Tanah Warisan 227

30-03-2002,  “Ya paman,” sahut Panggiring, “Aku memang mengharap segera dapat menemui paman. Aku ingin segera mendengar penjelasan ibu dan Bramanti tentang permintaanku.”

Ki Tambi menarik nafas dalam-dalam.

“Apakah paman telah sempat menyampaikannya.”

“Ya ngger. Aku sudah menyampaikan kepada mereka.”

“Lalu?”

Ki Tambi tidak segera menjawab. Debar di dadanya terasa semakin tajam mengguncang-guncang jantungnya.

“Apakah jawab ibu dan Bramanti paman?”

Ki Tambi masih berdiam diri. Terasa tenggorokannya seperti tersumbat. Kalimat-kalimat yang sudah disusunnya sama sekali tidak mampu dilontarkannya lewat mulutnya.

Namun Ki Tambi itu terperanjat ketika ia mendengar Panggiring berkata, “Aku sudah menduga paman, bahwa ibu dan Bramanti tidak dapat menerima aku kembali. Bukankah begitu?”

“Dari mana kau tahu Panggiring?” bertanya Ki Tambi dengan serta merta.

“Aku hanya menduga paman. Tetapi agaknya demikianlah yang sebenarnya telah terjadi.”

“Tetapi, kau dapat tinggal dirumahku Panggiring. Aku mempunyai rumah meskipun tidak begitu baik dan besar. Tetapi cukup untuk menerima kau. Bukankah kau hanya seorang diri?” Ki Tambi terdiam sejenak, dan suaranya menjadi parau. “Atau, kau dapat mengambil halamanku secukupnya. Halamanku pun cukup luas. Kau dapat membuat sebuah pondok kecil di halaman rumahku. Pondok seperti kau inginkan, yang akan kau buat di halaman rumah Bramanti.”

Panggiring menarik nafas dalam-dalam. Katanya dengan nada yang dalam, “Terima kasih paman. Aku sangat berterima kasih kepada paman Tambi. Tetapi aku terpaksa tidak dapat menerimanya.”

“Kenapa?”

“Adalah kurang bijaksana bagiku, apabila aku tinggal di rumah orang lain, sedang di Kademangan yang sama keluargaku bertempat tinggal.”

“Tetapi, itu tidak apa Panggiring. Kau sudah mencoba menghubungi keluargamu. Tetapi keluargamu menolak.

“Penolakan ibu dan Bramanti itu wajar sekali paman. Aku sama sekali tidak bersakit hati. Aku memang anak yang sudah terbuang.”

“Ah,” Ki Tambi berdesis, “Tidak. Bukan begitu. Tinggallah di rumahku sehari dua hari.”

“Terima kasih paman.”

“Tetapi, kalau kau menolak tinggal bersamaku, kemana kau akan pergi?”

Panggiring tidak segera menjawab.

“Panggiring,” berkata Ki Tambi. “Sebenarnya penolakan ibumu itu ada juga alasannya. Ibumu ingin agar kau bertempat tinggal di tempat yang sama sekali tidak mengenal kau. Kau akan dapat hidup sewajarnya tanpa prasangka apapun seperti kau tinggal di Kademangan Candisari.”

Panggiring mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Ibu memang benar.”

Ki Tambi mengerutkan keningnya. Ia yakin akan kata-kata Panggiring itu. Namun kemudian Panggiring meneruskan, “Di Kademangan ini, yang setiap orang sudah mengenal aku di masa aku remaja, pasti akan selalu berprasangka, dan bahkan mencurigaiku,” Panggiring mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ibu memang bijaksana. Terlalu bijaksana. Akulah yang bodoh, yang selama ini tidak pernah sempat membuka mata dan hati. Aku tidak pernah berbuat sesuatu untuk ibu dan keluargaku. Adalah sepantasnya bahwa aku tidak akan segera dapat diterimanya.”

Ki Tambi menggigit bibirnya menahan haru. Terngiang kata-kata Bramanti, bahwa kakaknya sama sekali belum pernah berbuat apapun untuk ibunya. Meskipun Panggiring tidak mendengar kata-kata itu diucapkan, namun ia telah menyatakan pengakuannya. Pengakuan yang jujur dan bersih.

“Tetapi itu tidak perlu kau lakukan Panggiring. Kau lebih baik tinggal bersamaku. Betapapun besarnya prasangka orang-orang disekitarmu, tetapi kalau kau berhasil membuktikan bahwa kau telah berubah, maka semuanya akan menjadi baik. Seperti juga sikap orang-orang Candisari terhadap Bramanti.”
(Bersambung)-o

Leave a Reply