Tanah Warisan 163

22 Jan 2002,  Dan tiba-tiba saja anak-anak muda itu telah bersiap untuk
melarikan dirinya.
Bahkan beberapa orang telah berkisar beberapa langkah dan siap untuk meloncat
berlari ke kebun di belakang rumah.
Namun langkah mereka tertegun ketika terdengar suara Ki Tambi,
“He, akan kemanakah kalian?”
Beberapa orang saling berpandangan.

“Kita perlu menyingkirkan diri,” terdengar suara Ki Demang.
“Kita tidak ingin mengalami perlakuan yang tidak wajar dari mereka.”

“Kalau kita bersimpuh di hadapan mereka, maka memang akan terjadi
perlakuan yang tidak wajar itu. Tetapi lihat, bukankah kalian bersenjata
dilambung kalian. Hanya satu dua orang yang tidak membawanya,
dan kalian dapat memungut apa saja yang dapat kalian pergunakan untuk senjata.
Slumbat kelapa, pemukul kentongan atau ujung pering itu.”

“He, apakah kita akan melawan?” bertanya Ki Demang.

“Inilah yang belum pernah kita lakukan. Sebaiknya kita mencoba selagi
kita berkumpul. Bukankah sebagian dari para pengawal ada disini.
Selebihnya harus dipanggil dengan kentongan.”

“Gila, itu teramat gila,” Ki Demang menjadi gemetar. “Tidak mungkin.
Tidak mungkin, sama sekali tidak mungkin. Aku tidak ingin Kademangan ini
menjadi hancur lebur menjadi abu, hanya karena kebodohan kita.”

“O, jadi apakah sebenarnya tugas para pengawal itu?
Hanya sekadar menakut-nakuti kawan sendiri seperti yang baru saja terjadi ini?
Itukah tugas Temunggul dan anak-anak muda yang lain. Mereka hanya sekadar kau
jadikan ayam aduan di antara sesama? Bodoh. Kaulah yang bodoh.
Dalam keadaan seperti ini, aku berhak menentukan sikap sebagai laki-laki
di Kademangan ini. Laki-laki. Disinilah penilaian yang sebenarnya,
siapa laki-laki jantan dan siapa yang sekadar ingin dirinya disebut pahlawan
di antara sesama. yang hanya berani memukul anak-anak kita sendiri yang memang
sedang ketakutan. Inikah yang disebut pengawal, pelindung dan sebutan
apa lagi yang diingini?”

Sejenak Ki Demang terbungkam. Dipandanginya wajah Ki Tambi dengan tajamnya.
Namun Tambi tetap menengadahkan kepalanya.
Bahkan ditatapnya wajah anak-anak muda yang berdiri di halaman itu seorang,
seakan-akan orang tua itu ingin melihat, apakah yang tersimpan di dalam hati
mereka masing-masing.

Namun suara derap kaki kuda itu menjadi semakin dekat.

“Pergi, pergi,” tiba-tiba Ki Demang berteriak.

Tetapi tidak seorang pun yang beranjak dari tempatnya.
Apalagi ketika mereka melihat Ki Tambi tersenyum sambil berkata
“Sekarang kita mendapat kesempatan untuk menyatakan diri,
apakah kita benar-benar seorang pengawal Kademangan yang baik atau
hanya sekadar seorang pengecut yang salah tempat. Justru kali inilah
pendadaran yang sebenarnya bagi para pengawal. Bukan sekadar di arena.”

Tetapi Ki Demang berteriak semakin keras, “Pergi kalian. Jangan gila.
Perlawanan hanya akan membuat Kademangan ini menjadi abu.”

Tetapi semuanya masih berada ditempatnya.
Ternyata mereka sedang dibakar oleh kebimbangan.
Tidak seorangpun dari anak-anak muda yang dapat memutuskan,
apakah yang sebaiknya dilakukan.

Bahkan Panjang pun masih saja berdiri seakan-akan membeku.
Tatapan matanya sekali menyambar Ki Tambi yang tetap tenang,
kemudian dipandanginya Ki Demang yang gelisah.

Ketika ia memutar kepalanya, maka pandangan matanya membentur
seorang anak muda yang berdiri tegak seperti tonggak. Bramanti.
Betapa wajahnya menjadi tegang sehingga matanya seolah-olah menjadi
semerah bara. Bibirnya terkatup rapat-rapat, dan tangannya mengepal.
(Bersambung)-m

Leave a Reply