Tanah Warisan 228

31-03-2002,  Panggiring mengerutkan keningnya, “Bagaimana dengan Bramanti?”
“Semua orang berprasangka juga kepadanya. Orang menyangka bahwa ia akan membalas dendam atas kematian ayahnya. Tetapi pada suatu saat, orang-orang menaruh hormat kepadanya, karena ia dapat membuktikan bahwa ia tidak akan membalas dendam seperti yang disangka orang.
Panggiring mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian ia berkata, “Terima kasih paman. Terima kasih. Aku lebih condongg untuk mendengar nasehat itu. Paman jangan takut bahwa aku akan kembali ke pesisir Utara, dan akan terjun ke dalam dunia yang kotor itu. Tidak paman. Aku sudah berjanji untuk melepaskan senjataku dan mencuci tanganku.”

Ki Tambi menarik nafas dalam-dalam.

“Namun meskipun demikian paman,” berkata Panggiring, “Apakah paman sudi menolongku sekali lagi?”

“Tentu, tentu Panggiring. Apakah yang kau perlukan?”

“Meskipun ibu dan Bramanti menolak aku tinggal bersama mereka, namun apakah mereka tidak berkeberatan apabila aku berkunjung meskipun hanya sekejap. Aku ingin bertemu dengan ibu dan melihat, betapa Bramanti sekarang, setelah ia menjadi seorang anak muda yang perkasa itu.”

Ki Tambi mengerutkan keningnya.

“Kalau ibu dan Bramanti tidak berkeberatan, aku akan datang meskipun hanya sekejap. Tetapi kalau ibu dan Bramanti tidak dapat menerima aku, maka biarlah aku menitipkan bakti dan salamku kepada ibu dan Bramanti.”

“Aku akan menyampaikannya Panggiring,” jawab Ki Tambi, “Aku kira, mereka tidak akan berkeberatan apapun. Mereka pasti akan menerimamu.”

“Mudah-mudahan paman. Tetapi sebenarnyalah aku telah menjadi terlampau kotor bagi mereka. Bagi ibu dan bagi Bramanti.”

“Tidak, tentu tidak.”

“Paman terlampau baik kepadaku. Aku tidak akan melupakannya seumur hidupku paman.”

“Ah,” desah Ki Tambi, “Apa yang telah aku lakukan sama sekali tidak berarti dibanding dengan nyawaku yang telah kau selamatkan.”

Panggiring mengerutkan keningnya. “Namun paman telah melihat pula, alangkah kotornya duniaku saat itu.” Panggiring berhenti sejenak, lalu, “Nah, paman. Aku minta diri. Aku akan menemui paman besok malam. Aku mengharap bahwa meskipun untuk sekejap, aku dapat bertemu dengan ibu dan Bramanti.”

“Baiklah Panggiring, aku akan menyampaikannya. Besok aku dapat memberimu penjelasan.”

“Terima kasih paman. Aku minta diri, sebelum ada orang lain yang melihatku, berkeliaran di pematang sawah paman Tambi, supaya paman Tambi tidak menjadi ajang pertanyaan.”

“Baiklah. Hati-hatilah Panggiring.”

Panggiring mengangguk, kemudian melangkah sambil berdesis, “Selamat malam paman.”

Panggiring pun kemudian meninggalkan Ki Tambi yang kini berdiri termangu-mangu. Dipandanginya langkah anak muda itu. Langkah yang gontai. Sama sekali bukan langkah seorang yang berilmu demikian tinggi.

Ketika Panggiring telah hilang di dalam gelapnya malam, maka Ki Tambi meninggalkan sawahnya pula. Dengan kepala tunduk ia berjalan ke Kademangan. Di pojok desa ia bertemu dengan dua orang pengawal yang mendapat tugas untuk mengawasi keadaan, dan bahkan diregol jalan padukuhan ia bertemu dengan Temunggul dan Ki Jabagaya sendiri.

“Malam begini sepi,” desis Ki Jagabaya, “Apakah kau bertemu dengan bayangan hitam yang tinggi dan besar?”

Ki Tambi mengerutkan keningnya. Kemudian menggelengkan kepalanya, “Tidak Ki Jagabaya. Aku tidak bertemu dengan siapapun selain dua orang pengawal dipojok desa.”

Keduanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan Temunggul pun bertanya, “Sekarang Ki Tambi akan kemana?”

“Aku akan pergi ke Kademangan, siapakah yang ada disana?” (Bersambung)-m

Leave a Reply