Tanah Warisan 223

25-03-2002,  Tambi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak segera menyahut. Ia dapat merasakan betapa pedih hati Nyai Pruwita. Tetapi ia tidak dapat membantunya lebih banyak daripada mencoba meyakinkan Bramanti bahwa Panggiring benar-benar akan berusaha memperbaiki dirinya.

“Paman,” berkata Bramanti, “Sebaiknya paman mengatakan kepada kakang Panggiring, untuk kepentingannya dan kepentingan keluarga yang sedang akan bangkit ini, lebih baik ia meninggalkan Kademangan Candisari.”

“Bramanti,” potong ibunya.

Bramanti berpaling. Ditatapnya ibunya yang masih menitikkan air matanya.

“Ibu, aku kira ini adalah jalan yang paling baik buat kita semuanya. Kakang Panggiring sebaiknya berada di tempat yang baru sama sekali, yang belum mengenalnya. Ia akan mendapat penghargaan yang wajar apabila ia benar-benar akan meninggalkan cara hidupnya itu. Ia akan menjadi warga tempat yang baru itu sebagai warga yang baik. Tetapi di sini, setiap orang akan berprasangka kepadanya.”

“Jadi, maksudmu kau telah menolak kedatangan kakakmu di rumah ini?”

Bramanti menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Sebaiknya, ibu. Sebaiknya kakang Panggiring tidak kembali.”

“Bramanti, itukah keputusanmu?”

Bramanti tidak menjawab. Tetapi kepalanya teranguk kecil.

Tiba-tiba tangis perempuan itu pun seakan-akan tercurah tanpa dapat ditahannya lagi. Betapa ia menyesali semua peristiwa yang pernah dilaluinya. Terbayang kembali berbagai macam tata kehidupan yang pernah dialaminya. Semakin lama menjadi semakin jelas.

Tetapi perempuan itu tidak dapat mengatakannya kepada Bramanti. Ia tidak sampai hati melukai hati anak yang baik itu. Tetapi apakah ia harus melepaskan Panggiring begitu saja dari hatinya?

Di antara isak tangis Nyai Pruwita itu terdengar suara Ki Tambi, “Bramanti, kalau kita lepaskan Panggiring itu ke mana ia kehendaki, maka pada suatu saat ia akan dengan mudah masuk kembali ke dalam dunianya yang hitam. Kita belum tahu, apakah yang dapat ditemuinya di daerahnya yang baru itu. Tetapi di sini, hampir setiap orang sudah dikenalnya. Justru kesediaannya mengakui kesalahannya tanpa bersembunyi itu adalah pertanda bahwa ia telah benar-benar berusaha menghentikan tata cara hidupnya yang kotor itu. Di antara kita, ia akan selalu dapat diperingatkan, bahwa jalannya telah tersesat.”

Tetapi Bramanti menggelengkan kepalanya. Dipandanginya ibunya yang sedang menangis. Tampaklah keningnya menjadi tegang. Perlahan-lahan ia berkata, “Paman. Aku tidak akan dapat mempertanggungjawabkannya. Mungkin sehari dua hari kita dapat memberinya peringatan. Tetapi pada hari-hari berikutnya, apabila ia telah jemu dengan pekerjaan yang didapatnya di Kademangan ini, dan apalagi apabila satu dua orang kawan-kawannya mencarinya, maka Kademangan inilah yang akan menjadi korban,” Bramanti berhenti sejenak, lalu, “Akhir-akhir ini dengan susah payah kita telah berusaha melawan Panembahan Sekar Jagat. Apakah kita akan mengundang lawan di dalam selimut sendiri?”

Ki Tambi menarik nafas dalam-dalam sambil menggelengkan kepalanya. Orang tua itu menjadi kehilangan harapan untuk dapat membujuk Bramanti. Karena itu, maka ia pun tidak mendesaknya lagi.

Sementara itu ibu Bramanti masih juga terisak. Hatinya serasa menjadi terluka.

“Ibu,” berkata Bramanti, “Aku sama sekali tidak ingin melukai hati ibu. Namun sebaiknya ibu tidak sekadar berbicara dengan perasaan seorang ibu, tetapi aku berharap ibu memandang ke dalam lingkungan yang lebih luas. Lingkungan keluarga kita yang kecil dan keluarga seluruh Kademangan Candisari.”

Ibunya sama sekali tidak menjawab.

“Aku minta maaf ibu, bahwa kali ini aku terpaksa menyulitkan perasaan ibu. Tetapi aku harap ibu pun dapat mengerti.”

Ibunya masih tetap berdiam diri.

Leave a Reply