Tanah Warisan 224
26-03-2002, Bramanti pun kemudian terdiam untuk sejenak. Betapa berat perasaannya menghadapi persoalan yang ternyata datang terlampau cepat untuk dipecahkannya. Di kepalanya seakan-akan berputar bayang-bayang kakaknya Panggiring, ibunya, Ki Tambi, dan bahkan ayahnya yang sudah tidak ada lagi. Meskipun sudah terlampau lama peristiwa itu terjadi, namun seakan-akan tergambar jelas betapa buruknya hubungan antara kakaknya Panggiring dengan ayahnya itu.
Dan yang semakin jelas pula, mengatasi semuanya adalah bayangan Ratri yang selalu bertanya kepadanya, “Kapan Panggiring kembali?”
“Tidak,” ia menggeram di dalam hatinya, “Panggiring tidak akan kembali.”
Bramanti mengangkat kepalanya ketika ia mendengar suara ibunya di antara isak tangisnya, “Jadi kau sudah mengambil keputusan, Bramanti?”
“Terpaksa ibu. Aku tidak bersikap lain.”
Ibunya menarik nafas dalam-dalam. Apaboleh buat. Kalau ia memaksa Bramanti untuk menerima Panggiring, maka akibatnya akan semakin parah. Seandainya keduanya berkeras hati, maka akan mungkin sekali terjadi benturan di antara mereka. Siapa yang menang dan siapa yang kalah, baginya akan sama saja akibatnya. Keduanya adalah anak-anaknya. Karena itu, biarlah ia mengorbankan dirinya. Ia sendiri yang akan menolak kedatangan Panggiring. Biarlah ia memikul akibat dari penolakan itu. Biarlah Panggiring marah kepadanya. Dengan demikian ia akan dapat menghindarkan pertengkaran antara kedua anaknya.
Karena itu, ketika ia sudah tidak dapat mengharap untuk membuka hati Bramanti, perempuan tua itu pun berkata kepada Ki Tambi, “Ki Tambi, aku sudah berusaha untuk meyakinkan Bramanti, bahwa sebaiknya Panggiring dapat diterima. Tetapi ia mempunyai alasan-alasan untuk menolaknya. Karena itu, maka sebaiknya Ki Tambi mengatakan kepadanya, bahwa sebaiknya ia mencari tempat yang lain. Katakan kepadanya bahwa aku, ibunya, bersyukur kepada Tuhan, bahwa ia telah meninggalkan dunianya yang kelam itu. Namun sayang, bahwa rumah ini tidak dapat menampungnya lagi.”
Ki Tambi menundukkan kepalanya. Alangkah beratnya untuk mengatakan hal itu kepada Panggiring. Ia adalah orang yang menyebut dengan penuh pengharapan, agar Panggiring dapat mengisi Kademangannya yang sedang selalu diganggu oleh Panembahan Sekar Jagat. Tetapi ia gagal.
Terbersit sepercik kekecewaan Ki Tambi atas Bramanti yang selama ini dikaguminya. Memang, orang tua itu pun menyadari, tidak ada seorang pun yang sempurna, dalam segala hal. Bramanti yang rendah hati, berperasaan halus yang tidak mendendam meskipun ayahnya telah terbunuh dengan cara yang mengerikan, tetapi ia tidak dapat membuka hatinya untuk menerima kakaknya. Kakak seibu.
Tetapi Ki Tambi dan ibunya tidak dapat melihat isi hati Bramanti dalam keseluruhan. Mereka tidak dapat melihat alasan-alasan yang sebenarnya tersembunyi di dalam hati anak muda itu.
“Ki Tambi,” berkata Nyai Pruwita, “Temuilah anak itu sekali lagi. Katakanlah kepadanya, akulah yang berkeberatan untuk menerimanya.”
“Bukan ibu,” potong Bramanti, “Akulah yang berkeberatan.”
“Itu tidak bijaksana Bramanti. Panggiring akan dapat mendendammu. Tetapi tidak demikian kepadaku.”
“Apakah salahnya kalau ia memang akan mendendamku ibu? Aku sama sekali tidak berkeberatan.”
“Bramanti,” suara perempuan itu menjadi parau, “Agaknya kaulah yang mendendamnya.”
Bramanti terperanjat, “Kenapa aku mendendamnya?” Aku tidak mendendam kepada siapapun juga ibu. Bahkan kepada orang-orang yang telah membunuh ayahku.”
“Kalau begitu, kau harus melepaskan setiap persoalan dengan kakakmu. Biarlah aku yang menolaknya,” kemudian kepada Ki Tambi ia berkata, “Ingat Ki Tambi. Akulah yang menolaknya.”
(Bersambung)-m
Posted on December 18th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan 213 Views





Leave a Reply