Tanah Warisan 222

Sun. December 16, 2007
Categories: Tanah warisan

24-03-2002,  Sekilas dipandanginya wajah ibunya yang sayu. Kemudian wajah Ki Tambi yang menegang. “Ibu,” berkata Bramanti kemudian, “Aku dapat mengerti perasaan ibu. Tetapi aku mengharap bahwa ibu pun mempertimbangkan masak-masak. Apakah kehadiran kakang Panggiring di Kademangan ini tidak akan menambah kesulitan kita semua?

Aku tidak yakin bahwa sebenarnya itu. Mungkin sehari dua hari, tetapi pada suatu saat ia akan kambuh kembali.” “Aku akan selalu berusaha Bramanti, agar ia tetap menjadi bagian dari keluarga kita. Bagian yang tidak akan mengotori nama yang selama ini telah kau bersihkan itu.” Bramanti menggeleng perlahan-lahan, “Ibu, apakah yang telah dilakukan oleh kakang Panggiring selama ini telah cukup meyakinkan. Sejak ia lari dari keluarga ini, maka kakang Panggiring telah dengan sengaja memisahkan dirinya. Pada saat itu keluar ini masih utuh. Tetapi kakang Panggiring sama sekali tidak berusaha menyesuaikan dirinya.

Ia terlampau bengal dan penentang. Aku tidak tahu benar apa yang telah terjadi saat itu ibu, tetapi aku tahu pasti bahwa Panggiring telah berani menentang ayah dan pasti telah meninggalkan ibu beserta keluarga ini,” Bramanti berhenti sejenak, kemudian, “Setelah kakang Panggiring seakan-akan telah hilang dari Kademangan ini dan hilang dari keluarga kita.

Apakah yang telah dilakukannya itu adalah suatu jalan yang dibuatnya sendiri, yang membawanya semakin lama semakin jauh dari ibu. Sekarang, setelah semuanya seakan-akan pulih kembali, meskipun tidak semua segi, terutama kita tidak akan dapat menjadi seorang yang kaya seperti pada jaman itu, tetapi nama keluarga ini lambat laun akan menjadi semakin baik di hati rakyat Kademangan Candisari. Dan pada saat yang demikian kakang Panggiring itu kembali dengan membawa noda pada namanya,

”Bramanti berhenti sejenak. Terasa dadanya berdesir ketika ia melihat setitik air dipelupuk mata ibunya. “Ibu,” Bramanti bergeser maju, “Aku sama sekali tidak ingin menyakiti hati ibu. Aku tahu, bahwa kakang Panggiring adalah anak ibu seperti aku, yang berhak menerima kasih sayang ibu seperti aku pula.

Tetapi kakang Panggiring sama sekali tidak pernah memikirkan ibu. Ia lebih tua daripadaku. Seharusnya ia mengetahui apa yang telah terjadi atas keluarga ini dan berusaha menolongnya. Tetapi justru ia berbuat lain.

Justru ia menjadi seorang perampok yang buas dan liar di pesisir Utara,” Bramanti berhenti sejenak, kemudian tiba-tiba saja nada suaranya meninggi. “Ibu, apakah yang pernah dilakukannya bagi ibu? Apa? Apakah ia pernah menunjukkan bakti seorang anak laki-laki terhadap ibunya?” “Sudahlah Bramanti, sudahlah,” potong ibunya. Ia tidak dapat menahan tangisnya lagi, sehingga titik air matanya semakin deras menetes dipangkuannya.

Bramanti pun kemudian menundukkan kepalanya. Sekali lagi ia berdesir perlahan-lahan, “Maafkan aku ibu.” Tambi menarik nafas dalam-dalam. Dengan suara yang datar ia mencoba untuk ikut berbicara. “Tetapi kakakmu sudah menyesali semua perbuatan itu Bramanti. Seharusnya kau memberi kesempatan kepadanya. Kalau ia benar-benar menjadi seorang yang baik, maka keluarga ini akan menjadi utuh kembali. Lebih daripada itu, Kademangan Candisari akan menjadi Kademangan yang kuat, yang akan dengan mudah dapat menghindarkan dirinya dari pemerasan Panembahan Sekar Jagat.” “Tidak mungkin,” sahut Bramanti cepat-cepat, “Justru kakang Panggiringlah yang akan memeras Kademangan ini sampai kering. Bagiku paman, lebih baik aku bertempur melawan Panembahan Sekar Jagat. Aku dapat mempertaruhkan nyawaku. Tetapi bagaimana dengan kakang Panggiring seandainya ia melakukan hal yang serupa disini? Apakah aku harus berkelahi melawannya?” Tambi tidak menjawab. “Aku dapat dengan dada terbuka membinasakan Panambehan Sekar Jagat apabila aku mampu, tetapi kakang Panggiring adalah putra ibu seperti aku.” (Bersambung)-o

Comments