Tanah Warisan 181

09-02-2002,  Hampir sehari anak-anak muda Candi Sari sibuk membersihkan halaman rumah Bramanti yang digenangi oleh darah kawan dan lawan. Dan belum sehari, berita tentang perkelahian yang menentukan itu telah tersebar.
“Bramanti, Bramanti anak Nyai Pruwitakah yang dimaksud?” bertanya salah seorang kepada tetangganya yang berceritera tentang Bramanti.
“Ya,” Bramanti itulah.
“Huh, jadi anak penjudi yang terbunuh itu?”

“Ya, tetapi Bramanti bukan penjudi, pemabuk dan penipu licik. Ia justru telah berbuat
sesuatu yang sangat berarti bagi Kademangan ini. Seperti yang dikatakannya sendiri,
bahwa ia ingin mencuci nama keluarganya yang cemar. Dan cara itulah yang dipilihnya.
Sama sekali bukan cara yang kita cemaskan selama ini. Balas dendam.”

“Belum tentu. Siapa tahu, sehari dua hari lagi ia mulai. Dan bagaimanakah anak yang
telah dijerumuskannya di tebing itu.”
“Temunggullah yang bohong. Dan seandainya Bramanti benar-benar ingin membalas dendam, maka Dirga tua itulah yang pertama-tama akan mengalami akibatnya. Bagi Bramanti yang mampu membunuh Sapu Angin itu, maka Dirga sama sekali tidak akan berarti apa-apa lagi baginya. Bukankah Dirgalah yang merencanakan pembunuhan itu meskipun dengan meminjam seribu tangan orang lain.”

Keduanya pun kemudian terdiam sejenak. Keduanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang kini mata mereka justru mulai terbuka, bahwa Bramanti sama sekali memang tidak ada niat untuk membalas dendam atas kematian orang tuanya. Setiap kali ia berkata di dalam hatinya. “Bukan begitu caranya berbakti terhadap orang tua. Bukan mati dibalas dengan mati, darah di balas dengan darah. Tidak. Jika demikian maka seluruh permukaan bumi akan hangus dibakar oleh dendam. Tetapi ia mencoba berbakti kepada orang tua dengan jalan ini. Cinta kasih. Kepada sesama, kepada kampung halaman, kepada siapapun dan kepada apapun.

Orang-orang Kademangan Candi Sari mulai mempercayainya, justru ketika mereka mulai menyadari, bahwa Bramanti adalah seorang yang pilih tanding.

Setelah semuanya selesai, maka beberapa orang berusaha untuk menemui Ki Demang.
Mereka menyangka bahwa Ki Demang pasti sudah pulang ke rumahnya.

Dugaan itu memang benar. Ki Demang memang telah berada di Kademangan.
Ia duduk tepekur seorang diri di pendapa. Keningnya masih basah oleh keringat, dan
debar jantungnya pun masih belum pulih sewajarnya.

Ketika Ki Demang melihat beberapa orang datang kepadanya segera ia berteriak. “He,
kenapa kalian datang kemari? Apakah kalian menemui kesulitan-kesulitan. Tidak, pergi
saja. Pergi sajalah. Aku sudah tidak mau ikut campur lagi.

Tambi yang tertua di antara mereka yang datang ke rumah Ki Demang itu menjadi heran, sehingga justru karena itu, ia tidak segera menjawab.

“Kalau mereka akan menumpas kalian, adalah salah kalian sendiri.
Aku sudah memperingatkan, bahwa perlawanan itu sama sekali tidak menguntungkan.
Tetapi kalian tidak mendengarkannya. Sekarang kalian berlari-lari mencari aku.”

“Ki Demang,” berkata Tambi sareh. “Kami justru membawa kabar gembira bagi Ki Demang. Kali ini kami telah memenangkan perkelahian itu. Bahkan Sapu Angin telah terbunuh di medan. Bukankah hal ini merupakan suatu kebanggaan bagi kita penduduk Kademangan Candi Sari?”

“He, apa katamu? Sapu Angin terbunuh?”

“Ya. Apakah pada saat itu Ki demang sudah tidak menyaksikannya lagi?”

“Bohong. Kalian bermimpi. Sapu Angin tidak akan dibunuh oleh siapapun.”

“Tetapi Sapu Angin telah mati.”

“Tidak. Ia tidak mati. Kalian keliru. Ia baru pingsan dan ia pasti akan bangkit kembali.”

“Kami telah menguburkannya.”

Wajah Ki Demang tiba-tiba menjadi pucat. Dengan suara gemetar ia berkata,
“Siapakah yang berhasil mengalahkannya?”

“Bramanti.” (Bersambung)-m

Leave a Reply