Tanah Warisan 213

14-03-2002, Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Ya, ya. Tetapi jangan terlampau lama. Kalau Panembahan Sekar Jagat kehilangan kesabaran, maka ia pasti akan segera bertindak.”

Dada Temunggul berdesir mendengar kata-kata Ki Demang itu. Sekilas terbayang sebuah bayangan hitam yang tinggi dan besar berjalan di pematang seperti yang dikatakan oleh orang yang melihatnya.

“Apakah bayangan itu benar-benar Panembahan Sekar Jagat?” ia bertanya di dalam dirinya.

“Temunggul,” berkata Ki Demang, “Harus ada seorang yang bersedia berkorban untuk kepentingan Kademangan ini, tanpa mementingkan diri sendiri.

Persahabatan dan kawan baik yang bagaimanapun juga, harus dilupakan. Mungkin kau ragu-ragu karena kau merasa berhutang budi kepada Bramanti. Bramanti memang anak yang baik. Ia tidak membalas sakit hatinya kepadamu, meskipun ia pernah kau perlakukan dengan kasar. Tetapi Bramanti terlampau bodoh. Kebodohannya itulah yang berbahaya bagi Kademangan ini. Kebodohan dan kesombongannya itulah yang harus disingkirkan.”

Temunggul tidak menyahut.

“Menurut penilaianku, kau adalah seseorang yang lebih baik. Yang mementingkan Kademangan ini di atas segala-galanya. Selain kau juga akan menemukan kembali gadismu yang kini agaknya semakin dekat dengan Bramanti.”

Temunggul menarik nafas dalam-dalam. Sepercik keragu-raguan telah merambat lagi dihatinya. Setiap kali terbayang olehnya Ratri, maka setiap kali dadanya berdesir.

Tetapi Temunggul itu pun kemudian mengatupkan giginya rapat-rapat, “Aku tidak boleh hanyut oleh kata-katanya,” katanya dalam hati. “Aku harus yakin, bahwa Ki Demang mempunyai maksud-maksud tertentu. Aku hanya sekadar menjadi alatnya. Apabila sudah tidak diperlukannya lagi, biasanya alat-alat itu akan disingkirkannya pula. Demikian juga dengan aku nanti.”

Temunggul berhenti berangan-angan ketika ia mendengar Ki Demang berkata, “Apakah kau dapat berkata, “Apakah kau dapat mengerti Temunggul?”

Temunggul mengangguk-anggukkan kepalanya, “Ya Ki Demang.”

“Nah, karena itu, jangan menunda-nunda terlampau lama. Lakukanlah pada kesempatan yang pertama.”

“Ya Ki Demang. Tetapi untuk mendapatkan kesempatan itu aku agaknya menemui kesulitan.”

“Ah,” Ki Demang berdesah, “Meskipun kau tidak dapat disejajarkan dengan Bramanti apabila kau harus melawannya beradu dada, namun kau bukan seseorang yang tidak berilmu sama sekali Temunggul. Ingat, kau adalah pemimpin pengawal Kademangan ini. Itu harus kau sadari.”

Temunggul mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nasib Kademangan ini memang sebagian tergantung di tanganmu Temunggul.”

Temunggul masih mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nah, itu kawan-kawanmu datang,” desis Ki Demang. Temunggul mengangkat kepalanya. Dilihatnya dua orang anak-anak muda memasuki regol Kademangan.

“Aku akan masuk,” berkata Ki Demang.

“Kenapa? Kenapa Ki Demang akhir-akhir ini tampaknya agak berubah?” bertanya Temunggul tiba-tiba.

“Tentu,” jawab Ki Demang. “Orang-orang Kademangan ini sudah tidak mendengarkan kata-kataku lagi. Sedang aku selama ini selalu prihatin, bagaimana mungkin aku dapat menyelamatkan Kademangan ini dari kehancuran mutlak.”

Temunggul tidak menyahut.

“Pikirkanlah Temunggul. Ingat, jangan menunda waktu sampai terlambat. Tidak akan ada gunanya lagi. Kau dengar? Dan kau pun pasti sudah kehilangan gadis itu.”

“Ya Ki Demang.”

Ki Demang menepuk bahu Temunggul sambil berdiri, “Kaulah satu-satunya orang yang aku harapkan kelak.”

Temunggul tidak menjawab. Dipandangiya langkah Ki Demang satu-satu melintas ke pendapa. Kemudian hilang dibalik pintu.

(Bersambung)-e

Leave a Reply