Tanah Warisan 177
05-02-2002, Pedang pendek Bramanti ternyata terlampau berbahaya bagi lawannya. Bahkan setiap kali pedang itu berdesing dekat didepan telinga Sapu Angin.
Betapa ia mengerahkan tenaganya, namun pedang pendek itu selalu terbang berputar-putardi sekitarnya.
Sapu Angin menggeretakkan giginya. Dengan darah yang mendidih ia merendah.
Kini serangannya dipusatkan dibagian bawah tubuh lawannya. Setiap kali senjatanya
terayun menyambar lutut, kemudian pergelangan kaki. Sebelum Bramanti menampakkan kakinya ia menghindari senjata itu, Sapu Angin telah berputar di atas telapak tangannya, sedang sebelah kakinya menyambar lambung Bramanti.
Bramanti menggeretakkan giginya. Cara ini agaknya membuatnya terdesak. Namun, sebagai seorang yang mempunyai cukup ilmu, maka Bramanti pun harus menyesuaikan diri. Kini Bramanti justru berloncat seakan-akan tidak berjejak di atas tanah.
Dengan garangnya, pedangnya berputar-putar di atas kepala Sapu Angin yang selalu
merendah di atas lututnya.
Demikianlah perkelahian itu semakin lama menjadi semakin seru. Keduanya telah
mengerahkan segenap kemampuan yang ada. Keringat mereka seperti terperas dari lubang-lubang kulit membasahi pakaian yang melekat ditubuh mereka.
Dan Sapu Angin masih saja mencoba mencari kelemahan di bagian bawah tubuh Bramanti. Senjatanya dan kakinya bergantian menyambar-nyambar, tanpa memberi kesempatan kepada Bramanti untuk tegak barang sekejappun.
Tetapi meskipun Bramanti harus melonjak-lonjak seperti berdiri di atas bara, namun
pedang pendeknyapun tidak kalah dahsyatnya menyerang kepala lawannya. Seperti seekor lebah yang buas, beterbangan dengan lincahnya, mencari kesempatan untuk menyengat kepala itu.
Di bagian lain dari perkelahian itu pun menjadi semakin nyata bahwa anak-anak
Kademangan Candi Sari akan segera menguasai keadaan. Lawan mereka menjadi semakin sedikit.
Tiba-tiba perkelahian itu seolah-olah terhenti, ketika mereka mendengar Sapu Angin
mengumpat keras-keras. Sekali ia berteriak, kemudian wajahnya menjadi tegang.
Matanya seakan-akan meloncat dari pelupuknya, sedang tubuhnya menjadi gemetar.
Mereka terperanjat ketika mereka melihat dari sela-sela jari tangan Sapu Angin yang
menekan dadanya, meleleh darahnya yang merah, semerah matanya yang memancarkan kemarahan tiada taranya.
“Setan kau, kau,” suaranya terputus-putus. “Jangan lari. Aku cincang kau sampai lumat.”
Dihadapan Sapu Angin, beberapa langkah daripadanya, Bramanti berdiri seolah-olah
membeku. Di tangannya tergenggam pedang pendeknya yang telah diwarnai oleh darah.
Sapu Angin terhuyung-huyung maju selangkah. Tetapi darah yang meleleh di sela-sela
jari tangannya menjadi semakin banyak. Akhirnya tubuhnya pun roboh menelungkup di atas tanah.
Tetapi Sapu Angin masih mencoba mengangkat wajahnya. Dengan senjata yang masih
digenggamnya erat-erat ia menggeram. “Kubunuh kau anak iblis. Kubunuh kau,”
Dan kepala itupun segera terkulai lemah. Ketika kepala itu sekali lagi bergerak,
maka terputuslah nafas Sapu Angin yang terakhir.
Kematian Sapu Angin ternyata telah mengejutkan setiap orang di dalam pertempuran itu. Baik orang-orang Kademangan Candi Sari, maupun orang-orang Panembahan Sekar Jagat yang masih hidup. Namun selagi mereka terpukau oleh mata pedang Bramanti yang kemerah-merahan, dua ekor kuda yang membawa Wanda Geni dan seorang kawannya telah menyelinap keluar dari regol dan berlari kencang seperti di kejar hantu. Derap kaki-kaki kuda itu seolah-olah telah menggema memenuhi padukuhan.
Ternyata mereka telah melarikan diri, sambil meninggalkan korban di antara kawan-kawan mereka. Salah satu dari korban itu adalah Sapu Angin sendiri.
Posted on December 7th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan 249 Views





Leave a Reply