Tanah Warisan 214

16-03-2002,  “Aku tidak tahu maksudnya,” desisnya, “Apakah Ki Demang takut bahwa pada suatu saat Bramanti akan mendesak kedudukannya?” Temunggul mengerutkan keningnya. “O, tentu. Ayah Bramanti adalah Demang Candi Sari. Karena itu, maka ia berhak atas jabatan itu.” Temunggul menarik nafas dalam-dalam. “Mungkin inilah sebabnya.”

Tetapi ketika ia berdiri, teringatlah olehnya sesuatu sehingga ia menggelengkan kepalanya, “O, bukan. Bukan ayah Bramanti. Tetapi ayah Panggiring. Ayah Panggiringlah yang pernah menjadi Demang di Candisari.”

Akhirnya Temunggul menuruni tangga pendapa itu sambil berdesah di dalam hatinya, “Aku harus mengerti latar belakang dari tindakan Ki Demang. Seharusnya ia memanfaatkan keunggulan Bramanti untuk kepentingan Kademangan ini. Bukan sebaliknya.”

Temunggul pun kemudian melangkah ke regol halaman. Kedua anak-anak muda yang baru datang itu pun sudah duduk di dalam gardu.

“Kalian baru datang?” bertanya Temunggul.

“Ya,” jawab salah seorang dari mereka.

“Semalam suntuk aku disini tanpa tidur sekejap pun. Aku menunggu kalian.”

Keduanya tersenyum. Salah seorang daripadanya menjawab, “Aku terlambat bangun. Aku pun hampir semalam tidak tidur.”

“Kenapa?”

“Kakak perempuanku melahirkan semalam.”

“O,” Temunggul mengangguk-anggukkan kepalanya,” baik-baik semuanya.”

“Ya, semuanya selamat.”

“Syukurlah. Sekarang aku akan pulang. Mandi dan tidur.”

“Baiklah,” jawab yang lain. “Tetapi begitu kau pulang, aku pasti akan sendiri sebelum kawan-kawan yang lain datang. Anak ini sebentar lagi akan segera mendekur.”

Temunggul tersenyum, katanya, “Sebentar lagi mereka akan datang. Mungkin juga Ki Jagabaya.”

Temunggul pun kemudian meninggalkan halaman Kademangan itu, langsung pulang ke rumahnya.

Sementara itu, di rumahnya Ki Tambi berbaring di amben bambu. Tetapi meskipun semalam suntuk ia tidak dapat tidur, namun sama sekali matanya tidak mau terpejam. Yang selalu terlintas di dalam kepalanya adalah pertemuannya dengan Panggiring. Pesan orang itu yang harus disampaikannya kepada keluarganya.

“Aku harus mendapat kesempatan sebaik-baiknya,” desisnya, namun kemudian, “Tetapi aku tidak dapat menunggu terlalu lama. Apabila pada suatu ketika seseorang dapat mengenali wajah Panggiring, dan bahkan terjadi salah paham, maka semuanya akan menjadi semakin kisruh.”

Ki Tambi menarik nafas dalam-dalam. Tanpa sesadarnya ia meraba kantong ikat pinggang kulitnya. Diambilnya sebuah lencana bergambar sebuah candi. Lencana Panggiring yang mengerikan di pesisir Utara. Tetapi beberapa saat yang lampau. Ternyata Panggiring sudah lenyap dari dunianya. Diketahui atau tidak diketahui oleh orang-orangnya. Namun pada suatu saat mereka akan segera menyadari, bahwa Panggiring sudah tidak ada lagi di antara mereka.

“Pada suatu saat salah seorang dari anak buahnya pasti akan mencarinya kemari,” berkata orang tua itu di dalam hatinya. “Sebab ada di antara mereka yang mengetahui, bahwa Panggiring berasal dari Kademangan ini.”

“Semuanya harus segera aku lakukan,” desis Ki Tambi.

Tiba-tiba Ki Tambi itu pun bangkit dari pembaringannya. Dengan tergesa-gesa ia pergi ke sumur mencuci mukanya. Setelah membenahi pakaiannya, maka ia pun segera melangkah keluar rumahnya sambil menyambar senjatanya.

“Sebaiknya aku menemui Nyai Pruwita dahulu. Aku harus memberitahukan kepadanya, bahwa anaknya telah berada di daerah ini meskipun belum bersedia menampakkan dirinya karena berbagai pertimbangan.”

Ki Tambi pun kemudian melangkahkan kakinya disepanjang jalan padukuhan dengan kepala tunduk. Ia masih mereka-reka kalimat yang akan diucapkannya dihadapan ibu Panggiring nanti.

“Bagaimana kalau Bramanti ada dirumah pula?,” ia bertanya kepada dirinya sendiri, “Terpaksa tertunda lagi. Tetapi aku harus mendapatkan kesempatan itu.”

Leave a Reply