Tanah Warisan 217
19-03-2002, “Bukankah Nyai mengharapkan demikian? Kesempurnaan yang bulat bagi pulihnya kembali keluarga ini?” “Ah, itu tidak mungkin Ki Tambi,” sahut perempuan itu, “Yang lampau biarlah lampau. Aku bersyukur dan berterima kasih, bahwa aku kini sudah tidak berpisah lagi dari tetangga di sekitarku. Itu sudah cukup untuk saat ini.”
Ki Tambi menarik nafas dalam-dalam. Memang sulit untuk memulainya. Bahkan agaknya ia sudah hampir tersesat jalan pada langkahnya yang pertama.
“Bukan begitu Nyai,” jawab Ki Tambi. “Sudah tentu keluarga yang bulat, yang masih mungkin dapat dicapai. Yang sudah tidak ada sudah tentu tidak akan dapat kembali. Tetapi yang masih ada itulah yang dirindukannya.”
“Maksudmu?”
“Seandainya, seandainya Nyai, keluarga ini berkumpul kembali, bukankah kebanggaan Nyai akan menjadi sempurna?”
“Maksudmu apabila Panggiring ada di rumah ini pula?”
“Misalnya Nyai.”
Perempuan tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kepala itu tertunduk. Dengan nada yang dalam ia bertanya, “Kenapa tiba-tiba saja kau bertanya tentang Panggiring?”
Dada Ki Tambi berdesir mendengar pertanyaan itu. Sejenak ia terdiam, dipandanginya wajah perempuan tua yang berkerut-merut itu. Kemudian dengan hati-hati ia menganggukkan kepalanya sambil menjawab, “Ya, begitulah. Tiba-tiba saja aku membayangkan, alangkah senangnya rakyat Kademangan Candisari apabila keduanya ada disini. Keduanya bersama-sama melindungi rakyat yang masih dalam ketakutan ini.”
Wajah perempuan tua itu menjadi semakin berkerut-merut. Secercah kekecewaan mengambang disorot matanya. Sambil menggeleng lemah ia berkata, “Jangan membicarakan anak-anakku. Tetapi aku tidak dapat melepaskan diri dari kenyataan.”
“Kenyataan yang mana Nyai?”
“Panggiring agaknya menjadi semakin jauh dari keluarga kecil ini. Bahkan dari Kademangan Candisari.”
“Tidak Nyai, Nyai keliru. Panggiring tidak pernah menjauhkan dirinya dari Kademangan ini. Pada saat Kademangan ini dilanda oleh ketakutan, ia sudah berusaha mengirimkan orang untuk menemui Panembahan Sekar Jagat. Ia minta agar Panembahan Sekar Jagat menghentikan perbuatannya, meskipun usaha itu sampai pada saat ini belum berhasil. Tetapi usaha itu baik juga dilakukan, berbareng dengan usaha Bramanti yang lebih nyata di Kademangan ini sendiri,” Ki Tambi berhenti sejenak, kemudian, “Bahkan untuk lebih dekat dari kampung halamannya, ia telah membuat lencana-lencana bergambar candi. Maksudnya sudah jelas, bahwa ia harus selalu ingat tanah yang ditinggalkannya.”
Perempuan tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Ya. Mungkin ia bebuat begitu. Tetapi di samping itu, perbuatan-perbuatannya telah menumbuhkan jurang yang dalam di antara rakyat Candisari dan Panggiring. Itulah bujur lintangnya keluarga kecil ini Ki Tambi. Di satu pihak Bramanti berusaha dengan susah payah, mendekatkan diri kepada rakyat Candisari, di lain pihak Panggiring telah melakukan perbuatan-perbuatan tercela. Dan jurang itu pun agaknya telah menganga pula di antara kami sendiri. Di antara Bramanti dan Panggiring.”
Ki Tambi menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat kesulitan yang memang bakal datang.
“Tetapi jalan hidup seseorang kadang-kadang dapat berubah. Aku pernah melihat perubahan-perubahan yang terjadi, bahkan dengan tiba-tiba dan tidak terduga-duga. Panggiring pada dasarnya bukan orang jahat. Garis keturunannya bukan pula orang jahat.”
“Jangan membicarakan keturunan. Jika demikian kau akan menghukum orang-orang yang tidak bersalah hanya karena keturunan.”
“Ya, ya. Aku keliru. Maksudku, bagaimana kalau pada suatu saat Panggiring datang dengan hati yang sudah berubah?”
“Jangan kita pikirkan sekarang, Ki Tambi. Kalau pada suatu saat Panggiring datang dengan wajah dan hatinya yang baru, kita akan menyesuaikan dengan keadaan pada saat itu. Kita akan melihat perkembangan keadaan Bramanti, dan mungkin dengan hati-hati kita dapat menempatkan persoalannya pada tempat yang sewajarnya.”
Posted on December 16th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan 180 Views





Leave a Reply