Tanah Warisan 172
31-01-2002, Tetapi karena mereka datang bersama Sapu Angin maka mereka seakan-akan mempercayakan diri mereka kepada pemimpinnya. Sapu Angin adalah orang yang tidak terkalahkan disegala medan. Apalagi kali ini ia hanya sekadar berhadapan dengan anak-anak.
Tetapi anak-anak itu adalah Bramanti. Ditangannya kini telah tergenggam sebuah
pedang pendek. Dengan pedang itulah ia bertempur melawan Sapu Angin.
Pertempuran di antara keduanya segera berkobar dengan dahsyatnya.
Meskipun setiap orang telah mulai bertempur, namun mereka masih sempat melihat,
betapa tangkasnya Bramanti melawan Sapu Angin yang duduk di atas punggung kuda.
Sapu Angin terkejut melihat lawannya yang masih sangat muda itu. Ia tidak menyangka,
bahwa anak itu mampu bergerak terlampau cepat.
Meskipun dari Wanda Geni ia telah mendengar, bahwa Putut Sabuk Tampar adalah
seorang yang luar biasa, yang mampu mengalahkan Wanda Geni dengan kawan- kawannya sekaligus, namun ketika ia melihat tandangnya dengan mata sendiri,
hatinya menjadi berdebar-debar.
“Dimana anak ini menyadap ilmunya itu?” desis Sapu Angin di dalam hatinya.
Dengan demikian, maka Sapu Angin tidak dapat lagi menganggap lawannya
hanyalah seorang anak muda.
Sapu Angin yang duduk dipunggung kuda itu tiba-tiba merasa tubuhnya terguncang.
Ia sadar sepenuhnya ketika kudanya tiba-tiba melengking dan melonjak.
Agaknya kudanya telah tersentuh ujung pedang Bramanti sehingga kudanya itu terkejut dan berdiri di atas kaki belakangnya.
Dalam keadaan serupa itulah Bramanti menyerang. Begitu dahsyatnya.
Lawannya yang masih berusaha mencari keseimbangan,
dengan susah payah berusaha menangkis serangan Bramanti itu.
Namun kekuatan Bramanti yang tercurah di tajam senjatanya,
telah mendorong Sapu Angin demikian dahsyatnya.
Ketika kudanya sekali lagi bergoyang, maka Sapu Angin tidak mampu lagi menahan
keseimbangannya. Karena itu, maka ketika pedang Bramanti sekali lagi menyambarnya,
letak Sapu Angin telah mulai bergoyah.
Bramanti tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Sekali lagi ia menyentuh leher kuda itu
dengan pedangnya, sehingga kuda itu pun sekali lagi melonjak.
Sapu Angin benar-benar telah kehilangan keseimbangannya.
Karena itu Bramanti menyerangnya dengan garang, tidak ada jalan lain baginya daripada berguling di sisi lain.
Demikianlah Sapu Angin dan Bramanti telah berhadapan dengan kaki di atas tanah.
Ternyata keduanya adalah orang-orang yang tangguh dan memiliki ilmu yang jauh
melampaui orang-orang kebanyakan.
Ki Demang yang tidak menyangka, bahwa keadaan akan berkembang menjadi sedemikian buruknya, masih berdiri dalam kebingungan. Sekali-kali ia bergeser, sehingga akhirnya ia berdiri di atas tangga pendapa seperti orang yang kehilangan akal.
Halaman rumah Bramanti itu telah menjadi arena pertempuran yang menjadi semakin seru. Orang-orang Panembahan Sekar Jagat telah berkelahi dengan kemarahan yang meluap-luap. Mereka tidak pernah mendapat perlawanan hampir di semua daerah yang pernah dikunjunginya. Dan tiba-tiba kini mereka harus benar-benar bertempur melawan jumlah yang jauh lebih banyak dari jumlah mereka yang hanya enam itu.
Ketika mereka berangkat dari padepokan Panembahan Sekar Jagat, mereka menyangka, bahwa tugas mereka tidak akan terlampau berat. Sekadar menangkap Putut Sabuk Tampar. Dan pekerjaan itu telah diserahkan kepada seseorang yang memang dapat dipercaya, Sapu Angin. Sedang yang lain hanyalah sekadar mengawasi dan menjaga agar Putut itu tidak sempat melarikan diri. Namun tiba-tiba yang dijumpai adalah anak-anak muda Kademangan Candi Sari yang seolah-olah menjadi wuru dan melawan mereka sejadi-jadinya.
Ki Tambi yang mempunyai pengalaman cukup banyak ternyata memiliki kemampuan yang cukup untuk melawan Wanda Geni. Meskipun ia tidak dapat menghadapinya sendiri, tetapi ia mampu memimpin perlawanan bersama beberapa anak-anak muda. Dengan demikian, betapa garangnya Wanda Geni, namun menghadapi mereka, hatinya menjadi kecut juga. (Bersambung)-m
Posted on December 7th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan 213 Views





Leave a Reply