Tanah Warisan 187

15-02-2002,  Demikianlah, maka kedudukan Bramanti semakin lama menjadi semakin mantap. Tidak ada seorang pun lagi yang dapat mengasingkannya lagi.  Namun Bramanti sama sekali tidak merubah cara hidupnya. Ia masih tetap sering duduk di  sawo, menganyam berbagai macam barang dari bambu. Keranjang, caping kuwung, dan bermacam-macam
lagi. Tetapi kini yang sering singgah ke rumahnya menjadi semakin banyak. Bukan sekadar Ki Tambi dan Panjang. Bahkan Ki Jagabaya pun sering datang ke rumah itu pula.

Dengan demikian, maka semakin banyak pula orang-orang yang sering membawa barang-barang anyaman Bramanti. Namun Bramanti memberikannya dengan senang hati, karena Bramanti sadar, bahwa bukan barang-barang itulah yang sebenarnya dikehendaki. Tetapi mereka hanya sekadar menunjukkan sikap semanak, sikap yang baik kepadanya.

Dalam pada itu, ibu Bramanti tidak henti-hentinya mengamati perubahan yang terjadi pada anak laki-lakinya. Diam-diam mengembanglah suatu kebanggaan di dalam dirinya.
Kebanggaan yang selama ini terendam dalam-dalam di dalam dadanya.

Ketika ia melihat kemenangan Bramanti, kemudian disusul dengan sikap yang berubah dari seluruh rakyat Candi Sari, maka kenangan masa lampaunya seolah-olah telah terungkat kembali. Tanpa sesadarnya perempuan itu sering membayangkan, selagi ia masih dihormati oleh seisi Kademangan.

Setelah kebanggaan itu tertekan di dalam dadanya untuk waktu yang sekian panjangnya, sepanjang umur Bramanti, maka tiba-tiba ia melihat anak laki-lakinya telah melakukan sesuatu yang tidak disangka-sangkanya. Tidak disangka-sangka olehnya dan oleh seluruh Kademangan.

“Mudah-mudahan ia mampu mengembalikan masa kebanggan itu. Masa kebesaran ayahnya,” namun angan-angannya itu tiba-tiba terputus. Kerut merut yang dalam membayang dikeningnya. “Bukan ayahnya. Tetapi ayah Panggiring,” desisnya. “Laki-laki itulah yang pernah menjadi Demang kebanggan Candi Sari. Bukan Pruwita ayah Bramanti.”

Namun dicobanya untuk menghibur dirinya, “Tetapi apakah bedanya? Bramanti adalah anaku pula, seperti Panggiring.”

Meskipun demikian, disela-sela kebanggaan yang mulai mengembang itu, terbersitlah kekecewaan yang semakin lama semakin terasa menggigit jantung.

“Bagaimanakah seandainya pada suatu saat Panggiring itu pulang? Tanah ini dan Kademangan ini akan menjadi persoalan yang dapat meretakkan dada.”

Perempuan tua itu menggelengkan kepalanya, “Tidak. Sekarang Bramantilah yang ada. Bramantilah yang mendapat kepercayaan dari rakyat Candi Sari. Dan kepercayaan itu sama sekali bukan sekadar kepercayaan yang dibuat-buat. Tetapi karena Bramanti pada suatu saat telah benar-benar melakukan sesuatu.”

Meskipun demikian, Nyai Pruwita tidak dapat menghindarkan diri dari kerisauan itu.
Kebanggaan yang bercampur baur dengan kecemasan. Harapan dan kebingungan.
Kadang-kadang ia merasakan betapa ia merindukan anaknya yang seorang lagi.
Tetapi kadang justru ia mencemaskannya kalau anaknya yang seorang itu akan datang kembali ke Kademangan ini.

Namun bagaimanapun juga ia adalah seorang ibu. Ia adalah orang yang melahirkan, betapapun bentuk dan jadinya. Panggiring adalah anaknya seperti juga Bramanti.

Tetapi yang dapat dilihatnya sehari-hari sikap yang semakin baik dari setiap orang di Candi Sari kepadanya. Kepada anaknya dan kepada keluarga yang seakan-akan telah hampir dilupakan itu.

Bramanti sendiri, kini tidak pernah lagi ragu-ragu untuk pergi kemanapun. Semua orang bersikap baik kepadanya. Anak-anak muda dan bahkan orang-orang tua. Hampir setiap hari, apabila ia telah duduk di bawah pohon sawo, dan jemu berbaring di dalam kandangnya maka ia pun kadang-adang pergi juga ke bendungan. kadang-kadang bersama-sama dengan satu dua orang anak-anak muda, tetapi kadang-kadang ia pergi sendiri. (Bersambung)-c

Leave a Reply