Tanah Warisan 222

24-03-2002,  Sekilas dipandanginya wajah ibunya yang sayu.

Tanah Warisan 221

23-03-2002,  Bramanti menarik nafas dalam-dalam.

Tanah Warisan 220

22-03-2002,  “Terima kasih Ki Tambi. Kau akan dapat mengatakan apa yang sebenarnya kau dengar dari mulut Panggiring.

Tanah Warisan 219

21-03-2002,  Ki Tambi mengerutkan keningnya.

Tanah Warisan 218

20-03-2002,  Ki Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya.

Tanah Warisan 217

19-03-2002,  “Bukankah Nyai mengharapkan demikian? Kesempurnaan yang bulat bagi pulihnya kembali keluarga ini?”

Tanah Warisan 216

18-03-2002,  Ki Tambi tidak menjawab.

Tanah Warisan 215

17-03-2002,  Ketika ia sampai di regol rumah Bramanti, ia menjadi ragu-ragu sejenak.

Tanah Warisan 214

16-03-2002,  “Aku tidak tahu maksudnya,” desisnya, “Apakah Ki Demang takut bahwa pada suatu saat Bramanti akan mendesak kedudukannya?” Temunggul mengerutkan keningnya.

Tanah Warisan 213

14-03-2002, Ki Demang menarik nafas dalam-dalam.