Tanah Warisan 180
08-02-2002, “Terima kasih. Kau memang anak yang baik. Jauh berbeda dengan ayahmu dahulu.”Dahi Bramanti berkerut. Tetapi ia tahu, bahwa Ki Jagabaya adalah seorang yang berhati
terbuka. Ia mengatakan apa yang ingin dikatakannya.
“Nah,” berkata Ki Jagabaya kepada anak-anak muda pengawal Kademangan. “Seharusnya kalian pun minta maaf kepadanya. Aku pernah melihat seseorang menggait kakinya di halaman Kademangan sehingga anak ini jatuh tertelungkup. Kemudian di arena, seseorang dengan sombongnya melecutnya meskipun anak itu tidak melawan. Yang terakhir adalah apa yang baru saja kita lakukan. Beramai-ramai datang ke halaman ini seperti akan menangkap pencuri. Ayo terutama, kau Temunggul. Kaulah yang membuat ceritera tentang balas dendam ini. Bagaimana?”
Terasa darah Temunggul menjadi semakin cepat mengalir. Tetapi ia harus mengakui
kenyataan, betapapun pahitnya. Terlebih pahit lagi apabila dikenangnya hubungan
Bramanti dengan Ratri, yang kini pasti tidak dapat dihalangi lagi.
“Apa boleh buat,” desisnya. “Ternyata Ratri pun sama sekali tidak menanggapi perasaannya. Dengan langkah yang berat Temunggul maju mendekati Bramanti. Dengan suara yang bergetar ia berkata perlahan-lahan, “Maafkan semua kelakuan-kelakuanku Bramanti.”
“Lupakanlah semua. Kita bersama-sama mencoba untuk membuat lembaran baru di dalam pergaulan di Kademangan ini. Bukan saja pergaulan di antara kita, tetapi juga
pergaulan keluar. Kita harus berusaha, bahwa tidak ada orang lain yang dapat
mengganggu dengan cara apapun.”
Temunggul mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya. Aku sependapat.”
“Pengalaman hari ini adalah cambuk untuk mendorong kebangkitan kita bersama.
Kita harus bangun dan berkuasa di rumah kita sendiri.”
Sekali lagi Temunggul mengangguk, “Baiklah,” jawabnya. “Aku bersedia.”
“Nah,” berkata Ki Tambi kemudian, “Kita akan menyampaikannya kepada Ki Demang.
Kita harus mencarinya. Mudah-mudahan ia tidak diterkam oleh Wanda Geni yang sedang melarikan diri itu.”
“Baik Ki Tambi,” jawab Bramanti. “Tetapi aku akan membersihkan halaman rumah ini.
Kita masih harus mengubur mayat-mayat ini, dan mengobati setiap luka. Juga lukaku
sendiri.”
“O,” Ki Tambi mengangguk-anggukkan,” sebaiknya memang begitu. Marilah anak-anak,
kita bersihkan halaman ini.”
Maka para pengawal yang tidak tersentuh sama sekali oleh senjata, segera membersihkan halaman Bramanti. Mereka yang terluka pun segera diobati. Namun tampaklah bahwa wajah-wajah mereka kini menjadi cerah. Secerah kepercayaan kepada diri sendiri telah mulai merayapi jantung para pengawal itu. Ternyata bahwa Wanda Geni dan bahkan Sapu Angin adalah manusia-manusia biasa yang terdiri dari kulit, daging, tulang dan darah. Mereka sama sekali tidak kebal oleh senjata. Dan mereka sama sekali tidak bernyawa rangkap.
Posted on December 8th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan 213 Views





Leave a Reply