Tanah Warisan 173

01-02-2002,  Di bagian lain Ki Jagabaya bersama dua orang pengawal berkelahi mati-matian melawan  seorang penunggang kuda. Kekuatan tubuh Ki Jagabaya ternyata mampu diandalkan. Meskipun ia tidak setangkas lawannya, namun ternyata kekuatannya merupakan kelebihan yang dapat dibanggakan. Sedang kedua kawannya telah membantunya, mengisi setiap kekurangan yang ada padanya. Panjang pun telah bertempur mati-matian di dalam sebuah kelompok kecil yang terdiri dari empat orang. Sebagai seorang baru, maka Panjang berusaha untuk tidak mengecewakan. Ternyata bahwa ia memiliki keberanian yang cukup. Seperti pada saat ia mengendap di padang  ilalang, menunggu seekor harimau di masa pendadaran.

Ia sama sekali tidak mengenal takut. Meskipun pengalamannya masih kurang namun bersama kawan-kawannya ia mampu membuat lawannya kebingungan.

Temunggul ternyata memiliki kelincahan yang cukup. Ia tidak melawan lawannya yang
berkuda seorang diri. Dengan tangkasnya mereka meloncat-loncat berputaran,
supaya lawannya menjadi bingung dan kadang-kadang kehilangan pengamatan.
Dalam keadaan demikian lawannya selalu membawa kudanya berlari beberapa langkah menjauh, kemudian berputar dan menyerang dengan dahsyatnya. Pedangnya terayun-ayun menyambar lawan-lawannya.

Anak-anak muda yang lainpun telah melibatkan diri didalam perlawanan itu.
Suwela ternyata gigih juga. Apalagi pengawal-pengawal yang lebih tua daripadanya.

Orang-orang Panembahan Sekar Jagat itu ternyata telah masuk ke dalam suatu perangkap yang ketat. Sulitlah bagi mereka untuk dapat keluar lagi dari halaman itu.
Dengan dada berdebar-debar mereka melihat wajah-wajah anak Candi Sari yang telah
menjadi merah membara.

Selama ini mereka telah menekan diri, menahan setiap niat untuk melakukan perlawanan. Kini dada mereka serasa meledak. Ketika keringat telah menetes dari kening dan membasahi hulu-hulu senjata, maka lenyaplah segala keragu-raguan.

Dengan demikian, maka perkelahian di antara mereka itupun menjadi semakin lama
semakin cepat. Kedua belah pihak telah terbakar oleh kemarahan yang menyala di dalam dada masing-masing.

Yang setiap saat menumbuhkan pertanyaan adalah Bramanti. Ki Demang yang berdiri
kebingungan ditangga pendapa, sekilas melihat betapa Bramanti mampu mengimbangi
lawannya yang bernama Sapu Angin itu.

Bahkan sekali-kali Ki Demang menahan nafas. Sama sekali tidak terduga-duga,
bahwa Bramanti mampu berkelahi sedahsyat itu. Pedang pendeknya menyambar-nyambar seperti burung sikatan. Cepat dan berbahaya, mengarah kesegenap bagian tubuh lawannya.

Sapu Angin adalah seorang yang menyimpan pengalaman cukup di dalam dirinya.
Namun melawan Bramanti yang menyebut dirinya Putut Sabuk Tampar, terasa, bahwa ia masih harus berbuat banyak sekali pertimbangan-pertimbangan.
Ternyata ia tidak dapat berkelahi sambil tertawa-tawa seperti yang sering dilakukannya.
Kemudian berteriak-teriak didesaknya lawannya sampai ke dalam suatu keadaan yang
paling sulit. Dengan darah yang dingin, ia selalu membunuh lawannya pada saat lawannya sudah tidak mampu melawan lagi. Perlahan-lahan dihujamkannya ujung pedangnya di dada atau leher lawannya itu. Bahkan kadang-kadang dibiarkannya lawannya tidak segera mati.

Tetapi kali ini yang dihadapi agaknya lain dari yang pernah terjadi.
Ia sama sekali tidak sempat tertawa dan apalagi berteriak-teriak.
Bahkan setiap usahanya untuk menguasai lawannya selalu tidak berhasil.

Sapu Angin menggeram. Dikerahkannya segenap kemampuan yang ada padanya.
Suatu hal yang jarang-jarang dilakukannya.

Tetapi Putut Sabuk Tampar itu benar-benar seorang anak muda yang tangguh.
Pedang pendeknya melibat lawannya dari segala arah, sehingga pedang itu seakan-akan
telah berubah menjadi puluhan mata pedang yang terbang disekitarnya.

Leave a Reply