Tanah Warisan 168
27 Januari 2002,Bramanti mengangkat wajahnya ketika sekali lagi Ki Demang berteriak
menirukan Temunggul, “Aku akan menghitung sampai sepuluh bilangan Bramanti.Kalau kau tidak keluar, maka ibumu akan menjadi gantinya,
”ia berhenti sejenak lalu, “satu…”
Tetapi belum sampai pada hitungan yang kedua, Bramanti telah melangkah
keluar dari dalam kandangnya sambil berkata, “Aku disini Ki Demang.”
“Nah, bukankah kau keluar seperti seekor jengkerik dituang air?
”desis Ki Demang. “Kemarilah. Hukumanmu masih belum dilaksanakan.”
Bramanti mengangkat wajahnya. Ketika ia melangkah maju,
dilihatnya mata Wanda Geni dan kawan-kawannya yang berada disisinya itu
terbelalak. Hampir bersamaan keduanya berteriak sambil menunjuk
kepada Bramanti, “Itulah dia. Itulah dia.”
“Siapa?” bertanya Ki Demang dan Sapu Angin serentak.
“Sabuk Tampar. Putut Sabuk Tampar.”
“He?” meskipun keduanya, Ki Demang dan Sapu Angin bersama-sama terkejut,
namun yang bergolak di dalam hati masing-masing adalah berbeda.
Sapu Angin memang sedang mencari Putut Sabuk Tampar sehingga dengan demikian
maka ia merasa, bahwa yang dicarinya segera dapat diketemukan.
Tetapi sebaliknya bagi Ki Demang. Ia memandang Bramanti dengan mulut ternganga.
Ia tidak dapat percaya pada pendengarannya bahwa anak itulah yang menyebut
dirinya Putut Sabuk Tampar.
Namun bukan saja Ki Demang, tetapi semua orang yang berada di halaman itu
serasa mendengar ledakan petir di ujung rambut. Hanya Tambilah yang segera
dapat menguasai perasaannya, karena ia memang sudah menduga,
bahwa Bramantilah yang menyebut dirinya Putut Sabuk Tampar. Sedang Panjang,
masih juga dengan susah payah mencoba menenangkan dirinya.
Dalam kediaman yang tegang itu terdengar suara Sapu Angin,
“Apakah kau tidak keliru Wanda Geni.”
“Tidak. Aku tidak akan keliru. Aku berdua adalah saksi yang langsung.
Pertemuan kita di malam hari waktu itu memang tidak dapat meyakinkan.
Tetapi pertemuan yang kedua, disiang hari, anak itu itu tidak dapat lagi
menyembunyikan dirinya.
Sapu Angin mengangguk-anggukkan kepalanya.
Ditatapnya wajah Bramanti dengan tajamnya.
Dan ternyata Bramanti pun sama sekali tidak menyadari tatapan mata itu.
“Kaukah yang menyebut dirimu Putut Sabuk Tampar?” bertanya Sapu Angin.
Bramanti merasa tidak ada gunanya lagi mengelak.
Karena itu maka jawabnya mantap, “Ya.
Akulah Putut Sabuk Tampar, utusan Resi Panji Sekar.
Nah, apa yang akan kau lakukan sekarang?”
Sapu Angin mengerutkan keningnya.
Kemudian katanya, ”Aku ingin bertemu dengan Resi Panji Sekar.”
“Yang ada sekarang adalah Putut Sabuk Tampar.
Yang penting bagiku adalah, mengusir kau dari Kademangan ini.
Aku sudah muak melihat tingkah laku orang-orangmu.
Apalagi kerakusan mereka tidak terbatas kepada harta benda.
Tetapi juga terhadap gadis-gadis.
Sapu Angin mengatupkan bibirnya rapat-rapat.
Tetapi matanya menjadi seolah-olah menyala.
Dalam pada itu Temunggul serasa berdiri di atas api.
Ia menjadi gelisah dan tidak mengerti, apakah sebenarnya yang sedang
dihadapinya. Seandainya benar Bramanti adalah orang yang menyebut dirinya
Putut Sabuk Tampar, maka ia pasti akan terlibat langsung dengan orang itu.
Karena itu, maka dalam keragu-raguan hatinya serasa terpanggang di atas api.
“Putut Sabuk Tampar,” desis Sapu Angin.
“Kedatanganku memang sengaja untuk mencarimu.
Sudah dua kali kau menghalangi orang-orangku.
Aku kira Panembahan Sekar Jagat telah terlampau longgar.
Biasanya gangguan yang pertama telah cukup menjadi alasan untuk
menyingkirkannya. Tetapi kau mendapat kesempatan sampai dua kali.
Baru kali ini aku mendapat kesempatan atas nama Panembahan Sekar Jagat
menemuimu.”
Bramanti tidak segera menyahut. Dan Sapu Angin berkata selanjutnya,
“Tetapi ternyata kau tidak akan mendapat kesempatan selanjutnya.”
Posted on December 5th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan 204 Views





Leave a Reply