Tanah Warisan 189

17-02-2002,  Bramanti menjadi ragu-ragu menjawab pertanyaan itu. Karena itu maka ia menggeleng sekali lagi. “Aku tidak tahu Ratri. Tetapi sebenarnyalah bahwa aku sudah tidak mengharapkannya kembali.”

Kenapa? Bukankah ia kakakmu satu-satunya?”

“Aku masih terlampau kecil untuk mengerti kenapa Panggiring saat itu tidak mau tinggal bersama kami. Tetapi suatu kenyataan bahwa ia telah pergi meninggalkan aku, ibu dan ayah.” Bramanti berhenti sejenak. Ia masih tetap ragu-ragu untuk mengatakan lebih banyak lagi tentang Panggiring.

Ratri mengangguk-anggukkan kepalanya. Sebuah kenangan telah membayang dikepalanya. Kenangan semasa kanak-kanaknya. Sejak ia masih seorang gadis kecil ia telah mengagumi seorang yang bernama Panggiring, yang ketika itu sedang meningkat remaja. Anak muda pendiam yang selalu berwajah muram. Namun pendiam itu sangat baik kepadanya.

Ia tidak menyangka, bahwa anak yang baik dan pendiam itu pada suatu saat akan dapat menjadi seorang perampok yang ganas di pesisir Utara.

Meskipun demikian, ia tidak dapat mengingkari perasaannya. Ia sendiri tidak mengerti,
kenapa ia telah dibelit oleh suatu keinginan untuk bertemu kembali dengan Panggiring setelah sekian lama berpisah.

Ratri tersadar ketika terasa panas matahari pagi menggatalkan kulitnya. Ketika dilihatnya
Bramanti berdiri kaku di hadapannya, maka ia pun tersenyum sambil berkata. “Ah, kau akan semakin kesiangan. Pergilah ke bendungan. Beberapa kawan masih di sana.
Aku pulang lebih dahulu karena ibu tidak dapat masak hari ini,
sehingga aku harus melakukannya.”

“Kenapa?”

“Pening. Ibu terlampau banyak kepanasan kemarin menunggui jemuran padi.”

“O,” Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Aku akan lewat,” tiba-tiba Ratri berdesis.

“Oh,” Bramanti tergagap. Namun ketika terpandang olehnya senyum Ratri yang cerah,
hatinya menjadi semakin berdebar-debar.

Tanpa menunggu Ratri mengulangi kata-katanya, Bramanti pun kemudian turun ke sawah yang berlumpur, sementara Ratri berjalan di sepanjang pematang.

“Terima kasih Bramanti,” katanya kemudian, “Kau sekarang tidak perlu cemas lagi, bahwa Temunggul akan membentak-bentakmu. Bukankah begitu?”

“Ah.”

Ratri tertawa kecil. Katanya kemudian, “Jangan gusar. Aku hanya bergurau saja,” kemudian agak bersungguh-sungguh Ratri berkata, “Bukankah kau akan memberitahukan kepadaku, apabila kau mendapat kabar tentang kakakmu?”

Terbata-bata Bramanti menjawab, “Ya. Ya.”

“Terima kasih,” desis Ratri sambil melanjutkan langkahnya. Sekali lagi ia berpaling sambil
melambaikan tangannya. Namun wajahnya kemudian menjadi kemerah-merahan ketika tiba-tiba seorang perempuan yang sedang mengambil daun lembayung di sawahnya mendeham beberapa kali.

Ketika Ratri berpaling perempuan itu tersenyum.

“Ah bibi,” desah Ratri.

“Kenapa?” bertanya perempuan itu sambil tertawa.

“Bibi mengejutkan aku.”

“Kau terlampau asyik saja.”

“Ah,” sekali lagi Ratri berdesah. “Bibi menggangguku.”

Perempuan itu tidak menjawab. Tangannya telah bermain kembali di atas daun-daun lembayung muda.

“Apakah kau perlu dedaunan untuk masak,” bertanya perempuan itu.

“Terima kasih bibi. Aku sudah menyuruh mengambil pula.”

Perempuan itu mengangguk-anggukkan kepalanya, dan Ratri pun kemudian berjalan menyusur pematang, menuju ke jalan pedesaan.

(Bersambung)-o

Leave a Reply