Tanah Warisan 179

07-02-2002,  Namun kekakuan masih juga mencengkam halaman rumah Bramanti. Kemenangannya itu ternyata telah mengejutkan sekali. Terutama bagi para pengawal.
Setelah mereka kehilangan lawan masing-masing, maka kini mereka sempat menyadari
keadaan. Mereka sempat membuat pertimbangan tentang Bramanti yang ternyata telah
berhasil membunuh Sapu Angin.

Temunggul, pimpinan para pengawal, seakan-akan membeku ditempatnya.
Kawannya yang terjerumus ke dalam tebing di dekat gerojogan bahkan telah menggigil
ketakutan, karena apabila dikehendaki, maka Bramanti pasti dapat berbuat apa saja
atasnya.
Bahkan Ki Jagabaya pun menjadi termanggu-manggu menanggapi keadaan yang terasa aneh baginya.

Dalam kebekuan itu terdengar suara Ki Tambi, “He, kenapa kalian seakan-akan telah
berubah menjadi patung batu? Kita telah memenangkan perjuangan kali ini.
Kita harus bergembira, bahwa ternyata kita pada suatu saat masih dapat bangkit sebagai
pengawal Kademangan kita ini yang sebenarnya. Bukan sekadar pendadaran di arena,
berburu harimau, menundukkan kuda liar, tetapi tidak berbuat sesuatu yang terasa
manfaatnya langsung bagi rakyat Kademangan ini. Dan sekarang kita sudah berbuat.”

Tidak seorang pun yang menjawab. Mereka seakan-akan masih saja membeku ditempat masing-masing.
Ki Tambi mengerutkan keningnya. Dan tiba-tiba ia mengedarkan pandangan matanya ke
sekeliling halaman sambil berdesis, “Dimana Ki Demang?”
Semua matapun kemudian mencari kesekitar halaman itu. Tetapi tidak seorang pun yang melihatnya.

“Ki Demang harus melihat kemenangan ini. Ki Demang harus melihat, bahwa orang yang
bernama Sapu Angin pun dapat kita kalahkan dan terbunuh pula oleh Bramanti.” Ki Tambi berhenti sejenak, lalu, “Dan kita pun sadar, bahwa lain kali mungkin Panembahan Sekar Jagat sendiri akan datang ke Kademangan ini. Tetapi tidak mengapa.
Kita harus harus menyusun pertahanan yang lebih baik dan rapi, sehingga kita akan
dapat melawannya dengan baik.”

Tidak seorang pun yang menyahut, dan tidak seorangpun yang beranjak dari tempatnya.

“Hem,” Ki Tambi menarik nafas dalam-dalam. “Kalian masih terpesona melihat kemampuan Bramanti yang menyebut dirinya Putut Sabuk Tampar. Jangan cemas. Ia tidak akan berbuat apapun. Meskipun kini kalian mengetahui, bahwa Bramanti sebenarnya bukan anak kambing yang cengeng, tetapi ia adalah seekor harimau yang garang.”
Wajah-wajah para pengawal pun menjadi tegang. Apalagi Temunggul.

“Aku menjamin, bahwa Putut Sabuk Tampar tidak akan berbuat apapun atas kalian,”
sambung Ki Tambi. “Bukankah kalian kini menjadi cemas, bahwa Putut ini akan melepaskan sakit hatinya atas perlakuan kalian? Atau bahkan kalian mencemaskannya, bahwa ia akan membalas dendam atas kematian ayahnya? Tidak. Aku tidak yakin.”

Ketika Ki Tambi memandang wajah Bramanti, anak itu menundukkan kepalanya.

“Bahwa ia telah berpura-pura selama ini, adalah suatu usaha daripadanya untuk
menjauhkan segala prasangka buruk tentang pembalasan dendam itu. Kalau ia mau, maka semua sudah terjadi. Bukan sekadar menjerumuskan seseorang dari atas tebing di
gerojogan. Itu adalah pekerjaan anak-anak. Sedangkan orang yang bernama Sapu Angin
inipun dapat dikalahkannya,” Ki Tambi berhenti sejenak lalu, “Nah, apakah kalian
menyadarinya?”  Perlahan-lahan Ki Tambi melihat beberapa kepala mengangguk-angguk. Ki Jagabaya yang mendengarkan kata-kata Ki Tambi itu dengan mulut ternganga, tiba-tiba melangkah mendekati Bramanti sambil berkata, “Aku minta maaf Bramanti.”
Bramanti menarik nafas. Jawabnya, “Kita sama-sama bersalah Ki Jagabaya. Karena itu
marilah sama-sama kita lupakan.” (Bersambung)-m

Leave a Reply