Tanah Warisan 167
26 Jan 2002, “Nah, sekarang aku datang untuk melakukan pekerjaan yang lain bagi kalian. Dan aku kira aku bukan sebangsa kelinci makanan anjing jalanan,
”berkata Sapu Angin kemudian. “Sekarang katakan,
dimanakah anak yang kau cari itu?
Anak yang menurut keterangan kalian tinggal di rumah ini,
karena kami pun sedang mencari seseorang dihalaman rumah ini.”
Tidak seorang pun yang menjawab. Ki Demang menebarkan pandangan matanya
kesekelilingnya. Kini anak-anak muda Candi Sari yang semula menyebar
seakan-akan telah berkerumun berdesak-desakan. Dan tidak seorang pun
dari mereka yang mempedulikan Bramanti.
“Dimana Bramanti,” bertanya Ki Demang.
Tidak seorang pun yang menyahut.
“Dimana Bramanti,” Ki Demang berteriak.
Masih belum ada yang menyahut.
Tiba-tiba timbullah akal Ki Demang untuk memanggil Bramanti keluar
dari persembunyiannya seperti yang dilakukan oleh Temunggul seandainya
ia masih berada dihalaman itu. Katanya lantang,
“Kalau Bramanti tidak segera keluar dari persembunyiannya,
maka kami akan menangkap Nyai Pruwita sebagai gantinya.”
“Buat apa kami menangkap perempuan itu,” teriak Wanda Geni.
Ia telah mengenal perempuan itu, sebagai bekas istri Demang Candi Sari
yang dahulu. Bahkan kadang-kadang ia sengaja berteriak-teriak memanggilnya
apabila ia lewat di jalan di depan regol halaman rumah ini.
“Bramanti adalah anak dari perempuan itu,” jawab Ki Demang.
“Tetapi kami tidak menghendaki keduanya. Kami mencari Putut Sabuk Tampar.”
“Biarlah anak itu dibawa kami,” sahut Sapu Angin.
“Dihalaman ini ada seorang anak muda yang bernama Bramanti.
Kalau benar Sabuk Tampar berada di halaman itu pula, kita akan dapat bertanya
kepada anak muda itu.”
Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya.
Katanya, “Karena itu, kita memerlukan Bramanti.”
Semua orang, termasuk Ki Tambi menjadi berdebar-debar.
Apakah yang kira-kira akan terjadi atas anak muda itu seandainya ia dapat
diketemukan dihalaman ini.
Sejenak kemudian Ki Demang berteriak pula, “Bramanti, apakah kami harus
menangkap ibumu dan menyeretnya ke Kademangan?”
Tetapi belum seorang pun dari mereka yang melihat Bramanti.
Sementara itu Bramanti sedang berada di dalam kandangnya.
Ketika ia bergeser dari halaman rumah itu, ketika anak-anak muda yang lain
justru saling mendekat, maka ia pun segera masuk ke dalam kandangnya.
Dan kini ia mendengar Ki Demang sedang mengancamnya.
“Bramanti,” sekali lagi ia mendengar suara Ki Demang semakin keras.
“Apakah kau menunggu kami menyeret ibumu?”
Kini tubuh Bramanti seakan-akan menggigil karenanya.
Ia tidak dapat mengerti, kenapa Ki Demang selalu berusaha mencegah
orang-orang Kademangan Candi Sari melawan Panembahan Sekar Jagat dengan alasan
itu-itu juga. Untuk kepentingan Kademangan ini agar tidak menjadi lumat.
Dan kini Ki Demang pasti akan mengorbankannya, tanpa belas kasihan.
Dengan demikian justru tidak akan ada perlindungan sama sekali bagi warganya.
Seharusnya Ki Demang berbuat sebaliknya. Mencoba menyembunyikannya,
meskipun nanti setelah orang-orang itu pergi, seandainya ia masih akan
menghukumnya dalam persoalan di antara keluarga sendiri itu akan terus
dilakukannya.
Ketika terdengar suara Ki Demang lagi, Bramanti sudah tidak dapat membuat
pertimbangan-pertimbangan lain.
Kemungkinan yang demikian ini memang sudah diperhitungkannya pula.
Karena itulah ia masuk ke dalam kandangnya.
Ia sama sekali tidak ingin bersembunyi. Tetapi untuk melawan orang-orang
Panembahan Sekar Jagat,bukanlah pekerjaan yang dapat dilakukan sambil
menganyam keranjang. Itulah sebabnya maka segera ia memanjat tiang kandang.
Tangannya menggapai blandar yang membujur di atas tiang itu.
Ketika ia meloncat turun, maka ditangannya telah tergenggam sebuah pedang
pendek. Pedang peninggalan ayahnya yang disembunyikannya tanpa seorang pun
yang mengetahuinya.
“Mungkin aku memerlukannya,” gumamnya.
Posted on December 5th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan 192 Views





Leave a Reply