Tanah Warisan 188

16-02-2002,  Meskipun demikian, meskipun ia tidak mencemaskan dirinya lagi, namun apabila ia bertemu dengan Ratri hatinya selalu menjadi berdebar-debar. Bahkan kadang-kadang ia mengumpat sambil berdesis. “Semua ini adalah salah Temunggul. Kalau ia tidak mempersoalkan hubunganku dengan Ratri, aku kira akupun tidak akan terlampau banyak menaruh perhatian kepadanya. Tetapi kini agaknya telah terlanjur.”

Setiap kali ia berpapasan, maka keringatnya menjadi semakin deras mengalir.
Apalagi kalau mereka berpapasan di pematang yang sempit.

“Kemana kau Bramanti?” Ratri selalu menyapanya lebih dahulu.

Seperti kanak-kanak yang berpapasan dengan bibi yang kurang dikenalnya.
Bramanti selalu menundukkan kepalanya. Dengan jantungnya yang berdebar ia menjawab, “Aku akan ke bendungan Ratri.”

“Sendiri?”

“Ya. Dan kau?”

“Aku sudah selesai mencuci di bendungan. Kau kesiangan agaknya.”

Bramanti tidak menjawab. Ia hanya tersenyum saja.

“Bramanti,” tiba-tiba suara Ratri merendah.

Bramanti mengerutkan keningnya. Ketika ia memandang wajah gadis itu,
tampaklah ia bersungguh-sungguh.

“Apakah kau sudah mendengar berita terakhir dari Panggiring?”

Terasa dada Bramanti berdesir. Setiap kali ia bertemu dengan Ratri, maka setiap kali gadis itu bertanya tentang Panggiring. Ia sama sekali tidak senang mendengar pertanyaan itu. Bukan saja ia kurang senang mendengar nama Panggiring, tetapi lebih daripada itu,
Ratrilah yang menyebut nama itu.

Tetapi sejauh-jauh mungkin Bramanti menyembunyikan perasaannya itu, meskipun kadang-kadang terloncat juga lewat kata-katanya.

“Belum Ratri,” jawab Bramanti. “Aku belum mendengar berita tentang kakang Panggiring.”

Ratri mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan tiba-tiba ia bertanya lagi, “Bramanti,
apakah umurmu terpaut banyak dari kakakmu?”

Bramanti mengerutkan keningnya, “Kenapa?” ia bertanya.

“Tidak apa-apa,” jawab Ratri. “Ketika ia pergi, kita masih sama-sama kecil. Tetapi aku masih ingat benar, bahwa Panggiring adalah seorang anak muda yang tegap, meskipun saat ini agak
kekurus-kurusan,” Ratri berhenti sejenak lalu. “Ketika aku pertama kali melihatmu Bramanti, aku sangka kau adalah Panggiring.”

Bramanti menarik nafas.

“Hampir seperti kau inilah kira-kira, ketika ia pergi.”

“Tidak,” tiba-tiba Bramanti menjawab. “Masih jauh lebih muda dari aku sekarang.”

“Ya, ya, begitulah,” jawab Ratri. “Tetapi ia memberikan kesan yang lain dari anak-anak muda sebayanya.”

Debar di dada Bramanti menjadi semakin keras.

“Aku tidak dapat membayangkan, bagaimanakah Panggiring sekarang,” desis Ratri.

Bramanti menahan nafasnya. Ketika ia memandang wajah Ratri, tampaklah betapa angan-angan gadis itu membubung menerawang ke alam angannya.

“Bramanti,” tiba-tiba Ratri bertanya lagi. “Apakah kira-kira Panggiring juga setinggi kau?
Atau bahkan lebih tinggi lagi?”

Bramanti menggelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu Ratri. Yang aku ketahui, Panggiring sekarang adalah seorang penjahat. Seorang yang sudah terasing dari pergaulan.”

Wajah Ratri tiba-tiba menjadi suram. Dan terdengar ia bergumam seakan-akan kepada diri sendiri, “Ya. Panggiring memang seorang penjahat menurut Ki Tambi,” ia berhenti sejenak, lalu, “Tetapi apakah menurut dugaanmu seorang penjahat tidak akan dapat menjadi baik Bramanti?”

Tanpa sesadarnya Bramanti menggelengkan kepalanya sambil menjawab, “Tidak. Apalagi seorang penjahat sebesar Panggiring.”
“Jadi apakah dengan demikian kau menganggap bahwa kakakmu itu sudah hilang dan tidak akan kembali lagi?” (Bersambung)

Leave a Reply