Tanah Warisan 174

02-02-2002,  Bukan saja Sapu Angin yang menjadi keheranan dan bahkan kecemasan menghadapi lawannya.
Namun yang lainpun mengalami tekanan yang serasa menjadi berat.
Wanda Geni yang meskipun masih di atas punggung kuda, namun ia seolah-olah telah
terkurung dalam satu lingkaran yang sempit. Semakin lama kudanya bahkan menjadi semakin liar dan sulit dikendalikan.

Meskipun demikian, agaknya kebiasaan yang kasar dan liar dari orang-orang Panembahan Sekar Jagat itu mempunyai pengaruh juga di dalam perkelahian itu. Perlakuan yang tidak terduga-duga, kadang-kadang membuat anak-anak muda Candi Sari menjadi ngeri.

Ketika perkelahian itu berlangsung semakin seru, maka mulailah senjata-senjata mereka bersentuhan. Tidak saja senjata membentur senjata. Tetapi kadang-kadang terdengar juga keluhan tertahan. Anak-anak muda Candi Sari yang belum berpengalaman itu menjadi bingung ketika mereka melihat kawan mereka mulai dibasahi oleh darah.

Dada mereka berguncang ketika mereka mendengar seorang kawannya yang lain justru
memekik tinggi. Pedang seorang pengikut Panembahan Sekar Jagat telah menyambar
pundaknya. Tertatih-tatih ia terdorong surut. Hampir saja justru kuda lawannya
menginjaknya, apabila ia tidak segera ditarik oleh kawannya. Namun dalam pada itu
orang berkuda itu sempat sekali menggoreskan pedangnya. Anak muda yang sedang menolong, melepaskan kawannya dari injakan kuda itu, mengaduh pula.
Punggungnya telah tergores oleh pedang lawannya dan membuat luka yang panjang.
Darahnya segera mengalir menitik membasahi tanah. Tanah kelahiran.

Namun ternyata hal itu telah mempengaruhi keberanian anak-anak Candi Sari.
Pada dasarnya orang-orang Panembahan Sekar Jagat telah merupakan hantu bagi mereka. Kini mereka melihat beberapa orang kawan-kawan mereka itu terluka.
Dengan demikian, maka kengerian yang sangat telah merambat membelit hati.

Tambi yang melihat gelagat itu menjadi cemas. Anak-anak itu tidak boleh patah pada
saat mereka mulai. Karena itu, untuk menambah gairah perlawanan, Tambi berteriak,
“Jangan beri kesempatan mereka melarikan diri.”

Tetapi terdengar salah seorang dari mereka menjawab, “Lihat. Korban telah berjatuhan
di kalangan kalian. Apakah kalian masih dapat berteriak dan mengatakan bahwa kami akan melarikan diri?”

Tambi menggeram. Ia menyerang lebih dahsyat lagi. Karena itu maka perkelahian pun
menjadi semakin lama semakin cepat.

Halaman rumah dan kebun disebelah menyebelah rumah Bramanti menjadi seakan-akan dibajak. Tanaman-tanaman kecil dan tumbuh-tumbuhan perdu menjadi hancur karenanya. Bukan saja kaki-kaki mereka yang bertempur, tetapi telapak kaki-kaki kudalah yang membuat tanah itu menjadi teraduk.

Semakin lama, maka hati anak-anak muda Candi Sari menjadi semakin sempit.
Hanya beberapa orang saja yang masih melawan dengan penuh keberanian. Temunggul,
Panjang dan beberapa orang lagi justru menjadi semakin marah, dan mereka berusaha
sekuat-kuat tenaga mereka untuk menahan lawannya.

Ki Jagabayapun menjadi marah bukan kepalang. Disentakkannya segenap kekuatannya untuk menahan keganasan lawannya. Ketika ia menyerang sejadi-jadinya, maka anak-anak muda yang membantunya, mencoba untuk menjatuhkan kudanya. Meskipun sebenarnya bukan mereka maksudkan, namun agaknya salah seorang pengawal telah menusuk lambung kuda itu selagi penunggangnya sibuk menangkis serangan Ki Jagabaya.

Tusukan itu ternyata telah membuat kuda itu meloncat tanpa dapat dikendalikan lagi.
Dengan demikian, maka penunggangnya menjadi kehilangan keseimbangannya.
Sebelah tangannya mencoba menguasai kendali kudanya, sedang tangan yang lain berusaha menangkis serangan Ki Jagabaya.

Tetapi dengan demikian, perhatiannya sudah terbagi. Ketika Ki Jagabaya, menyerangnya sekali lagi dengan ayunan yang kuat, maka penunggang kuda itu tidak lagi mampu bertahan. Benturan yang terjadi telah melemparkannya beberapa langkah dari kudanya, tepat ketika kuda itu meronta sekali lagi.

Leave a Reply