Tanah Warisan 229

01-04-2002,  “Bramanti, dan beberapa anak-anak muda.” Ki Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya. “Baiklah. Aku akan menemui Bramanti.”
Temunggul mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Namun ia berdesis, “Ki Tambi. Aku kira Ki Tambi adalah orang yang dekat dengan Bramanti.”

“Kenapa?”

“Tiga empat hari terakhir, anak muda itu kelihatannya agak lain dari kebiasaannya. Ia menjadi murung dan seakan-akan selalu dibayangi oleh kegelisahan.”

“He,” Ki Tambi mengerutkan keningnya. Pertanyaan itu sama sekali tidak diduganya. Ternyata ia tidak melihat perubahan itu karena hatinya sendiri sedang gelisah. Beberapa malam ia tidak lama berada di Kademangan bersama-sama dengan Bramanti. Ia sendiri lebih sering berada di sawah menunggu Panggiring.

“Apakah kau tidak salah lihat Temunggul?” bertanya Ki Tambi.

“Tidak Ti Tambi. Bukan hanya aku saja yang merasakan kelainan sikap itu. Tetapi beberapa orang anak-anak yang lain.”

“Siapa?”

“Para pengawal.”

Ki Tambi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku akan menemuinya dan bertanya kepadanya.”

“Silakan Ki Tambi, supaya kami tidak menjadi gelisah pula karenanya. Bramanti adalah anak muda yang paling mungkin kami harapkan untuk melindungi kami seisi Kademangan. Kalau ia kecewa karena sesuatu, maka kami pun akan menjadi kecewa pula.”

“Ya, ya. Aku akan bertanya langsung dan berterus terang kepadanya, supaya kami dapat membantunya.”

Ki Tambi pun kemudian meninggalkan Temunggul dan Ki Jagabaya, dan berjalan dengan tergesa-gesa ke Kademangan. Namun langkahnya kemudian melambat, ketika ia bertanya pada diri sendiri. “Kenapa aku tergesa-gesa? Bukankah aku tidak akan bertanya kepada Bramanti, kenapa ia menjadi murung?”

Ki Tambi menarik nafas dalam-dalam. Dan langkahnya pun kemudian tidak lagi seperti diburu oleh waktu.

Di regol itu Temunggul memandang langkah Ki Tambi sampai hilang dibalik kegelapan. Perlahan-lahan ia berdesis, “Ki Tambi akhir-akhir ini kelihatannya juga menjadi gelisah.”

Ki Jagabaya mengangguk, “Ya. Aku juga melihat.”

“Kita tidak tahu, apakah yang telah menggelisahkannya. Tetapi seandainya mereka telah mendengar bahwa Panembahan Sekar Jagat sendiri akan datang, kita wajib bersiap-siap.”

“Tetapi mereka pasti akan mengatakannya kepada kita.”

“Mungkin Bramanti menjaga agar kita tidak menjadi gelisah pula karenanya.”

Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian ia menggeram, “Persetan. Mari kita berjalan terus. Kalau-kalau kita bertemu dengan orang yang tinggi besar itu.”

Temunggul tidak menjawab. Diikutinya saja langkah Ki Jagabaya menyusur jalan dipinggir padukuhan.

Sementara itu Bramanti duduk termenung di tangga Kademangan. Beberapa anak-anak muda yang sedang berada di Kademangan itu telah tertidur. Satu dua di antara mereka yang bertugas duduk terkantuk-kantuk di gardu di samping regol.

Ketika angin malam yang dingin menyentuh wajah Bramanti, terasa kesegaran udara seakan-akan merasuk sampai ke tulang. Perlahan-lahan Bramanti berdiri sambil menarik nafas dalam-dalam. Selangkah ia berjalan, kemudian berhenti menatap bintang-bintang yang bertaburan dilangit.

Namun hatinya yang gelisah masih saja menyentuh-nyentuh perasaannya. Ia tidak dapat melupakan kehadiran Panggiring di Kademangan ini. Dan ia tidak yakin bahwa Panggiring akan dengan senang hati menerima penolakannya meskipun Ki Tambi akan mengatakan kepadanya, bahwa ibunyalah yang berkeberatan akan kehadirannya. (Bersambung

Leave a Reply