Tanah Warisan 216
18-03-2002, Ki Tambi tidak menjawab. Tetapi ia tertawa berkepanjangan. Bramanti pun kemudian pergi ke Bendungan. Ditinggalkannya Ki Tambi bersama ibunya, duduk di pringgitan.
“Lama kita tidak saling berbincang tentang apa saja,” berkata Ki Tambi.
“Aku sudah terlampau biasa hidup seorang diri,” desis Nyi Pruwita. “Karena itu, aku sama sekali sudah tidak mengenal kesepian lagi.”
“Tetapi sekarang semua itu akan segera berubah.”
“Kenapa?”
“Ternyata Bramanti berhasil menumbuhkan kepercayaan rakyat Candisari kepada keluarga ini.”
Nyai Pruwita mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya. Aku memang merasakan, lambat laun sikap orang-orang di sekitar rumah ini telah berubah.”
“Bersyukurlah karena Nyai mempunyai anak seperti Bramanti. Ia adalah anak muda yang mengagumkan. Bahkan hampir-hampir sempurna. Ia adalah seorang yang luar biasa. Mumpuni dalam olah kanuragan. Namun kelebihan yang lain, anak itu rendah hati.”
Ibu Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya. Terasa kebanggaan di dalam dadanya mengembang. Jawabnya, “Mudah-mudahan keluarga kami tidak semakin tenggelam.”
“Tentu tidak. Aku pasti. Kademangan ini pada suatu saat pasti menggantungkan diri kepada perlindungannya. Kini pengaruhnya menjadi semakin dalam, meskipun Bramanti sendiri sama sekali tidak berhasrat mendesak kedudukan siapapun.”
“Tentu. Bramanti tidak ingin kedudukan apapun. Aku selalu berpesan kepadanya, jangan mengecewakan apa lagi merugikan orang lain. Seseorang dapat saja mendorong dirinya sendiri untuk maju di dalam segala bidang, tetapi ia jangan mengorbankan orang lain untuk kepentingan itu.”
Ki Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya. “Dan Bramanti selalu mematahi pesan-pesan itu,” Ki Tambi berhenti sejenak, lalu, “Kini Bramanti sedang memilih beberapa anak-anak muda yang terbaik, termasuk Temunggul, untuk diajarnya memimpin para pengawal, membela diri mereka sendiri dan Kademangan ini. Setiap kali mereka berada di Kademangan, maka meskipun hanya sebentar, mereka memerlukan waktu. Di halaman belakang yang terpisah, mereka berlatih sebaik-baiknya.”
Perempuan itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kembali kenangan lamanya membayang dipelupuk matanya. Di halaman rumah ini pun dahulu anak-anak muda selalu berkumpul. Melatih diri dan olah kanuragan. Bukan itu saja. Pendapa ini pun selalu dipakai oleh beberapa gadis dan anak-anak muda yang berlatih menari.
Tetapi ibu Bramanti tidak merindukan masa-masa itu lagi. Sudah dikatakannya, bahwa Bramanti tidak sebaiknya berusaha mendesak kedudukan orang lain. Ia dapat berbuat baik tanpa kedudukan apapun. Dan namanya dapat dikenal oleh setiap orang Candisari tanpa menjadi bebahu Kademangan yang manapun.
Sementara itu Ki Tambi masih saja mengangguk-angguk meskipun kepalanya kini tertunduk. Hatinya serasa menjadi semakin berdebar-debar. Ia sedang mencari kesempatan untuk mengatakan pesan Panggiring kepada perempuan itu.
“Ki Tambi,” berkata Nyai Pruwita kemudian, “Aku juga menitipkan anak itu kepadamu. Bukankah kau sering berada bersamanya di Kademangan? Ia harus tetap menjadi anak yang baik apapun yang pernah dilakukannya.”
“Tentu, tentu,” Ki Tambi tergagap. Namun kemudian ia tertunduk lagi sambil mengangguk-angguk.
Tetapi Ki Tambi merasa bahwa ia tidak akan dapat berbuat serupa itu untuk seterusnya. Ia harus mengatakannya. Lambat atau cepat.
“Nyai,” akhirnya dipaksanya juga mulutnya berbicara, “Ternyata Bramanti telah membuat hati setiap orang berbangga. Bukan saja ibunya, aku dan kawan-kawannya.”
Nyai Pruwita mengerutkan keningnya. Ia merasakan nada suara Ki Tambi agak berubah. Tetapi perempuan tua itu tidak segera menyahut.
“Keluarga ini lambat laun telah menjadi pusat perhatian rakyat Candisari, seperti beberapa puluh tahun yang lampau.”
Ibu Bramanti masih tetap diam.
(Bersambung)-o
Posted on December 16th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan 219 Views





Leave a Reply