Tanah Warisan 178
06-02-2002, Dalam kebekuan yang panas itu, Bramanti merasa sebuah sentuhan dibahunya.
Posted on December 7th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
06-02-2002, Dalam kebekuan yang panas itu, Bramanti merasa sebuah sentuhan dibahunya.
Posted on December 7th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
05-02-2002, Pedang pendek Bramanti ternyata terlampau berbahaya bagi lawannya.
Posted on December 7th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
04-02-2002, Sekilas teringat olehnya, bagaimana ia membantu suaminya yang dahulu mencoba membina Kademangan ini.
Posted on December 7th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
03-02-2002, Nasib orang itu memang terlampau malang.
Posted on December 7th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
02-02-2002, Bukan saja Sapu Angin yang menjadi keheranan dan bahkan kecemasan menghadapi lawannya.
Posted on December 7th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
01-02-2002, Di bagian lain Ki Jagabaya bersama dua orang pengawal berkelahi mati-matian melawan seorang penunggang kuda.
Posted on December 7th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
31-01-2002, Tetapi karena mereka datang bersama Sapu Angin maka mereka seakan-akan mempercayakan diri mereka kepada pemimpinnya.
Posted on December 7th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
30-01-2002, Dengan demikian maka anak-anak muda pengawal Kademangan itu menjadi berdebar-debar.
Posted on December 7th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan | No Comments »