Tanah Warisan 190
Mon. December 10, 2007Categories: Tanah warisan
18-02-2002, Dalam pada itu di kejauhan seorang anak muda duduk di balik rimbunnya daun jarak di pinggir sawah. Sekali-kali wajahnya menjadi merah, namun kemudian menjadi pucat dan tertunduk lesu.
Kadang-kadang ia ingin melihat Ratri yang sedang bercakap-cakap dengan Bramanti di pematang, namun kadang-kadang ia membuang wajahnya, membenturkan pandangan matanya kepada batang-batang padi yang hijau dihadapannya.
Berbagai perasaan sedang bergolak di dalam dadanya. Ia tidak dapat melupakan Ratri begitu saja, betapapun ia sadar, bahwa jurang yang terbentang di antara mereka kini menjadi kian lebar.
Tiba-tiba anak muda itu terkejut ketika ia mendengar suara memanggilnya. “Temunggul.” Temunggul berpaling. Dan ia terperanjat ketika ia melihat Ki Demang telah berdiri di belakangnya.
“Oh, Ki Demang agaknya,” sapanya sambil berdiri.
Ki Demang tidak segera menyahut. Dipandanginya Ratri yang berjalan di kejauhan.
Semakin lama menjadi semakin jauh. Kemudian ketika ia berpaling ke arah yang lain dilihatnya Bramanti seakan-akan hilang ditelah oleh hijaunya dedaunan di sawah, ketika ia turun ke bendungan.
“Anak-anak muda itu telah mengecewakan kau bukan Temunggul?” bertanya KiDemang.
Temunggul menggigit bibirnya.
“Apakah sekarang Ratri menjauhimu?”
Temunggul masih belum menjawab.
“Kau harus berbuat sebagai seorang laki-laki,” berkata Ki Demang kemudian.
Temunggul terkejut mendengar kata-kata itu. Dengan serta merta ia bertanya, “Maksud Ki Demang?”
Ki Demang tersenyum hambar. Desisnya, “Bukankah kau mencintai Ratri?”
Temunggul tidak segera menyahut. Tetapi dadanya dijalari oleh keragu-raguan. Dipandanginya saja wajah Ki Demang dengan sorot mata keheranan.
“Benar?” desak Ki Demang.
Temunggul masih belum menjawab. Seolah-olah ia ingin meyakinkan apakah Ki Demang sebenarnya memang bertanya demikian.
“Benar begitu, Temunggul?” desak Ki Demang pula.
Perlahan-lahan Temunggul menganggukkan kepalanya, “Ya Ki Demang.”
Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Kalau kau benar-benar mencintainya, kau harus berbuat sesuatu. Kau tidak akan dapat bertopang dagu seperti yang kau lakukan itu. Meratap dan mengeluh. Kemudian bersembunyi dan menelungkup di pembaringan sambil menangis. Tidak Temunggul. Itu adalah laku seorang perempuan. Perempuanpun perempuan cengeng. Sedang kau adalah seorang laki-laki . Seorang pemimpin pengawal Kademangan ini. Apakah kau akan tinggal diam?”
Terasa sesuatu bergolak di dada Temunggul.
“Kau tahu maksudku Temunggul?”
Temunggul tidak menyahut.
Comments