Tanah Warisan 164

23 Jan 2002,  Kini Bramanti itu dihadapkan pada suatu keadaan yang paling sulit. Ia sadar, bahwa yang datang itu pasti Wanda Geni dan orang yang
lebih tinggi kedudukannya. Bahkan mungkin Panembahan Sekar Jagat sendiri.
Kalau dalam keadaan serupa ini ia menyingkir dengan alasan apapun,
maka korban pasti akan berjatuhan. Apalagi Ki Tambi agaknya telah berhasil
menahan para pengawal itu untuk tidak melarikan diri.

Seandainya mereka tidak tetap berada di halaman itu, maka ia akan dapat
menyongsong pasukan berkuda itu dengan caranya. Tetapi kini kesempatan
itu sama sekali tidak ada.

Seperti anak-anak muda yang lain, sebenarnya Bramanti pun sedang dicengkam
oleh kebimbangan dan keragu-raguan, meskipun berbeda sifat dan bentuknya.
Namun meskipun demikian, ia tidak juga segera dapat mengambil kesimpulan
sehingga terasa kakinya menjadi gemetar.

Dadanya tergetar ketika ia mendengar tiba-tiba Ki Jagabaya yang selama
ini terlampau patuh kepada Ki Demang berkata lantang, “Kita tetap disini.
Kita akan melawan meskipun akibatnya akan membuat Kademangan ini menjadi
karang abang. Itu adalah kemungkinan yang tidak dapat kita hindari.
Tetapi kalau kita berhasil, maka untuk seterusnya kita akan terlepas dari
permasalahan yang tidak semena-mena.”

“Ki Jagabaya,” potong Ki Demang, “Apakah kau sadari pendirianmu itu.”

Sebelum Ki Jagabaya menjawab, terdengar suara seorang anak muda,
“Aku berdiri dibelakang Ki Jagabaya.
Memang sudah saatnya kita berbuat sesuatu, meskipun akibatnya dapat
menjadi terlampau parah. Tetapi kita tidak dapat membiarkan semuanya ini
terjadi.”

“Tetapi mereka kali ini tidak akan merampas kekayaan kita,” teriak Ki Demang.

“Apa yang akan mereka lakukan?”

“Mereka akan mencari seseorang, yang disangkanya berada di Kademangan ini.”

“Putut Sabuk Tampar?” bertanya Ki Tambi.

“Ya.”

“Darimana Ki Demang tahu?” desak Tambi.

Ki Demang terdiam sejenak. Namun dalam kediaman itu terdengar derap kaki-kaki
kuda itu sudah terlampau dekat. Meskipun demikian Ki Demang masih terdengar,
“Menurut perhitunganku.”

“Tetapi kami akan melawan kali ini,” geram Ki Tambi.

“Ya, saatnya memang sudah sampai.”

“Sekarang. Kita bukan pengecut. Dan kita tidak akan membiarkan benalu terus
hidup pada tubuh kita.”

“Aku bersamamu Panjang,” teriak seorang anak muda yang lain lagi.
Ketika anak muda yang pertama-tama menyatakan niatnya untuk melawan yaitu
Panjang, berpaling, maka dilihatnya Suwela mengacungkan tangannya.

Tiba-tiba anak-anak muda yang lain pun serentak berkata,
“Aku ikut serta. Aku juga.”

Bramanti menjadi semakin tegang. Kini ia tidak dapat berbuat lain
daripada tetap tinggal ditempat itu. Kalau ia menyingkir,
maka akibatnya pasti akan benar-benar parah bagi para pengawal itu.

Sementara itu, derap kaki kuda dijalan telah menjadi terlampau dekat.
Sejenak kemudian mereka mendengar langkah kaki-kaki kuda itu berhenti,
dan sejenak kemudian mereka melihat beberapa ekor kuda menyusup beserta
penunggangnya memasuki regol halaman.

Semua mata terpaku kepada penunggang kuda yang berjumlah hanya enam orang itu.
Namun di antara mereka terdapat seorang yang bernama Wanda Geni.
Tetapi agaknya bukan ialah yang paling berkuasa saat itu.
Bukan Wanda Genilah yang memimpin pasukan kecil yang memasuki regol,
karena seorang yang lain, tampaknya lebih berkuasa daripadanya.

Semua dada menjadi berdebar-debar dan bertanya-tanya di dalam hati.
“Apakah orang ini yang bernama Panembahan Sekar Jagat?”

Leave a Reply