidak suka terlampau banyak berpikir itu,
kali ini tidak dapat melepaskan diri dari persoalan yang tengah dihadapinya.
Mau tidak mau ia harus membuat pertimbangan-pertimbangan.
Dan hampir di luar sadarnya ia berdesis, “He, aku menjadi ragu-ragu.
Apakah yang sebenarnya terjadi?”
Posted on December 5th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan 207 Views





Leave a Reply