Tanah Warisan 225
27-03-2002, Ketika Bramanti akan menyahut, ibunya cepat-cepat mendahuluinya, “Jangan menolak Bramanti.” Bramanti menarik nafas dalam-dalam.
Ki Tambi masih saja menundukkan kepalanya. Tetapi ia menangkap maksud Nyai Pruwita, sehingga karena itu, meskipun ia tidak menjawab, namun kepalanya terangguk-angguk kecil.
“Begitulah Ki Tambi,” berkata Nyai Pruwita kemudian, “Agaknya Bramanti sudah tidak akan merubah pendiriannya.”
“Maaf ibu,” sahut Bramanti, “Aku terpaksa.”
Ibunya mengangguk-anggukkan kepalanya. “Karena itu, biarlah pamanmu Tambi berusaha untuk bertemu lagi dengan Panggiring.”
“Baiklah,” berkata Ki Tambi, “Aku akan menemuinya. Aku akan menyampaikan keputusan kalian seperti pesan Nyai.”
“Terima kasih Ki Tambi,” desis perempuan tua itu.
“Aku minta diri. Aku kira tidak ada lagi yang harus dibicarakan.”
Nyai Pruwita mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Sudahlah Nyai,” kemudian kepada Bramanti ia berkata, “Baik-baiklah menjaga ibumu Bramanti.”
Bramanti mengerutkan keningnya. Tetapi ia menangkap kesan yang aneh pada pesan Ki Tambi itu. Dan kesan itu ternyata tetap tergores didinding jantungnya.
Sepeninggalan Ki Tambi, Bramanti pun turun ke halaman. Seperti biasanya ia pergi ke kandang. Tetapi terasa kini betapa sepi halaman rumahnya yang demikian luasnya.
Terbayang wajah Ki Tambi yang kecewa. Dan Bramanti pun kemudian terbaring di atas setumpuk jerami sambil mencoba melihat ke dalam dirinya sendiri.
“Paman Tambi pasti menjadi kecewa,” katanya di dalam hati. “Tetapi apaboleh buat. Aku tidak dapat berbuat lain. Tetapi pada saatnya ia akan menyadari, bahwa aku telah bertindak tepat.”
Namun kemudian terngiang juga suatu tuduhan dalam dasar hatinya, “Kau terlampau mementingkan dirimu sendiri Bramanti. Bukankah kau menjadi cemburu, bahwa setiap kali Ratri selalu bertanya kepadamu tentang Panggiring, dan bukankah kau pernah juga mendengar bahwa ayah Panggiring, suami ibumu sebelum ia kawin dengan ayahmu adalah seorang Demang. Demang Kademangan Candisari.”
“Tidak, tidak.” Bramanti menggeram, “Aku tidak memikirkan itu semua. Aku memikirkan masa depan Kademangan ini.”
Tetapi bagaimana pun juga Bramanti tidak dapat menghindarkan diri dari pergolakan yang terjadi di dalam dirinya. Ia menyadari bahwa dengan demikian ia telah menyakiti hati ibunya. Selama ini ia berusaha untuk menyenangkan hati perempuan tua itu. Menumbuhkan kembali kebanggaan serta kepercayaan kepada diri dan keluarganya. Namun tiba-tiba ia sendirilah yang telah merobek kegembiraan yang sedang mulai dinikmatinya.
“Apaboleh buat, apaboleh buat. Aku telah melakukannya dengan terpaksa sekali.”
Posted on December 18th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan 207 Views





Leave a Reply