Tanah Warisan 182
10-02-2002, “Bramanti?” mata Ki Demang terbelalak. Tetapi kemudian kepalanya menengadah. Wajah yang pucat itu tiba-tiba menjadi merah darah. Dengan suara gemetar ia berkata, “Kalian telah membuat suatu kesalahan yang besar sekali. Kematian Sapu Angin akan menjadi bencana yang tidak terelakkan bagi Kademangan ini.” Tambi menjadi semakin heran. Tanggapan Ki Demang sama sekali tidak seperti yang mereka harapkan. Bahkan agaknya pun Ki Demang telah menjadi sangat marah.
“Aku tidak menyangka,” Ki Demang melanjutkan, “Bahwa kalian dapat berbuat sebodoh itu. Apakah kalian sama sekali tidak membayangkan, bencana yang bakal menghancurkan Kademangan ini?”
“Kenapa Ki Demang? Bukankah dengan demikian maka orang-orang Panembahan Sekar Jagat itu justru tidak akan berani datang lagi ke Kademangan ini?”
“O, alangkah bodohnya kalian,” Ki Demang berhenti sejenak, lalu “He, Ki Jagabaya.
Apakah kau ikut pula?”
“Ya. Aku telah ikut di dalam pertempuran itu. Aku menganggap bahwa jalan itu adalah
jalan yang sebaik-baiknya untuk menghentikan pemerasan yang masih saja berlangsung
sampai saat ini.”
“Kalian telah menjadi gila,” Ki Demang itu pun kemudian berdiri, “Apakah kalian tidak
dapat membayangkan akibatnya?”
Tidak seorang pun yang menjawab.
“Besok atau lusa, sehari atau dua hari lagi, Kademangan ini akan lebur menjadi abu.”
“Kenapa Ki Demang?”
“Kalau Sapu Angin benar-benar sudah terbunuh, maka pasti Panembahan Sekar Jagat
sendirilah yang bakal datang kemari.”
“Kami sudah siap Ki Demang,” tiba-tiba terdengar suara menyahut. “Apapun yang bakal
terjadi, namun adalah tugas yang paling mulia bagi kami adalah menyelamatkan tanah ini,
Kademangan ini, dan siapapun yang sengaja memeras.”
“Oh, kau itu Bramanti,” desis Ki Demang. “Iblis manakah yang telah merasuk ke dalam
dirimu, sehingga kau mampu melakukannya? Tetapi kau tidak menyadari bahwa karena
perbuatanmu itu, besok atau lusa kau akan dicincang bersama setiap laki-laki dari
Kademangan ini. Tetapi itu tidak berarti apa-apa seandainya kami tidak mengingat
perempuan dan gadis-gadis yang kami tinggalkan. Apakah jadinya dengan mereka itu kelak?”
Mereka yang mendengar kata-kata Ki Demang itu meremang. Sungguh mengerikan.
Dan hal itu tidak mustahil bakal terjadi.
Karena itu, satu dua dari antara mereka menjadi ragu-ragu. Apakah mereka sudah pada
tempatnya berbangga atas kememangan ini.
Namun dalam pada itu terdengar Bramanti menjawab. “Ki Demang. Seandainya benar demikian
yang terjadi, memang, alangkah mengerikannya. Dan kami bersama inilah yang telah
bersalah.” Bramanti berhenti sejenak kemudian, “Tetapi kami bukan patung-patung batu
yang hanya dapat membiarkan Panembahan Sekar Jagat berbuat sekehendak hatinya.
Kami mempunyai tenaga yang dapat kami pergunakan untuk mempertahankan diri.
Kami akan bersama-sama menyusun suatu kekuatan untuk melawan Panembahan Sekar Jagat.
Dan aku yakin, Panembahan Sekar Jagatpun adalah manusia biasa seperti kita.
Kalau tidak ada seorang pun yang dapat melawannya seorang lawan seorang, maka kami,
beberapa orang harus bergabung, untuk menghadapi Panembahan Sekar Jagat itu.”
“Huh, kau adalah seorang yang pandai berkhayal,” jawab Ki Demang. “Kau sangka
Panembahan Sekar Jagat itu apa? Ia adalah seorang Panembahan yang memiliki ilmu
melampaui ilmu manusia biasa. Kalau kalian tidak percaya, baiklah. Marilah kita tunggu
bersama-sama.”
“Baiklah Ki Demang,” jawab Bramanti. “Kita akan bersama-sama menunggu.
Tetapi kepercayaan tentang Sapu Angin yang tidak dapat terkalahkan telah patah.”
Ki Demang mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menyahut.
Posted on December 8th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan 228 Views





Leave a Reply