Tanah Warisan 219

21-03-2002,  Ki Tambi mengerutkan keningnya. Kemudian diceriterakannya tentang perempuan tua yang kehilangan anaknya karena dibunuh oleh Panggiring sendiri. Diceriterakannya, betapa hatinya menjadi luluh.

“Panggiring sebagai seorang perampok yang dahsyat sudah mati,” desis Ki Tambi kemudian.

Nyai Pruwita mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku bersyukur kepada Tuhan, bahwa anakku telah direngut-Nya dari dunia yang hitam,” Nyai Pruwita berhenti sejenak, lalu, “Tetapi bagaimana dengan keluarga ini?”

“Nyai,” berkata Ki Tambi, “Berkatalah kepada Bramanti. Aku mengharap bahwa ia dapat mengerti.”

Nyai Pruwita menarik nafas dalam-dalam. Terbayang kembali dua dunia yang pernah dihuninya. Terbayang wajah dua orang laki-laki jantan yang pernah singgah dihatinya.

“Alangkah nistanya aku,” tangisnya di dalam hati. “Sekarang aku harus menghadapi persoalan yang paling sulit. Dua orang anak laki-laki jantan seperti ayahnya masing-masing. Tetapi justru perbedaan ayah itulah yang menjadi soal.”

Kembali mereka terlempar dalam kebekuan. Ki Tambi menundukkan kepalanya, sedang Nyai Pruwita sekali-kali mengusap matanya yang basah.

Berbagai kemungkinan telah membayang di angan-angannya. Sekali tampak olehnya wajah Bramanti yang tersenyum, namun sejenak kemudian wajah itu menjadi buram.

“Aku sama sekali tidak dapat menduga, apa yang akan dikatakannya,” desis perempuan tua itu.

Ki Tambi menarik nafas dalam-dalam. Ia dapat mengerti betapa sulitnya masalah yang dihadapi oleh Nyai Pruwita.

“Tetapi aku adalah ibunya,” berkata perempuan itu kemudian, “Apapun yang akan terjadi, adalah kuwajibanku untuk berusaha.”

Ki Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya. Itu adalah pendidian seorang ibu. Meskipun anaknya telah dewasa, dan bahkan telah lama tidak pernah dilihatnya, namun pada suatu saat dimana diperlukan, maka seorang ibu masih juga berkata, “Aku adalah ibunya.”

Bahkan seandainya masih juga mungkin, anak itu pasti masih akan ditimangnya di pangkuan.

“Aku berdosa,” berkata Ki Tambi. “Mudah-mudahan tidak akan ada kesulitan apapun juga.”

Perempuan tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kapan Nyai berkesempatan untuk memberitahukan kepadaku, supaya apabila Panggiring menemuiku setiap saat aku akan dapat memberikan jawabannya.”

“Aku akan berusaha secepatnya Ki Tambi,” jawab ibu Bramanti. “Tetapi aku mengharap kau menemani aku. Mungkin akan mendapatkan kesulitan untuk mengatakannya. Dalam keadaan yang demikian, kau akan dapat membantuku Ki Tambi.”

Ki Tambi tidak segera menjawab. Ia sama sekali tidak berkeberatan untuk membantu Nyai Pruwita menyatakan maksud Panggiring, tetapi kapan?

Nya Pruwita yang masih dibayangi oleh kegelisahan dan kecemasan itu berkata,” Kapan kau dapat datang lagi?”

“Setiap saat Nyai.”

“Semakin cepat memang semakin baik Ki Tambi. Aku akan segera menemukan kepastian. Tidak lagi terumbang-ambing oleh ketidaktentuan seperti saat ini.”

“Ya, itu akan lebih baik.”

“Bagaimana kalau kau menunggu sejenak, sampai Bramanti pulang dari bendungan?”

“Sekarang?”

“Ya sekarang.”

“Apakah kita sudah siap untuk mengatakannya?”

Perempuan itu menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya kemudian, “Aku kira tidak ada bedanya. Kita tinggal mengatakannya. Masalah selanjutnya akan tergantung sekali pada sikap Bramanti.”

Tambi mengangguk-angguk pula, “Ya, memang tergantung sekali pada sikap Bramanti.”

“Jadi bagaimana? Apakah kita akan menunggunya sekarang?”

Tambi menjadi ragu-ragu sejenak. Kemudian jawabnya, “Baiklah Nyai, mumpung aku tidak mempunyai pekerjaan lain hari ini.”

Leave a Reply