Tanah Warisan 170
29-01-2002, Sapu Angin terkejut ketika Tambi maju selangkah sambil berkata,
“Setiap jengkal tanah, setiap ujung rambut perawan dari Kademangan ini,
harus dipertaruhkan dengan nyawa. He Sapu Angin, jangan terlampau sombong.
Kami sudah siap menghadapi kalian kali ini setelah kami terlena oleh sihirnya
angin beberapa saat lamanya.”
“Tutup mulutmu,” bentak Sapu Angin. “Kau belum mengenal Sapu Angin.
Tetapi baiklah. Kita akan segera berkenalan.
Tetapi maaf bahwa aku kurang dapat mengendalikan diri.
Mungkin aku menyentuh seseorang dan membuatnya mati atau cacat seumur hidupnya.”
Kata-kata itu telah membuat bulu-bulu tengkuk berdiri.
Tetapi Tambi tidak beranjak dari tempatnya.
Matanya menyala dan menatap wajah orang yang menyebut dirinya Sapu Angin.
“Hem,” Sapu Angin menggeram, “Kaulah agaknya biang keladi dari perlawanan ini.
Seperti yang dikatakan Wanda Geni.”
Namun sebelum Ki Tambi menjawab, Bramanti melangkah maju.
Tiba-tiba saja langkahnya menjadi berbeda. Kali ini langkahnya mantap,
sehingga seolah-olah tumitnya telah membuat lubang ditanah yang diinjaknya.
“Jangan sesumbar,” desis Bramanti. “Dengarlah.
Aku tetap pada permintaan yang pernah aku sampaikan.
Tinggalkan tempat ini dan lepaskan usaha kalian yang sangat merugikan itu.
Resi Panji Sekarlah yang akan menertibkan daerah ini dengan caranya sendiri.”
“Omong kosong,” teriak Sapu Angin. “Kau yang menyebut dirimu Putut Sabuk Tampar
adalah orang yang pertama-tama harus dibinasakan bersama Tambi,
”kemudian kepada kelima orang-orangnya ia berkata,
“Jangan hiraukan jumlah orang yang berada di dalam halaman ini.
Mereka adalah orang-orang dungu yang tidak mengerti pahitnya peperangan.
Siapkan diri kalian menghadapi segala kemungkinan.”
Kelima orang itu mengerutkan kening mereka.
Satu-satu dipandanginya anak-anak muda Kademangan Candi Sari.
Sebagian besar dari mereka ternyata bersenjata.
“Mereka akan menjadi seperti batang ilalang dirambas pedang.
Kasihan juga anak-anak yang masih terlampau muda itu.
Tetapi itu adalah salahnya sendiri. Mereka telah berani mengangkat senjata
melawan kekuasaan Panembahan Sekar Jagat.”
Tetapi Ki Tambi menjawab, “Kalau kami atau salah seorang dari kami mati,
masih juga kami mempunyai kebanggaan. Mati dipeperangan.
Tetapi kalau salah seorang dari kalian mati,
bagaimanakah orang akan menyebut mayat kalian.”
“Cukup,” Sapu Angin berteriak semakin keras.
“Kalian memang tidak perlu dikasihani.”
“Sudahlah Sapu Angin,” berkata Bramanti. Pulanglah.
Sampaikan kepada Panembahan Sekar Jagat, bahwa Putut Sabuk Tampar
tetap pada pendiriannya.”
“Persetan kalian,” Sapu Angin telah kehilangan kesabaran. Kemudian katanya lantang,
“Marilah anak-anak. Kita selesaikan kelinci-kelinci yang sombong ini.”
Kuda-kuda itu pun kemudian mulai bergerak ke arah yang berbeda-beda.
Sekejap kemudian orang-orang di atas punggung kuda itu sudah menggenggam
senjata masing-masing.
Posted on December 5th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan 187 Views





Leave a Reply