Tanah Warisan 175
03-02-2002, Nasib orang itu memang terlampau malang.Begitu ia berusaha melenting berdiri, maka kudanya yang seakan-akan menjadi gila karena lukanya telah melanggarnya, sehingga sekali lagi ia terbanting jatuh.
Selanjutnya, orang itu tidak mendapat kesempatan bangkit untuk selama-lamanya.
Sebilah pedang telah menghujam ke dadanya langsung menyentuh jantungnya.
Yang terdengar adalah sebuah pekik yang pendek. Kemudian diam.
Wanda Geni dan Sapu Angin yang mendengar pekik itu masih sempat melihat salah seorang anak buahnya menggeliat. Kemudian mereka pasti, bahwa orang itu telah mati.
Kemarahan yang memuncak telah membakar dadanya. Dengan demikian maka mereka pun segera mengerahkan kemampuan yang ada pada mereka untuk segera mengakhiri pertempuran.
Tetapi lawan-lawan mereka pun ternyata berbuat serupa. Mereka tidak membiarkan diri mereka terlibat oleh kemarahan lawan. Sehingga mereka pun telah mengerahkan segenap kemampuan yang ada pada diri masing-masing.
Dalam pada itu, di dalam rumah, dibalik pintu pringgitan, ibu Bramanti duduk bersimpuh
berpegangan tiang. Kepalanya yang tertunduk menyimpan berbagai macam persoalan dan hatinya pun telah dihentakkan oleh peristiwa yang terjadi di halaman itu.
“Bramanti,” desisnya.
Nyai Pruwita telah dilanda oleh kecemasan yang dahsyat. Semula ia mencoba mempercayakan keselamatan anaknya kepada Ki Tambi. Namun keadaan berkembang semakin panas, sehingga hampir saja ia berlari keluar. Terbayang di rongga matanya, betapa ayah Bramanti dahulu berkelahi melawan beberapa orang, sehingga akhirnya suaminya itu terkapar tidak bernyawa lagi. Tak seorang pun menaruh belas kasihan kepadanya, dan bahkan sebagian terbesar dari orang-orang Kademangan ini merasa bersyukur karenanya.
Dan tiba-tiba ia melihat orang-orang Kademangannya mendatangi anak laki-lakinya.
Anak Pruwita yang terbunuh itu.
Namun sebelum ia meloncati pintu, terdengar suara derap kaki-kaki kuda memasuki
halamannya. Dan sekali lagi ia mendengar nama anaknya dipanggil-panggil.
Betapa gemetar kaki dan tangannya, tetapi ia mencoba untuk mengintip apa yang telah
terjadi di halaman.
Namun yang terjadi agaknya telah membingungkannya. Sampai pada suatu saat, di halaman itu telah terjadi perkelahian. Tetapi perkelahian yang terjadi justru antara anaknya bersama-sama orang-orang Kademangan ini, melawan orang-orang Panembahan Sekar Jagat.
Semula hati orang tua itu dicengkam oleh kecemasan yang memuncak. Ia tahu, betapa kuat dan buasnya orang-orang yang menyebut diri mereka sebagai utusan Panembahan Sekar Jagat. Namun lambat laun terungkatlah perasaan yang telah puluhan tahun terpendalm di dalam sudut hatinya yang paling dalam.
Posted on December 7th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan 207 Views





Leave a Reply