Tanah Warisan 165

24 Jan 2002, Sejenak kemudian Wanda Geni mendorong kudanya maju beberapa langkah. Dengan suara lantang ia berkata, “Kali ini aku mempunyai maksud lain.
Kami tidak akan mengambil upeti seperti biasanya,
karena waktunya memang belum tiba,” Wanda Geni berhenti sejenak lalu,
“Tetapi kedatangan kami adalah sekadar untuk memperkenalkan saudara tua kami
yang mendapat tugas memimpin sepasukan kecil,” sekali lagi Wanda Geni berhenti.
Diedarkan tatapan matanya untuk melihat akibat yang mengusik setiap dada.
Namun Wanda Geni menjadi heran. Ia tidak melihat wajah-wajah yang ketakutan
seperti setiap kali ia saksikan apabila ia datang bersama beberapa orang
untuk mengambil upeti. Bahkan kini ia melihat sorot-sorot mata yang
kemerah-merahan dan gigi yang terkatup rapat.

“Apakah orang ini menjadi liar,” desisnya di dalam hati.
“Dan kenapa tiba-tiba saja mereka telah berkumpul di halaman ini?
Tetapi justru kebetulan sekali. Mereka akan melihat suatu permainan
yang sangat menarik, yang akan membuka mata mereka,
bahwa Panembahan Sekar Jagat memang mempunyai kekuatan yang tidak terlawan
oleh siapapun.”

“Dengar,” teriak Wanda Geni pula. “Aku datang bersama kakak Sapu Angin.”

Orang-orang yang berdiri di halaman itu masih tetap berdiam diri.

“Tetapi jangan takut Kakang Sapu Angin tidak ingin mencari persoalan
dengan kalian. Ia hanya ingin melihat salah satu dari Kademangan yang
telah menyatakan diri bersedia bekerja bersama-sama dengan Panembahan
Sekar Jagat.”

Tidak seorang pun yang menyahut.

Dan Wanda Geni meneruskannya. “Namun kedatangan kami telah membawa
keperluan yang lain pula. Kami ingin bertemu dengan orang yang menyebut
dirinya Putut Sabuk Tampar. Salah seorang dari kami melihatnya,
ia berada di regol halaman rumah ini.

Orang-orang yang berada di halaman rumah itu terperanjat.
Rumah ini adalah rumah Bramanti. Karena itu, maka serentak mereka berpaling.
Tetapi tempat Bramanti tadi berdiri telah kosong.
Mereka sama sekali tidak melihat, kapan ia meninggalkan tempatnya.
Begitu tegangnya mereka memandangi Wanda Geni dan Sapu Angin bersama-sama
kawan-kawan mereka, sehingga mereka tidak melihat, perlahan-lahan Bramanti
bergeser tempat pada saat orang-orang Penembahan Sekar Jagat itu memasuki
regol halaman.

Dada Ki Tambi menjadi berdebar-debar. “Kenapa tiba-tiba saja Bramanti
meninggalkan halaman? Apakah ia melarikan diri dan bersembunyi?”

“Nah,” berkata Wanda Geni kemudian. “Dimanakah Putut Sabuk Tampar itu?”

Sejenak para pengawal saling berpandangan.
Mereka tidak mengerti maksud Wanda Geni.
Namun mereka mengerutkan kening ketika terdengar Wanda Geni berteriak.
“He, dimana Sabuk Tampar?
Apakah kalian datang kemari sengaja untuk melindunginya?
Kalau demikian, maka kami harus memaksa kalian untuk berbicara.”

Leave a Reply