Tanah Warisan 226
28-03-2002, Dalam pada itu, Ki Tambi pun melangkah dengan tergesa-gesa pulang ke rumahnya. Ia menjadi kecewa. Kecewa sekali. Tetapi ia tidak dapat berbuat lain daripada menyampaikannya kepada Panggiring, yang tentu akan menjadi sangat kecewa pula. Anak itu merasa bahwa dunia di luar dunianya yang hitam itu ternyata tidak dapat menerimanya kembali.
“Kalau kekecewaannya itu telah mengguncangkan perasaannya, maka ia akan segera terlempar kembali ke dalam dunianya yang lama, justru dengan dendam yang semakin parah di dalam dirinya, terhadap dunian diluarnya,” berkata Ki Tambi di dalam hatinya.
“Kasihan perempuan itu,” desisnya.
Ketika seseorang menyapanya, Ki Tambi menjadi terperanjat, sehingga terbata-bata ia menjawab, “O, aku baru dari rumah Bramanti.”
Sambil mengerutkan keningnya orang itu bertanya, “Kenapa begitu tergesa-gesa?”
“Tidak. Aku tidak tergesa-gesa.”
Orang itu tersenyum. Dan Ki Tambi pun mencoba untuk tersenyum pula.
Malam-malam berikutnya, dengan dada berdebar-debar Ki Tambi selalu berada di sawahnya, menunggu kalau-kalau Panggiring menemuinya, sehingga hampir setiap malam ia terlambat sekali pergi ke Kademangan.
Perubahan itu ditangkap oleh Bramanti, sebagai suatu pernyataan kecewa Ki Tambi atas sikapnya. Betapapun, namun Bramanti setiap kali harus berdesis, “Apaboleh buat. Apaboleh buat.”
Dengan demikian, maka hubungan antara anak muda itu dengan Ki Tambi menjadi agak kaku karenanya.
Namun Ki Tambi adalah orang tua yang bijaksana. Selagi ia menyadari dirinya, maka ia selalu mencoba menghilangkan semua kesan yang ada padanya tentang kecewa yang tergores di dalam dadanya. Ia berusaha untuk tidak merubah sikapnya, kebiasaan-kebiasaan yang lain-lain, dan pembicaraan-pembicaraan, setiap ia bertemu dengan Bramanti. Tetapi satu yang tidak dapat disembunyikan, bahwa ia menjadi selalu lambat datang ke kademangan. Bahkan kadang-kadang hampir pagi ia baru muncul memasuki halaman.
Beberapa malam berturut-turut dengan gelisah Ki Tambi selalu duduk saja di pematang sawahnya. Kadang-kadang saja ia bangkit dan berjalan mondar-mandir. Namun sampai hari keempat, Panggiring masih juga belum menemuinya lagi.
“Apakah anak itu sudah dapat menduga, bahwa permintaannya itu akan ditolak?” desis Ki Tambi, kemudian, “Kasihan.”
Tetapi pada malam berikutnya, dengan dada berdebar-debar Ki Tambi melihat sesosok tubuh berjalan menyusur pematang mendekatinya. Ternyata bahwa orang itu adalah Panggiring.
“Kau Panggiring?” bertanya Ki Tambi.
“Ya paman.”
“Kemarilah, duduklah.”
Langkah Panggiring yang ragu itu sangat terkesan di hati Ki Tambi. Sama sekali bukan langkah seorang perampok yang pernah menguasai daerah yang luas di pesisir Utara. Langkah itu adalah langkah seorang yang penuh dengan kebimbangan dan kecemasan di dalam dirinya, tanpa kepercayaan kepada diri sendiri.
“Duduklah.”
“Terima kasih paman,” jawab Panggiring sambil duduk.
“Aku menunggumu setiap malam disini,” berkata Ki Tambi.
“Aku ragu-ragu paman,” jawab Panggiring, “Ketika aku menemui paman beberapa malam yang lampau, beberapa orang melihatku dan menyapaku.”
Ki Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Untunglah bahwa aku berhasil bersembunyi.”
Ki Tambi masih mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Kemudian aku melihat pengawasan yang semakin ketat disetiap malam. Sehingga aku memerlukan waktu untuk mencari celah-celah penjagaan dan pengawasan itu.”
“Ya,” jawab Ki Tambi, “Orang itu telah melaporkan kepada Bramanti dan kemudian telah di dengar oleh Ki Jagabaya pula. Temunggul, pemimpin pengawal Kademangan telah mengatur penjagaan yang lebih ketat lagi. Tetapi aku yakin bahwa kau akan dapat menemukan celah-celah dari penjagaan itu, seperti ternyata pada malam ini.”
(Bersambung)-m
Posted on December 18th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan 226 Views





Leave a Reply