Tanah Warisan 166
25 Jan 2002, Masih belum ada seorang pun yang menyahut.“Ayo, katakan. Dimana Putut Sabuk Tampar.”Wanda Geni berteriak semakin keras.
“Apakah kalian memang sengaja berkumpul di halaman ini untuk menunggu
kedatangan kami?”
Halaman itu menjadi hening sejenak. Namun kemudian terdengar suara Ki Demang
yang membuat orang-orang di halaman itu berdebar-debar.
“Tidak. Tidak sama sekali. Kami sedang mencari seseorang yang kami anggap
telah melanggar tata cara kehidupan kami di sini.”
Wanda Geni mengerutkan keningnya. Ditatapnya setiap wajah orang-orang
Candi Sari yang berada di halaman itu, seakan-akan ingin meyakinkan,
apakah yang dikatakan oleh Ki Demang itu benar. Dan ternyata memang setiap
wajah yang disambar oleh tatapan matanya yang tajam, segera tertunduk.
Tetapi tiba-tiba dada Wanda Geni berdesir ketika terpandang olehnya mata
Ki Tambi yang membara. Di wajah itu sama sekali tidak terbayang ketakutan
dan kecemasannya menghadapi orang-orang Panembahan Sekar Jagat,
yang justru kali ini bersama seorang yang paling dipercaya, Sapu Angin.
Sejenak Wanda Geni memandang mata Ki Tambi yang menjadi kemerah-merahan.
Dan mata yang kemerah-merahan itu telah membuat darahnya mengalir lebih cepat.
Ki Demang agaknya melihat keadaan itu, sehingga cepat-cepat ia berkata,
“Kami datang untuk memberikan sebuah peringatan kecil kepada anak yang
tinggal di rumah ini.
“Apa yang telah dilakukannya?” bertanya Wanda Geni.
“Ia telah menyerang kawannya sendiri dengan licik.”
“Siapa anak itu?”
“Namanya Bramanti.”
Wanda Geni mengangguk-anggukkan kepalanya.
Sekilas di pandanginya wajah Sapu Angin yang tegang dan dalam.
Tetapi Sapu Angin itu sama sekali tidak memberikan tanggapan apapun.
Dalam kesepian yang menyambar sesaat itu, seseorang kawan Wanda Geni
mendekatinya. Kemudian orang itu berdesis perlahan-lahan. “Orang itulah.”
“He,” bertanya Wanda Geni.
“Orang itulah yang mengancam aku akan membunuhku sama sekali.”
Wanda Geni mengerutkan keningnya, “Yang mana?”
Orang itu ternyata sudah tidak segan-segan lagi. Jari tangannya kemudian
menunjuk Ki Tambi yang berdiri tegang, “Itu.”
“O, yang matanya merah seperti mata burung pelatuk itu.”
Dada Ki Tambi berdesir. Orang yang menunjuk kepadanya itu adalah
orang yang ditangkapnya selagi ia terluka parah dan dibawanya ke Kademangan.
Ternyata ia masih tetap mengenalnya, dan bahkan kini agaknya ia akan
melepaskan sakit hatinya, karena kekalahan yang dialaminya pada saat
ia melawan Putut Sabuk Tampar.
“He,” bentak Wanda Geni. “Benarkah kau yang telah menangkap kawanku ini
pada saat ia sedang tidak berdaya?”
Ki Tambi masih berdebar-debar.
Namun ia tidak akan mengelak apapun yang akan terjadi atas dirinya.
Karena itu maka ia pun menjawab lantang, “Kalian memilih istilah yang tidak
aku senangi. Aku lebih baik mengatakan, bahwa akulah yang telah menolongnya,
sehingga orang itu tidak mati dipinggir jalan dan menjadi makanan anjing liar.”
Dahi Wanda Geni berkerut. Hampir saja ia berteriak.
Tetapi suaranya segera terputus oleh suara tertawa Sapu Angin.
“Bagus. Kau mendapat kalimat yang tepat. Yang benar adalah kau.
Orang semacam orang ini memang sepantasnya hanyalah menjadi makanan
anjing-anjing liar.” Dan suara tertawa Sapu Angin menjadi berkepanjangan.
Namun dengan demikian wajah Wanda Geni dan orang yang memberitahukan
kepadanya itu menjadi merah padam. (Bersambung)-m
Posted on December 5th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan 196 Views





Leave a Reply