Tanah Warisan 221
23-03-2002, Bramanti menarik nafas dalam-dalam. Dan tiba-tiba saja jawabnya telah mengejutkan Ki Tambi dan ibunya, sehingga sejenak merekalah yang kemudian membeku. Bahkan serasa jantung mereka pun berhenti berdetak.
“Aku sudah mendengar semuanya paman.”
Ki Tambi yang membeku itu kemudian berusaha mengatur perasaannya. Ketika dadanya telah mulai menjadi tenang, ia bertanya, “Apakah yang telah kau dengar Bramanti?”
“Kakang Panggiring telah datang. Bukankah begitu? Bukankah ia ingin tinggal di Kademangan ini pula, dan bahkan di atas tanahku ini?”
“Darimana kau tahu?” bertanya ibunya terbata-bata.
“Aku tidak pergi ke bendungan. Ketika aku melihat kelainan sikap paman Tambi, aku mencoba mendengar pembicaraan paman dan ibu. Mula-mula aku tidak bermaksud mendengarkan seluruhnya. Aku hanya sekadar ingin tahu. Tetapi yang paman bicarakan dengan ibu ternyata telah sangat menarik perhatianku.”
Ibu Bramanti itu berdesah. Darahnya menjadi semakin cepat mengalir seluruh tubuhnya.
“Karena itu, aku telah mendengar seluruh pembicaraan ibu dengan paman, sehingga paman Tambi tidak usah mengulanginya lagi.”
Tambi seakan-akan memang telah terbungkam. Dipandanginya saja wajah Bramanti tanpa berkedip.
Ternyata setelah berhadapan langsung dengan anak muda itu, ibu Bramantilah yang berhasil cepat menguasai perasaannya. Karena bagaimana pun juga Bramanti adalah anaknya, sehingga jalinan hubungan di antara mereka, jauh lebih rapat dari pada Ki Tambi. Sehingga dengan demikian, maka betapapun lambatnya, namun Bramanti mendengar ibunya bertanya, “Kalau kau sudah mendengar Bramanti, bagaimanakah jawabanmu?”
Bramanti tidak segera menjawab. Wajahnya menjadi semakin buram, dan dadanya menjadi semakin bergetar.
Pertanyaan serupa itu adalah pertanyaan yang paling sulit baginya. Sekilas terbayang di dalam angan-angannya, seorang perampok berambut panjang, berkumis dan bercambang. Dengan kasar ia merenggut nyawa orang-orang yang telah dipilih menjadi korbannya. Tanpa belas kasihan ia memeras, mengancam, membunuh dan segala macam kekejaman-kekejaman yang lain.
Bramanti menarik nafas dalam-dalam. Terngiang di telinganya kata-kata Ki Tambi, bahwa Panggiring kini telah meninggalkan dunianya. Namun ia berkata di dalam hatinya, “Aku tidak yakin, bahwa orang yang telah menghayati hidup seperti kakang Panggiring itu dapat meninggalkan cara hidup yang demikian. Kakang Panggiring adalah perampok yang lebih kasar dan lebih buas dari Panembahan Sekar Jagat. Mungkin ia baru terguncang oleh suatu peristiwa yang dapat menyentuh jantungnya, tetapi pada suatu saat ia pasti akan kambuh lagi. Jika demikian, maka Kademangan ini pasti akan ditelannya. Seluruhnya, dan jauh lebih serakah dari Panembahan Sekar Jagat.”
Bramanti mengangkat wajahnya ketika ia mendengar ibunya mendesah, “Bagaimana Bramanti? Apakah kau dapat mengerti?”
Bramanti mengerutkan keningnya. Sekilas berdesir kecemasan tentang Kademangan, tentang halaman dan rumahnya yang kemudian mengguncang dadanya adalah tentang Ratri.
“Ratri selalu bertanya tentang Panggiring,” katanya di dalam hati. “Gila. Kenapa orang itu yang diharapkannya pulang? Pada saat kakang Panggiring pergi, Ratri masih seorang gadis kecil. Perasaan apakah yang telah membelit dihatinya saat itu sehingga seakan-akan ia telah merindukannya?”
Bramanti mengumpat di dalam hati. Sekali lagi ia menyalahkan Temunggul yang terlampau berprasangka kepadanya.
“Aku kini harus mengalami, disiksa oleh perasaan itu seperti yang pernah dialami oleh Temunggul, dan bahkan yang sampai saat ini masih juga dideritanya.”
Sekali lagi Bramanti menarik nafas ketika ibunya mendesaknya, “Bramanti. Aku mengharap bahwa kau dapat mengerti perasaanku. Aku adalah seorang ibu. Ibumu, namun juga ibu Panggiring.”
(Bersambung)-m
Posted on December 16th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan 231 Views





Leave a Reply