Tanah Warisan 183
11-02-2002, “Namun demikian,” berkata Ki Jagabaya selanjutnya. “Terserahlah penilaian Ki Demang seterusnya. Barangkali Ki Demang mempunyai cara yang baik untuk melenyapkan kegelisahan ini?”
Bramanti menjadi berdebar-debar mendengar kata-kata Ki Jagabaya itu.
Akibatnya mungkin akan justru menambah kegelisahan karena kepercayaan yang berlebih-lebihan terhadap Panembahan Sekar Jagat. Karena itu, untuk mengatasinya, maka Bramanti pun berkata lantang, “Tidak ada kegelisahan apapun Ki Jagabaya.
Kalau Panembahan Sekar Jagat benar-benar akan datang, dan tidak seorang pun dan bahkan bersama-sama dapat melawannya, maka aku atas nama Putut Sabuk Tampar akan dapat mempersilahkan Resi Panji Sekar untuk secara langsung menghadapinya.
Nah, bagi Resi Panji Sekar, Panembahan Sekar Jagat tidak berarti apapun juga.”
Wajah Ki Demang yang merah menjadi semakin merah. Dan ia masih harus mendengar Bramanti berkata seterusnya. “Sapu Angin, orang kepercayaan dari Panembahan Sekar Jagat tidak dapat bertahan menghadapi kita semuanya. Nah, apakah kira-kira Panembahan Sekar Jagat tidak akan mengalami nasib yang sama? Apakah sebenarnya kelebihan Panembahan Sekar Jagat
dari kita masing-masing.”
Bibir Ki Demang menjadi gemetar. Untuk meyakinkan Bramanti ia berkata, “Panembahan Sekar Jagat itu tidak saja memiliki ilmu kanuragan yang tinggi, tetapi ia mempunyai ilmu sihir yang tiada
taranya. Ia dapat menciptakan apa yang tidak ada di dalam peperangan. Ia dapat memanggil seekor burung garuda dalam sekejap mata.”
“He,” potong Bramanti. “Kalau begitu ada persamaan antara Panembahan Sekar Jagat dan Resi Panji Sekar. Resi Panji Sekar mempunyai ilmu yang serupa. Bukan saja burung garuda, tetapi Resi Panji Sekar dapat menciptakan petir dan guntur. Api dan hujan, gempa bumi dan bahkan ledakan gunung-gunung berapi.”
Wajah yang merah itu menjadi semakin merah. Terdengar gigi Ki Demang gemeratak. Ia sadar, bahwa Bramanti tidak mempercayainya. Anak muda itu sama sekali tidak percaya akan kemampuan Panembahan Sekar Jagat seperti yang dikatakannya.
Karena itu, maka ia pun menjadi kehabisan akal untuk menakut-nakutinya.
“Ki Demang,” berkata Bramanti kemudian, “Kita tidak perlu cemas. Kita bahkan akan berangsur-angsur menjadi tenang dan tentram. Orang-orang Panembahan Sekar Jagat pasti memerlukan waktu untuk berpikir apabila mereka akan datang kemari. Dan bahkan Panembahan Sekar Jagat sendiri.”
“Terserah kepadamu,” geram Ki Demang. “Aku sudah memperingatkan. Dan kalian mengabaikan peringatanku.”
Ki Tambi menarik nafas. Kemudian katanya, “Ki Demang. Marilah kita tanggung bersama-sama apa yang akan terjadi di Kademangan ini. Aku mengerti betapa hati Ki Demang sendiri selalu di gelisahkan oleh kemungkinan yang tidak kita kehendaki itu sebagai seorang Demang. Namun demikian, sebagai penduduk Kademangan yang punya harga diri, seharusnya kita berani berbuat, apapun akibatnya, selama kita merasa, bahwa kita berjalan di jalan yang lurus dan benar.”
“Persetan,” geram Ki Demang. “Aku tidak peduli lagi apa yang akan terjadi dengan kalian.”
“Itu tidak mungkin,” sahut Ki Jagabaya. “Selama kau masih menjadi Demang, maka kau masih tetap bertanggungjawab atas Kademangan ini. Kau kehendaki atau tidak.”
Ki Demang membelalakkan matanya, namun kemudian ia mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Ya. Aku masih tetap sebagai seorang Demang. Aku masih tetap bertanggung jawab atas
keselamatan Kademangan ini. Aku akan mencari cara yang dapat kita tempuh tanpa menghancurkan Kademangan ini seluruhnya. Aku akan mencari hubungan Panembahan Sekar Jagat. Aku akan minta maaf atas segala peristiwa yang telah terjadi. Namun mungkin kita harus mengorbankan satu atau dua orang dari antara kita yang dituntut oleh Panembahan Sekar Jagat. Namun dengan demikian seluruh isi Kademangan ini dapat tertolong.” (Bersambung)-c
Posted on December 8th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan 265 Views





Leave a Reply