Tanah Warisan 171

30-01-2002,  Dengan demikian maka anak-anak muda pengawal Kademangan itu menjadi berdebar-debar. Selama ini mereka hampir belum pernah melakukan suatu tindakan apapun yang berarti, sejak mereka mendapat wisuda menjadi pengawal Kademangan,
meskipun mereka harus melalui pendadaran. Karena itu,
ketika mereka menghadapi bahaya yang sebenarnya, hati mereka menjadi kecut.
Bahkan ada di antara mereka yang mengumpat di dalam hati,
kenapa ia tidak lari saja meninggalkan halaman itu.

Apalagi ketika pada saat terakhir anak-anak muda yang demikian itu mendengar
Ki Demang berkata, “He anak-anak. Aku masih ingin mendapat kemurahan hati dari
utusan-utusan Panembahan Sekar Jagat. Aku masih ingin kalian mendapat kesempatan
untuk meninggalkan tempat ini selain mereka yang dikehendaki. Misalnya Bramanti,
Ki Tambi dan barangkali juga Panjang. Nah, pergunakan kesempatan yang terakhir ini.”

Begitu Ki Demang selesai, maka Bramanti segera menyahut, “Aku adalah anak muda yang paling cengeng di Kademangan ini. Aku sama sekali tidak berarti jika dibandingkan
dengan kalian, para pengawal yang perkasa. Tetapi aku tidak akan lari.
Aku akan tetap disini dan mengadakan perlawanan sampai kemungkinan yang penghabisan.”

“Bagus, aku juga tetap disini,” sahut Ki Tambi.

“Aku tetap disini,” geram Panjang.

Dan tanpa diduga-duga Ki Jagabayapun berkata lantang. “Aku tetap disini.
Siapa yang ikut aku, tinggallah disini. Siapa yang takut, pergilah.”

Ternyata tidak seorang pun yang meninggalkan halaman itu. Dengan demikian,
maka seakan-akan telah bulatlah niat mereka untuk melawan utusan Panembahan
Sekar Jagat itu. Meskipun ada satu dua yang masih dijalari oleh kecemasan,
tetapi mereka tidak dapat meninggalkan kawan-kawan mereka dalam keadaan itu.

Melihat hal itu Sapu Angin serasa terbakar jantungnya. Kini ia benar-benar akan mulai.
Maka diteriakkannya aba-aba. “Habiskan anak-anak monyet ini.”

Serentak kuda-kuda itu pun maju. Tetapi yang dihadapi telah siap pula,
meskipun masih agak ragu-ragu.

Namun tiba-tiba dari antara orang-orang Candi Sari itu, seseorang segera melangkah
maju dengan langkah yang tetap mendekati Sapu Angin. Orang itu adalah Bramanti.

“Hem, kau memang sudah jemu melihat sinar mata hari,” desis Sapu Angin.

Tetapi Bramanti tidak memperdulikannya.
Tangannya yang telah melekat dihulu pedangnya telah menjadi gemetar.

“Peringatan terakhir bagimu,” desis anak muda itu.
“Pergi atau kami terpaksa mengusir kalian.”

Sapu Angin tidak menjawab lagi. Didorongnya kudanya, yang kemudian dengan
langkah-langkah pendek maju menyongsong Bramanti.

Sejenak kemudian keduanya telah berhadapan. Meskipun Bramanti tidak berada
di punggung kuda, tetapi ia sudah siap menghadapi segala kemungkinan.

Melihat sikap Bramanti, maka anak-anak muda Candi Sari pun segera tergugah hatinya.
Temunggul yang selama itu diam seperti patung, tiba-tiba merasa ikut
bertanggungjawab pula atas Kademangan ini. Kebenciannya kepada Wanda Geni dan
kawannya telah merayapi hatinya dan memuncak ketika mereka akan mengambil Ratri
dengan paksa. Dan kini ia mendapat kesempatan untuk mencurahkan kemarahannya itu.

Apalagi ketika ia melihat Ki Tambi telah meloncat pula. Kemudian Ki Jagabaya,
Panjang dan anak-anak muda yang lain.

Akhirnya, Temunggul pun menarik senjatanya.
Dengan tangkasnya ia pun meloncat menyongsong orang-orang berkuda,
namun jumlah orang Candi Sari jauh lebih banyak.
Wanda Geni mengumpat-umpat ketika ia harus bertempur melawan Ki Tambi dan
beberapa anak muda yang lain, sedang Ki Jagabaya, Panjang, Temunggul dan
yang lain-lain lagi telah memilih kelompok-kelompok kecil yang terjadi dengan
tiba-tiba untuk melawan orang-orang berkuda itu.

Bagaimanapun juga, maka orang-orang berkuda itu segera mengalami kesulitan.
Apalagi mereka tidak menyangka sama sekali, bahwa mereka akan menjumpai lawan
dalam jumlah yang besar. Mereka telah pernah mendapat jaminan,
bahwa rakyat Candi Sari sama sekali tidak mempunyai minat untuk melawan .
(Bersambung)-m

Leave a Reply