Tanah Warisan 162

21 Jan 2002,  Kata-kata Ki Jagabaya itu benar-benar telah mengejutkan semua
orang yang berada di halaman itu. Serentak mereka berpaling memandangi wajah Ki Jagabaya yang bimbang.
Tetapi Ki Jagabaya adalah memang seorang yang lugu.
Seorang yang berterus terang. Karena itu,
maka ia pun segera melangkah maju dan bertanya kepada Temunggul.
“He, Temunggul. Aku memang tidak mampu berpikir berbelit-belit.
Tetapi apakah yang sebenarnya telah terjadi?”

Wajah Temunggul menjadi merah padam. Sejenak ditatapnya wajah Ki Jagabaya,
namun sejenak kemudian dipandanginya wajah Ki Demang.

“Ki Jagabaya,” berkata Ki Demang. “Jangan kau bingungkan anak itu dengan
pikiran-pikiran yang tidak mapan. Kemarilah. Biarkan mereka menyelesaikan
persoalan anak-anak, asal masih dalam batas-batas yang wajar.
Kita hanya akan mengawasinya dan mencegah persoalan-persoalan
yang akan berkepanjangan.”

“Tetapi aku memang merasakan sesuatu yang tidak wajar sejak permulaan,
”jawab Ki Jagabaya.

“Kemarilah. Jangan terlampau ribut memikirkan masalah anak-anak itu.
Mereka mempunyai cara untuk menyelesaikan masalah mereka.”

Ki Jagabaya menarik nafas. Sebagai biasanya ia selalu patuh kepada pimpinannya.
Meskipun ia adalah bebahu Kademangan yang dalam keadaan genting itu merupakan
orang terpenting, tetapi ia tidak dapat melampaui kekuasaan demangnya.

Ki Tambi hanya dapat menarik nafas.
Tetapi ia justru ingin melihat kelanjutan dari persoalan itu.
Kini ia mencemaskan lagi nasib Bramanti.
Ia agaknya telah mempunyai sikap yang mantap meskipun secara tiba-tiba.

Namun kini Temunggullah yang masih mematung. Berbagai macam perasaan berbenturan
di dalam hatinya. Kata-kata Bramanti telah menusuk jantungnya dan membuat luka
yang pedih.

Tiba-tiba Temunggul itu melihat kepada diri sendiri.
Seakan-akan terbayang kembali, apakah yang telah terjadi di tebing
di dekat gerojogan itu. Dan bayangan itu telah membuatnya menjadi semakin bimbang.

Dengan demikian, maka sekali lagi halaman rumah itu diterkam oleh kesenyapan.
Kesenyapan yang tegang. Masing-masing berdiri tegak di tempatnya sambil
menahan nafas. Bahkan anak muda yang terluka itu seakan serasa tengah berdiri
di atas bara. Kalau kemudian Temunggul mengingkari keterangannya, maka ia akan
terlempar ke dalam keadaan yang sangat sulit. Ialah yang dianggap sebagai sumber
masalah. Kalau tiba-tiba orang-orang yang berada di dalam halaman itu mengetahui,
bahwa ia telah berbohong, maka sudah tentu ia tidak akan dapat menghindari
kemarahan mereka. Apalagi Ki Jagabaya. Ki Jagabaya yang selama ini dikenalnya
sebagai seorang yang selalu bertindak tegas terhadap siapapun,
meskipun kadang-kadang agak kurang pertimbangan, sehingga ia mudah sekali
digerakkan tanpa mempergunakan pikirannya.

Namun kesenyapan itu tiba-tiba telah dihentakkan oleh suara di kejauhan.
Suara derap beberapa ekor kuda. Dan suara derap kuda itu telah menyusup ke
dalam setiap telinga.

Serentak orang-orang di halaman itu mengangkat wajahnya. Sejenak mereka
seakan-akan dicengkam oleh pesona yang tidak dapat dihindarkan.
Namun kemudian setiap wajah menjadi pucat, selain beberapa orang yang
justru menjadi berdebar-debar.

“Aku dengar derap kaki-kaki kuda,” terdengar Ki Demang berdesis.

“Ya. Aku telah mendengarnya pula,” sahut Ki Jagabaya.

“Panembahan Sekar Jagat,” sambung Ki Demang.

Dan hampir setiap mulut kemudian berdesis, “Panembahan Sekar Jagat.”

“Ya. Panembahan Sekar Jagat.”

Tandpa disadarinya, maka anak-anak muda yang menebar itu bergeser.
Semakin lama menjadi semakin rapat yang satu dengan yang lain.

“Kita harus menghindar,” desis seseorang.

“Ya, kita harus menyingkir.” (Bersambung)-k

Leave a Reply