Tanah Warisan 169
28 Januari 2002, Ketika Sapu Angin berhenti berbicara, halaman itu menjadi hening. Tidak seorang pun yang mengucapkan kata-kata.
Bahkan Ki Demang merasa seolah-olah mulutnya terbungkam.
Dalam keheningan itulah, setiap dada serasa bergetar.
Dengan demikian mereka menyadari, kenapa Bramanti menolak perlindungan
Panggiring. Karena ternyata ia sendiri merasa dapat melindungi diri.
Sejenak kemudian maka terdengar suara Sapu Angin berat, “Ki Demang.
Kalau memang orang-orangmu tidak ingin berbuat onar, dan tidak ingin melihat
kehancuran Kademangan Candi Sari, maka akupun tidak akan mempersoalkannya.
Aku hanya sekadar ingin menangkap anak yang menyebut dirinya
Putut Sabuk Tampar ini.”
Ki Demang tidak bisa segera menjawab. Ia berdiri di simpang jalan yang sulit.
Ia tahu bahwa Putut Sabuk Tampar bukan sekadar seorang anak muda yang
cengeng seperti yang selalu diperlihatkan Bramanti dalam hidupnya sehari-hari.
Kalau ia berterus terang memusuhinya, maka akibatnya belum dapat dibayangkan.
Apalagi bila teringat olehnya, Bramanti adalah adik Panggiring,
meskipun sampai saat ini Bramanti menolak hubungan itu.
Karena Ki Demang tidak segera menjawab, maka terdengar Sapu Angin berkata
lantang, “He, kenapa kau diam saja Ki Demang. Suruhlah orang-orangmu pergi.
Biarlah Putut Sabuk Tampar itu tinggal. Aku memerlukan anak itu.
Kalau ia tidak terlampau banyak tingkah, maka ia akan aku bawa
hidup menghadap Panembahan Sekar Jagat.
Tetapi kalau ia menyombongkan diri, melawan kehendakku,
maka aku akan terpaksa membunuhnya.”
Ki Demang menjadi semakin bingung karenanya.
Namun bagaimanapun juga ia mempunyai pertimbangannya sendiri,
sehingga tiba-tiba ia berkata, “Baiklah.
Aku akan membawa orang-orangku pergi.”
Namun Ki Demang terkejut ketika tiba-tiba terdengar suara Ki Tambi,
“Sudah aku katakan. Kami telah siap melakukan sesuatu kali ini.
Kami berdiri di belakang Ki Jagabaya. Agaknya Ki Jagabaya adalah seorang
yang paling bertanggung jawab di Kademangan ini.”
Ki Jagabaya yang semula telah dijalari oleh keragu-raguan mendengar
kata-kata Ki Tambi itu tiba-tiba tergugah hatinya.
Hampir tanpa sesadarnya ia berkata, “Ya, kita akan berbuat sesuatu.”
“Ki Jagabaya” potong Ki Demang. “Kau masih juga berlaku bodoh.
Kau adalah orang yang mabuk pujian. Apakah kau sadari kata-kata
Ki Tambi yang ingin menjerumuskan kau kedalam kesulitan?”
“Hanya orang-orang jantanlah yang bertanggungjawab atas kata dan perbuatannya,
” sela Ki Tambi sebelum Ki Jagabaya menjawab.
“Tutup mulutmu Tambi,” teriak Ki Demang. “Aku menyesal menerima kau kembali
di Kademangan ini. Ternyata kau telah menjerumuskan kami semua ke dalam
kesulitan.”
Tetapi tiba-tiba saja Ki Tambi itu tertawa.
Di pandanginya wajah anak-anak yang ada di halaman itu.
Ketika matanya membentur wajah Panjang, Ki Tambi menganggukkan kepalanya,
seolah-olah ia ingin melihat, apakah Panjang benar-benar seorang pengawal
yang baik.
Dada Panjang masih juga bergelora. Namun kemudian dengan mantap ia berkata,
“Aku berdiri di belakang Ki Jagabaya. Aku adalah seorang pengawal Kademangan.
Dan aku merasa ikut bertanggung jawab menghadapi masalah-masalah serupa ini.”
Ki Jagabaya yang mulai ragu-ragu, tiba-tiba mengangkat wajahnya dan berkata,
“Marilah. Marilah kita berbuat sesuatu kali ini.
Kita bukan budak-budak yang hanya mampu bersimpuh dan menundukkan kepala.”
“Aku sudah menduga,” sahut Ki Tambi cepat-cepat.
“Ki Jagabaya pasti akan berdiri ditempatnya,
sebagai pelindung rakyat Kademangan ini.”
“Persetan semuanya,” tiba-tiba Sapu Angin berteriak.
“Kenapa kalian mengigau seperti orang yang kehilangan kesadaran.
Aku, Sapu Angin berada disini. Lihatlah aku. Lihat.
Apakah kalian masih berani mengangat wajah kalian menatap mataku? Ingat.
Aku dapat berbuat apa saja atas Kademangan ini.
Aku dapat membuatnya hancur lumat menjadi debu, apabila aku menghendaki.
” (Bersambung)-o
Posted on December 5th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan 204 Views





Leave a Reply