Tanah Warisan 185
13-02-2002, Bramanti menggeleng-gelengkan kepalanya, “Tidak ada. Tetapi kita tidak boleh meninggalkan kewaspadaan.” “Tentu. Dan ini adalah tugasmu Temunggul,” sahut Tambi.
Temunggul yang sejak semula berdiam diri, bertanya. “Apakah tugas itu?”
“Kau harus menyiapkan para pengawal. Sama sekali tidak boleh lengah. Untuk menghadapi kemarahan
Sekar Jagat kita harus benar-benar bersiap. Kau harus menempatkan penjagaan di setiap lorong yang memasuki Kademangan ini dari segala penjuru. Mereka harus siap dengan tengara kentongan, misalnya. Setiap orang dari mereka yang melihat kedatangan orang-orang berkuda, mereka harus segera memukul tanda, sehingga kita akan segera dapat bersiap. Kita tidak akan membiarkan diri kita masing-masing diterkam seorang demi seorang,” Tambi berhenti sejenak, kemudian, “Demikian juga setiap orang yang pergi ke sawah. Mereka harus juga membawa kentongan-kentongan
kecil.” Temunggul mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Nah, kau harus segera mengatur. Kita benar-benar dalam keadaan yang gawat. Kita tidak tahu, sampai kapan kita harus selalu berjaga-jaga. Mungkin kelak, apabila perselisihan antara Pajang dan Mataram telah selesai, dan salah satu daripada mereka menjadi mantap, kita akan segera mendapat perlindungan. Tetapi kita harus mempercayakan keselamatan kita saat ini kepada kemampuan kita sendiri.”
Temunggul mengangguk-angguk pula.
“Bukankah begitu Ki Jagabaya.”
“Ya, ya begitu. Aku akan selalu siap berada di Kademangan. Setiap kali terjadi sesuatu,
kalian tidak usah mencari-cari aku.”
“Baiklah,” berkata Ki Tambi. “Sekarang, sekarang kita semua dapat beristirahat.”
“Sejak kapan aku harus berjaga-jaga?” berkata Temunggul.
Tambi mengerutkan keningnya. Terasa tiba-tiba saja Temunggul yang selama ini seorang pemimpin
yang cakap menjadi demikian bodoh dan ragu-ragu.
“Sejak sekarang,” jawab Tambi. “Sebab kemungkinan itu tidak dapat kita duga-duga.
Kapankah pembalasan itu akan dilakukan oleh Panembahan Sekar Jagat.”
Temunggul mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Aturlah para pengawal. Mulailah dari mereka yang terlampau payah di dalam pertempuran yang baru saja terjadi.”
“Baik. Baik. Aku akan mengaturnya sekarang.”
“Bagus. Hati-hatilah. Lawan kita bukan perampok-perampok kecil yang takut mendengar kentong titir-titir.”
Temunggul mengangguk-angguk. Tetapi tiba-tiba saja wajahnya menjadi kosong. Meskipun demikian hal itu dilakukannya juga. Beberapa orang yang datang kemudian setelah pertempuran selesai, segera mendapat tugas untuk menempati gardu-gardu di setiap lorong masuk. Mereka harus menyediakan alat-alat yang dapat memberikan tanda bahwa Kademangan ini akan dilanda bahaya.
Posted on December 8th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan 186 Views





Leave a Reply