Tanah Warisan 186

14-02-2002,  Selama ini penjagaan serupa itu tidak pernah dilakukan. Biasanya mereka membiarkan saja orang-orang Panembahan Sekar Jagat memasuki Kademangan ini. Bahkan mereka berebut dahulu menyingkir dan bersembunyi. Karena itu, maka untuk pertama kali, orang-orang yang ditempatkan digardu-gardu itu pun menjadi berdebar-debar.

“Bagaimana kalau tiba-tiba saja kita dicekik?” bertanya salah seorang penjaga kepada kawannya.

“Kita harus waspada. Karena di gardu ini ada tiga orang, maka kita harus membagi tugas sebaik-baiknya. Setiap saat salah seorang dari kita harus mengawasi lorong ini sebaik-baiknya.”

Demikianlah, maka setiap lorong masuk di Kademangan itu telah dijaga oleh tiga atau empat orang. Mereka harus selalu waspada. kalau tidak maka hidup mereka sendiri terancam dan Kademangan mereka pun terancam pula.

Demikianlah, maka Kademangan Candi Sari serasa telah terbangun dari tidurnya. Anak-anak mudanya, terlebih-lebih lagi para pengawal kini mempunyai tanggung jawab baru. Sebenarnya tanggung jawab seorang pengawal.

Di bantu oleh Bramanti, Temunggul mengatur anak buahnya. Semakin lama menjadi semakin tertib. Bukan saja para pengawal, tetapi setiap anak muda dan laki-laki yang masih mampu menggenggam senjata harus melakukan tugas bersama-sama.

Namun dalam pada itu, kegiatan Kademangan Candi Sari kini seakan-akan telah bergeser. Ki Demang sendiri seakan-akan sama sekali sudah tidak mau tahu, apa yang terjadi di Kademangannya. Ia hanya mengumpat-umpat, marah-marah dan kadang-kadang mengancam. Sedang rumahnya pun kini hampir tidak diacuhkan lagi. Dibiarkannya saja orang-orang yang selalu datang ke Kademangan seperti biasanya. Ki Demang sendiri hampir-hampir tidak pernah menampakkan diri. Demikian juga keluarganya.

“Keluargaku perlu mengungsi,” katanya pada suatu saat kepada Ki Jagabaya.

“Kenapa?”

“Kalau pada saatnya Kademangan ini menjadi abu, biarlah keluargaku selamat, meskipun aku akan ikut menjadi abu juga.”

Ki Jagabaya mengerutkan keningnya. Katanya, “Sikap itu akan sangat berpengaruh Ki Demang. Orang-orang lain akan menjadi semakin gelisah. Mungkin mereka pun akan segera mengungsi pula dari Kademangan ini.”

“Apa peduliku. Orang-orang Kademangan ini sudah tidak mau mendengar kata-kataku lagi.”

“Tetapi kau masih tetap seorang Demang disini.”

“Apakah seorang Demang tidak boleh berusaha menyelamatkan keluarganya? Sudah aku katakan, aku sendiri akan ikut menjadi abu disini bersama seluruh Kademangan karena kebodohan kalian. Tetapi tidak dengan keluargaku.”

Ki Jagabaya tidak membantah lagi. Memang itu adalah haknya. Tetapi bagi Ki Jagabaya, hal itu terasa aneh. Bukankah setiap orang sudah bertekad untuk mempertahankan Kademangan ini dengan pengorbanan apa saja.

Tetapi ternyata Ki Demang pun tidak segera melakukan maksudnya. Meskipun dari hari ke hari ia menjadi semakin jarang tampak.

Dengan demikian maka pimpinan Kademangan itu seolah-olah telah berpindah. Orang yang dalam kedudukannya masih selalu bertindak adalah Ki Jagabaya.

Namun Ki Jagabaya tidak pernah meninggalkan Ki Tambi dan Bramanti, karena Ki Jagabaya sendiri adalah seorang yang malas berpikir. Ia terlampau biasa menjalankan tugas-tugas yang telah diatur terlebih dahulu.

Sedang di lingkungan anak-anak muda dan para pengawal pengaruh Temunggul pun menjadi semakin susut. Kini mereka telah meyakini, bahwa Bramanti adalah seorang yang mengagumkan lahir dan batin. Setiap orang Kademangan Candi Sari kemudian menjadi yakin, bahwa Bramanti memang bermaksud baik. Dendam dan kebencian yang mereka cemaskan, semakin lama semakin hilang dari ingatan mereka.

“Kalau ia ingin berbuat demikian, maka Kademangan ini telah dihancurkannya,”
desis orang di dalam hatinya. (Bersambung)-m

Leave a Reply