Tanah Warisan 218

20-03-2002,  Ki Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan tiba-tiba saja ia bertanya, “Tetapi apakah pada suatu saat Nyai tidak pernah merindukannya.”
Dengan serta-merta Nyai Pruwita mengangkat wajahnya. Sorot matanya serasa langsung menusuk ke jantung Ki Tambi. Terdengar suara perempuan itu gemetar, “Ki Tambi. Sebaiknya kau tidak menanyakan hal itu. Kau bukan seorang perempuan. Karena itu kau tidak merasakan betapa pahit perasaan seorang ibu menghadapi keadaan seperti keadaanku. Tidak ada seorang ibu yang wajar, tidak merindukan anak-anaknya, betapapun juga sifat, keadaan dan kelakuan anak itu. Bahkan seandainya anak itu akan membunuhnya sekalipun.”

“Maaf, maaf Nyai. Aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu. Sama sekali tidak,” Ki Tambi berhenti sejenak. Namun ia memutuskan untuk mengatakannya. Ia tidak mau melingkar semakin jauh, supaya ia tidak lebih banyak membuat kesalahan-kesalahan.

Karena itu maka katanya, “Nyai. Apaboleh buat. Tetapi aku harus mengatakannya, bahwa Panggiring sekarang sudah berada di Kademangan ini.”

Kata-kata Ki Tambi itu ternyata telah menggoncangkan hati perempuan tua itu. Sejenak ia mematung. Darahnya serasa telah terhenti mengalir. Karena itu, maka ia sama sekali tidak segera dapat menjawab sepatah katapun.

Tambi pun kemudian terdiam. Ia memberi kesempatan Nyai Pruwita untuk mengendapkan perasaannya yang agaknya sedang terguncang.

Dalam kesenyapan itu terdengar suara burung perenjak berkicau di atas batang-batang perdu di halaman. Melonjak-lonjak dengan riangnya. Meloncat dari satu dahan ke dahan yang lain.

Sejenak kemudian dengan terbata-bata perempuan tua itu bertanya, “Apakah kau berkata sebenarnya Ki Tambi?”

Ki Tambi mengangguk, “Ya Nyai. Aku berkata sebenarnya.”

Perlahan-lahan kepala Nyai Pruwita tertunduk. Tertunduk dalam-dalam. Betapapun ia bertahan, namun titik-titik air matanya telah jatuh satu-satu di pangkuannya.

“Begitu cepat, Ki Tambi,” desis Nyai Pruwita.

Ki Tambi tidak menjawab.

“Begitu cepat aku harus menjawab persoalan ini.”

Ki Tambi masih tetap berdiam diri. Dan perempuan tua itu pun terdiam pula. Yang terdengar adalah isak halus yang tertahan-tahan.

“Ki Tambi,” berkata Nyai Pruwita itu kemudian. “Adalah suatu kebahagiaan apabila aku dapat menyambut anakku itu memasuki rumah ini.”

Ki Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya. “Apakah hal itu tidak dapat kau lakukan Nyai? Maksudku, apakah Bramanti tidak dapat diajak berbicara dengan baik? Bramanti adalah anak yang rendah hati. Anak yang baik. Mungkin ia dapat mengerti, apa yang kau risaukan.”

Perempuan tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi keragu-raguan masih tetap membayang di wajahnya.

“Dimana anak itu sekarang Ki Tambi?” ia bertanya.

“Ia berada di seberang kali Kuning, Nyai.”

“Disembarang kali Kuning? Pada siapa ia tinggal disana?”

“Tidak ada siapapun juga. Ia tinggal di hutan rindang itu. Tetapi jangan kau cemaskan. Sudah menjadi kebiasaannya hidup disembarang tempat. Hal itu tidak akan membuatnya sakit. Badan maupun hatinya. Tetapi ia menyimpan suatu pengharapan, bahwa ia dapat diterima, hidup di antara masyarakat sewajarnya. Itulah pesan yang harus aku sampaikan kepadamu Nyai.”

“Apakah kau sudah bertemu dengan anak itu?”

“Panggiring menemui aku di tengah sawah tanpa seorang pun yang mengetahuinya.”

Perempuan tua itu mengangguk-angguk. Kemudian ia pun bertanya, “Apakah katanya?”

“Nyai,” jawab Ki Tambi sambil bergeser sejengkal. “Panggiring ingin hidup seperti manusia sewajarnya. Ia berpesan kepadaku, apakah kau dan Bramanti dapat bermurah hati memberinya secuil tanah untuk mendirikan sebuah gubug kecil? Ia akan tinggal di Kademangan ini. Hidup disini, di tanah kelahirannya. Ia akan bekerja sebagai apapun juga. Menjadi orang upahan di sawah, mengangkut kayu atau apapun juga.”

“Oh,” titik air dari mata Nyai Pruwita menjadi semakin keras. “Bagaimana dengan cara hidupnya yang lama?”
(Bersambung)-m

Leave a Reply