Tanah Warisan 178
06-02-2002, Dalam kebekuan yang panas itu, Bramanti merasa sebuah sentuhan dibahunya. Ketika ia berpaling, maka dilihatnya Ki Tambi tersenyum kepadanya. Katanya, “Pundakmu terluka Bramanti?”
Bramanti mengerutkan keningnya. Ketika ia mengamati pundaknya dan merabanya,
terasa darah telah membasahi telapak tangannya. Barulah kemudian terasa luka itu
menjadi pedih.
“Mungkin kau tidak merasa, karena kau terlampau memusatkan segenap kemampuan,
pikiran dan getar di dalam dirimu untuk menghadapi Sapu Angin.
Ternyata kau mampu mengalahkannya.”
Bramanti menarik nafas dalam-dalam.
“Ternyata orang-orang Panembahan Sekar Jagat dapat juga kita lawan, meskipun kita
harus minta bantuan dari Resi Panji Sekar, dengan meminjam seorang Pututnya yang
bernama Sabuk Tampar.”
Bramanti tidak menjawab.
“Semua mata sekarang tertuju kepadamu Bramanti. Kau tidak dapat lagi berpura-pura
seperti seekor anak kambing yang lemah dan cengeng. Kau adalah anak harimau yang akan tumbuh menjadi harimau juga.
Bramanti masih belum menjawab. Hanya sekali-kali tangannya mengusap luka dipundaknya yang semakin terasa pedih.
“Bahkan dugaanku benar,” terdengar sebuah suara yang lain, yang ternyata adalah suara Panjang. “Sejak aku melihat jalur merah di dadamu, sesaat setelah aku berkelahi melawan harimau itu aku sudah bercuriga. Tetapi kau selalu mengelak.”
“Apa maksudmu Panjang?” bertanya Suwela.
“Kau ingat orang yang menolong kita di masa pendadaran?”
Suwela mengerutkan keningnya.
“Ketika tanpa kami ketahui, kami harus berhadapan dengan dua ekor harimau?”
Suwela menganggukkan kepalanya.
“Kalau tidak ada seseorang yang menolong kita waktu itu, kita tidak akan dapat ikut
didalam pertempuran ini.”
“Maksudmu, yang menolong kita waktu itu Bramanti?”
“Ya.”
Suwela mengerutkan keningnya. Dipandanginya Bramanti yang berdiri tegak seperti tonggak.
Dada Suwela itu menjadi berdebar-debar. Bramanti yang berdiri dihadapannya ini serasa sama sekali bukan Bramanti yang pernah dilihatnya, yang bahkan pernah dilecutnya di arena tanpa melawannya sama sekali. Tetapi Bramanti yang sekarang adalah Bramanti yang perkasa, dengan sebilah pedang yang telah dibasahi oleh darah lawannya.
Namun tiba-tiba keheningan yang sejenak itu telah dipecahkan oleh suara Nyai Pruwita
yang berlari-lari keluar dari pringgitan.
Bramanti berpaling. Dilihatnya ibunya berlari kearahnya. Dan sebelum ia beranjak, maka ibunya telah memeluknya sambil menangis.
“Kau selamat Bramanti.”
“Aku masih mendapat perlindungan dari Yang Maha Kuasa ibu.”
“Kau luar biasa anakku. Kau dapat mengatasi lawanmu yang tangguh. Kau telah memberi aku kebanggaan seperti masa-masa lampau, semasa aku masih diperlukan oleh orang-orang Kademangan ini.”
Bramanti tidak menjawab, tetapi dadanya berdesir.
“Kau telah berbuat sesuatu untuk Kademangan ini anakku. Kademangan yang telah dibina berpuluh-puluh tahun. Mudah-mudahan bermanfaat bagi masa mendatang,” ibunya berhenti sejenak, lalu, “Bersyukurlah bahwa kau telah diselamatkan oleh Kuasa-Nya.
“Ya ibu,” jawab Bramanti.
“Nah Nyai,” berkata Ki Tambi. “Bukankah anakmu tidak apa-apa.”
Nyai Pruwita mengangguk-anggukkan kepalanya. Dilepaskannya anaknya perlahan-lahan.
Posted on December 7th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan 203 Views





Leave a Reply