Tanah Warisan 176
04-02-2002, Sekilas teringat olehnya, bagaimana ia membantu suaminya yang dahulu mencoba membina Kademangan ini. Suaminya yang saat itu menjadi seorang Demang. Dan sebagai istri seorang Demang, maka ia tidak dapat melepaskan diri dari setiap usaha suaminya untuk kepentingan Kademangannya. Dan ia pun telah ikut serta dengan penuh kebanggaan.
Tetapi kebanggaan itu telah hancur. Hancur dan terpendam untuk waktu yang lama, sejak ia kawin dengan suaminya yang kedua, yang semula merupakan laki-laki kebanggaannya pula.
Namun, pada saat ia melihat Bramanti berkelahi melawan orang-orang Panembahan Sekar Jagat, kebanggaan yang telah hampir terpendam sama sekali itu tiba-tiba terungkat. Seolah-olah ia melihat anaknya sedang memimpin orang-orang Kademangan ini seperti suaminya yang pertama, yang selalu berdiri di paling depan.
Tetapi sebagai seorang ibu, ia sangat mencemaskan nasib anaknya itu. Orang-orang
Panembahan Sekar Jagat bukanlah orang-orang yang baru mengenal senjata kemarin sore. Sedang anaknya masih terlalu muda untuk memiliki pengalaman yang cukup.
Karena itu, ia berada di dalam kebingungan. Sekali-kali ia ingin melihat apa yang
terjadi. Kadang-kadang ia mencoba mengintip dari celah-celah pintu rumahnya.
Namun kemudian ia memejamkan matanya. Perasaan-perasaan yang mengendap dan bergumpal-gumpal tersimpan di dalam dadanya serasa bersama-sama muncul ke permukaan. Kebanggaan seperti yang pernah didambakannya atas suaminya yang pertama, namun juga kecemasan apabila terbayang cara kematian suaminya yang kedua.
Dengan demikian maka Nyai Pruwita itupun kemudian duduk saja serasa membeku bergayut pada tiang di sisi pintu pringgitan.
Suara dentang senjata, ringkikan kuda dan kadang-kadang pekik seseorang, setiap kali
terasa tergores didinding jantungnya, membuat luka-luka yang pedih.
Namun bayangan dari akhir pertempuran yang terjadi dihalaman itu, agaknya menjadi
semakin lama semakin nyata. Jumlah orang-orang Sapu Angin menjadi kian berkurang.
Dua orang telah terbunuh, meskipun di pihak Kademangan Candi Sari juga jatuh beberapa orang korban yang terluka. Tiga orang terluka parah, dan empat orang masih mampu menggenggam senjata mereka untuk melawan.
Kematian dua orang anak buah Sapu Angin telah membakar hati para pengawal.
Keadaan sudah terlanjur menjadi demikian buruknya, sehingga tidak ada gunanya lagi
untuk berpikir yang lain, daripada berkelahi mati-matian.
Sapu Angin menggeram ketika, sekali lagi ia melihat seorang anak buahnya terpelanting.
Tetapi ia masih sempat bangun dan mengadakan perlawanan di atas tanah, meskipun dari punggungnya telah mengalir darah.
Namun lebih dari peristiwa itu semua, yang paling membakar jantungnya adalah lawannya. Seorang anak muda yang bernama Bramanti dan menyebut dirinya Putut Sabuk Tampar. Sama sekali tidak disangka-sangkanya bahwa ia akan bertemu dengan anak sekuat dan setangguh itu. Sebagai seorang yang mempunyai pengalaman yang cukup, belum pernah Sapu Angin bertemu dengan anak muda yang demikian tangguhnya.
Benturan-benturan senjata mereka telah memperingatkan Sapu Angin, bahwa kekuatan
Bramanti mampu mengimbanginya. Kecepatan bergerak dan kemampuan mengatasi setiap kesulitan, benar-benar telah membuat Sapu Angin menjadi heran.
Tetapi ia telah bertekad untuk menghancurkan lawannya. Itulah sebabnya maka ia tidak mempunyai perhitungan lain, selain berkelahi terus sampai Putut Sabuk Tampar itu
terbunuh.
Namun dengan demikian, Sapu Angin tidak mau melihat kenyatan. Lawannya yang masih sangat muda itu ternyata tidak dapat dibunuhnya dengan mudah. Bahkan semakin lama semakin terasa betapa beratnya melawan Putut Sabuk Tampar.
Posted on December 7th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan 199 Views





Leave a Reply